Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Studi menunjukkan bagaimana interferon melawan HIV dan HCV pada pasien koinfeksi Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: hivandhepatitis.com Tgl. laporan: 6 Maret 2012

Interferon, sebuah obat yang secara umum digunakan untuk mengobati virus hepatitis C (HCV), juga aktif melawan HIV. Sebuah studi baru menyoroti bagaimana interferon bekerja. Studi ini diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 21 Februari 2012.

Melihat orang dengan koinfeksi HIV/HCV di Swiss HIV Cohort Study, para peneliti menunjukkan bagaimana interferon – bahan kimia untuk kekebalan tubuh buatan – berinteraksi dengan faktor batasan APOBEC3 dan tetherin untuk menjaga HIV.

Di bawah ini adalah kutipan yang diedit dari siaran pers UCSF yang menggambarkan studi dan temuannya.

Melawan infeksi: Obat lama mengungkapkan trik baru

Studi yang dipimpin UCSF menunjukkan bagaimana interferon bekerja untuk menekan virus pada pasien dengan HIV dan Hepatitis.

Sebuah obat baru yang dulu digunakan oleh orang dengan HIV namun tidak lagi digunakan karena munculnya terapi antiretroviral yang lebih baru menjadi tersedia sekarang menjelaskan bagaimana tubuh manusia menggunakan kekebalan alami untuk melawan virus – pekerjaan yang dapat membantu menemukan target obat baru.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan secara online dalam jurnal PNAS, sebuah kelompok dari peneliti AS dan Swiss yang dipimpin oleh peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) menyajikan penilaian klinis pertama mengenai bagaimana obat ini melawan infeksi. Obat yang disebut interferon ini adalah produk bioteknologi yang didasarkan pada sebuah protein yang dihasilkan oleh tubuh manusia secara alami untuk melawan infeksi.

Sementara interferon yang dimurnikan diberikan pada orang dengan HIV/AIDS di awal epidemi karena meringankan banyak gejala penyakit, modus kerjanya adalah sesuatu yang belum pernah diketahui.

“Tidak ada yang mengetahui bagaimana obat ini bekerja, Satish K. Pillai, PhD, pemimpin peneliti dan wakil profesor kedokteran di UCSF dan San Francisco VA Medical Center mengatakan.

Percobaan di laboratorium dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bagaimana interferon bekerja untuk menekan HIV in vitro, namun tidak ada bukti klinis sampai sekarang yang menunjukkan bagaimana obat ini menyerang HIV pada pasien yang diobati. Masalahnya adalah hanya sangat sedikit orang dengan HIV yang masih menggunakan interferon. Namun, interferon masih digunakan dalam kombinasi obat lain untuk mengobati HCV, yang memberikan kemungkinan pada tim peneliti untuk menilai dampaknya pada HIV.

Interferon pada umumnya digunakan untuk mengobati orang dengan HCV, dan Pillai dan rekannya mampu mengidentifikasi 20 orang yang mendaftar di Swiss HIV Cohort Study, yang dimulai pada tahun 1988, yang memiliki hepatitis C dan HIV. Semuanya menggunakan interferon untuk mengobati HCV mereka namun tidak ada yang menerima terapi antiretroviral untuk mengobati HIV. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengkaji bagaimana interferon bekerja untuk menekan HIV.

Bagaimana interferon bekerja

Studi baru ini menjelaskan komponen yang agak misterius dari sistem kekebalan tubuh yang diketahui sebagai faktor pembatas, dimana bahan kimia diproduksi tubuh untuk menjaga virus seperti HIV dan mencegah mereka dari menginfeksi sel lain.

Ini hanya dua front dalam keseluruhan pertempuran antara HIV dan sistem kekebalan tubuh – pertempuran dimana sistem kekebalan tubuh berusaha untuk menghancurkan virus sementara virus terus melawan dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh.

Tidak seperti bagian lain dari sistem kekebalan tubuh, dimana sel menelan patogen atau menyerang sel lain, aksi dari faktor pembatas ini lebih halus dan terlokalisasi dalam sel yang terinfeksi itu sendiri – salah satu alasan para ilmuwan tidak menghargai apa yang mereka lakukan sampai beberapa tahun lalu.

Salah satunya, yang disebut APOBEC3, memerangi virus dengan cara diam-diam melompat ke partikel virus yang baru ketika mereka terbentuk. Di dalamnya, protein APOBEC3 menipu bahan genetik HIV dengan cara memutasikannya. Ketika virus mencoba untuk menginfeksinya sel yang lain, virus tersebut tidak lagi memiliki potensi untuk bereplikasi.

Faktor lain, yang disebut tetherin, mengambil pendekatan yang lebih langsung. Faktor ini menempel pada partikel virus saat mereka muncul dari sel yang terinfeksi di tubuh dan benar-benar menjaga mereka di tempat, mencegah partikel virus untuk bergerak di tempat lain dalam tubuh di mana mereka dapat menginfeksi sel baru.

HIV sendiri untuk memiliki cara untuk menggagalkan pertahanan ini. Ini menghasilkan protein yang dikenal sebagai VPU yang menetralkan tetherin. Protein lain HIV, yang disebut VIF, merongrong APOBEC.

Dalam studi baru, Pillai dan rekannya menunjukkan bahwa interferon memerangi HIV dengan memediasi aksi kedua faktor pembatas ini. Mereka mengumpulkan sampel dari 20 pasien dan mengukur tingkat APOBEC3 dan tetherin sebelum, selama dan setelah mereka menggunakan interferon. Tingkat APOBEC3 dan tetherin meningkat sebagai tanggapan terhadap interferon ketika obat itu berada dalam aliran darah, dan pasien dengan tingkat faktor pembatas tertinggi menunjukkan penurunan yang paling terjal dari viral load HIV selama pengobatan dengan interferon.

Sementara wawasan ini tidak segera menyarankan obat baru atau cara baru untuk mengobati orang dengan HIV, Pillai mengatakan para ilmuwan yang dipersenjatai dengan pengetahuan ini mungkin suatu hari mencari cara untuk meningkatkan mekanisme pertahanan dan secara khusus meningkatkan ekspresi faktor pembatas seperti tetherin dan APOBEC3 bagi individu yang terinfeksi dengan HIV-1.

Jika faktor ini dapat diberikan pada tingkat yang lebih tinggi, serangan mereka pada virus dapat menjadi lebih kuat – bahkan mungkin dapat menanggulangi HIV dan membantu mengeluarkan virus dari sel yang terinfeksi.

Ringkasan: Study Shows How Interferon Fights HIV Along with HCV In Coinfected Patients

Sumber: SK Pillai, M Abdel-Mohsen, J Guatelli, et al. Role of retroviral restriction factors in the interferon-a–mediated suppression of HIV-1 in vivo. Proceedings of the National Academy of Sciences USA 109(8):3035-3040. February 21, 2012.
J Bardi, University of California, San Francisco. Fighting Infections: Old Drug Reveals New Tricks. Press release. February 29, 2012.

Edit terakhir: 3 April 2012