Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lopinavir/ritonavir mengurangi risiko malaria pada anak dengan HIV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Carole Leach Tgl. laporan: 7 Maret 2012

Anak dengan HIV yang menggunakan lopinavir/ritonavir (LPV/r, atau Kaletra) di Tororo, Uganda, daerah dengan penularan malaria yang tinggi memiliki risiko yang jauh lebih rendah dari terkena malaria, dibandingkan dengan mereka yang menggunakan rejimen berbasis non-nucleoside reverse transcriptase (NNRTI). Para peneliti melaporkan hal ini pada 19th Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections di Seattle.

Dalam percobaan label terbuka dan acak yang terdiri dari 170 anak, yang rata-rata berusia tiga tahun, rejimen berbasis LPV/r dikaitkan dengan penurunan 59% dalam risiko malaria berulang setelah pengobatan dengan artemeter-lumefantrine (HR = 0,41 , 95% CI: 0,2-0,76, p = 0,004).

Malaria dan HIV, di sub-Sahara Afrika khususnya, menyebabkan angka kematian dan penyakit yang signifikan. Terlepas dari upaya perlindungan, termasuk profilaksis kotrimoksazol dan kelambu yang diberikan insektisida, orang yang terinfeksi HIV di daerah endemik malaria terus memiliki tingkat malaria yang lebih tinggi. Di daerah prevalensi tinggi, upaya perlindungan tambahan akan sangat berharga.

Dalam presentasinya, peneliti Jane Achan mencatat bahwa HIV dan parasit malaria memanfaatkan protease kelas aspartat. Penelitian secara in vitro telah menunjukkan aktivitas antimalaria dari beberapa kelas protease inhibitor (PI).

Meningkatnya ketersediaan PI di rangkaian miskin sumber daya menunjukkan potensi penggunaan strategis mereka dalam tinggi daerah endemis malaria, ia mencatat.

Dr. Achan dan rekan-rekannya memilih untuk menguji hipotesis bahwa kejadian malaria pada anak yang terinfeksi HIV yang menerima terapi antiretroviral (ART) berbasis LPV/r akan jauh lebih rendah dibandingkan anak yang menerima rejimen ART berbasis NNRTI.

Anak yang terinfeksi HIV berusia dua bulan sampai lima tahun, dan sudah menggunakan rejimen berbasis NNRTI atau memenuhi syarat untuk ART dan dengan viral load di bawah 400, diacak untuk menerima ART berbasis LPV/r (ditambah dengan dua NRTI) atau berbasis dua NNRTI (nevirapine atau efavirenz ditambah dengan dua NRTI) dan diikuti selama dua tahun.

Semua perawatan kesehatan diberikan di klinik penelitian, yang buka setiap hari. Semua anak menerima profilaksis kotrimoksazol dan kelambu berinsektisida, standar perawatan di Uganda. Malaria didiagnosis berdasarkan riwayat demam dan sekaan darah. Malaria tanpa komplikasi diobati dengan artemeter-lumefantrine (AL), pengobatan lini pertama untuk malaria di Uganda.

Setelah diagnosis malaria, anak-anak menghadiri klinik pada hari ke 1, 2, 3, 7, 14, 21 dan 28. Tingkat lumefantrine diukur pada hari ke 7. Tingkat lumefantrine pada hari ke 7 telah terbukti menjadi prediktor independen untuk malaria.

Sebanyak 67% dari anak yang terdaftar antara September 2009 dan Juli 2011 tidak pernah menggunakan ART. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam karakteristik awal antara kedua kelompok. Median persentase CD4 adalah antara 14% (2 sampai 44%) untuk lengan LPV/r dan 16% (2 sampai 43%) untuk lengan NNRTI.

Kejadian malaria secara signifikan lebih tinggi pada kelompok NNRTI dibandingkan dengan kelompok LPV/r: 2,25 dibandingkan 1,32 episode per orang-tahun (insiden tingkat rasio (IRR): 0,59, CI 95%: 0,36-0,97, p = 0,04). Oleh karena itu, ART berbasis LPV/r dikaitkan dengan penurunan 41% pada kejadian malaria, dibandingkan dengan rejimen berbasis NNRTI.

Dalam mengevaluasi penjelasan yang mungkin untuk hasil ini, Dr. Achan dan rekannya melihat efek pencegahan LPV/r dengan mengukur kejadian episode pertama malaria. Langkah ini akan mengabaikan setiap interaksi obat-obat yang dapat mempengaruhi hasil. Rejimen berbasis LPV/r dikaitkan dengan penurunan 29%yang tidak bermakna dalam risiko episode pertama malaria (HR = 0,71, CI 95%: 0,45-1,12, p = 0,14).

Namun, setelah pengobatan dengan artemeter-lumefantrine, LPV/r memiliki efek yang signifikan pada pengurangan risiko untuk malaria berulang. Dr. Achan mencatat bahwa lopinavir adalah penghambat yang diketahui untuk jalur CYP 3A4 yang terlibat dalam metabolisme lumefantrine.

Tingkat lumefantrine rata-rata dalam darah pada hari ke 7 setelah pengobatan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok LPV/r dibandingkan dengan kelompok NNRTI: IQR: 926 (473-1910) dan 200 (108-510), p = <0,0001, masing-masing. Tingkat lumefantrine yang lebih tinggi tampaknya mendorong faktor perlindungan terhadap malaria.

Di lengan LPV/r saja, di mana tingkat lumefantrine hari 7 dalam darah adalah lebih dari 300 ng/mL, terjadi penurunan lebih besar dari 85% dalam risiko malaria yang berulang dalam waktu 63 hari setelah mulai pengobatan. Pengurangan risiko adalah tergantung dosis, dibandingkan dengan tingkat di bawah 300 ng/mL pada hari ke 7.

Tingkat 280 ng/mL dan di atas dianggap memberikan perlindungan antimalaria yang lebih baik.

Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam risiko untuk efek samping setelah pengobatan antimalaria dalam dua lengan. Efek samping peningkatan pada enzim hati lebih umum pada kelompok NNRTI, sementara rasa gatal lebih umum pada kelompok LPV/r. Tidak ada bukti dari toksisitas pada jantung.

Dr. Achan menyimpulkan bahwa anak yang diobati dengan rejimen berbasis LPV/r memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk terkena malaria dibandingkan dengan anak yang menggunakan rejimen berbasis NNRTI sebagai akibat dari tiga mekanisme potensial:

Ia mencatat, temuan ini menunjukkan peran untuk penguat efek farmakokinetik sebagai cara untuk mengurangi beban malaria di pengaturan endemis tinggi di antara orang yang terinfeksi HIV.

Ringkasan: Lopinavir/ritonavir cuts malaria risk in children with HIV

Sumber: Achan J et al. Significant reduction in risk of malaria among HIV+ children receiving loopinavir/ritonavir-based ART compared to NNRTI-based ART, a randomised open-label trial. 19th Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections, Seattle, abstract 26, 2012.

Edit terakhir: 3 April 2012