Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan kebijakan baru untuk meningkatkan upaya TB/HIV

Menurut perkiraan yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 910.000 orang diselamatkan antara tahun 2005 dan 2010 sebagai akibat dari hubungan kerja yang lebih erat antara program HIV dan TB. Namun, kemajuan lebih lanjut masih diperlukan: sekitar 40% pasien TB di Afrika sub-Sahara Afrika tidak menerima tes HIV pada tahun 2010, sebuah indikator dasar dari seberapa baik kerja sama layanan TB dan HIV.

Organisasi Kesehatan Dunia menerbitkan pedoman baru untuk para pembuat kebijakan dan pengelola program HIV dan TB untuk mendorong peningkatan skala dari program yang terintegrasi. Pedoman ini memperbarui kebijakan sementara tahun 2004, berdasarkan pengalaman pelaksanaan kegiatan TB/HIV bersama.

TB adalah salah satu penyebab utama dari kematian pada orang dengan HIV, dan WHO memperkirakan bahwa sekitar 350,000 orang dengan infeksi HIV meninggal karena TB pada tahun 2010, sementara 1,1 juta orang yang hidup dengan HIV mengembangkan TB pada tahun yang sama, terutama di sub sahara Afrika.

Sejak upaya untuk mengintegrasikan layanan TB dan HIV mulai dipercepat pada tahun 2005, lebih dari 100 negara telah mengadaptasi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2004. Pada tahun 2005, hanya 14% dari pasien TB yang diperkirakan memiliki infeksi HIV yang menerima layanan medis terkait HIV, namun pada tahun 2010, sekitar 60% terdaftar pada klinik HIV. Selain itu, proporsi pasien dengan HIV yang menerima skrining TB meningkat dari 200,000 pada tahun 2005 menjadi 2,3 juta pada tahun 2010.

Tapi di beberapa negara dan distrik, hubungan antara program HIV dan TB tetap lemah atau kekurangan dana. Akibatnya, orang yang mengembangkan gejala TB masih tetap belum dites untuk HIV, sementara orang yang hidup dengan HIV mungkin belum diskrining secara rutin untuk TB, tidak diberikan pengobatan untuk mencegah perkembangan TB aktif.

Kebijakan baru ini menekankan kebutuhan untuk memaksimalkan pemberian berbagai intervensi medis dan intervensi pencegahan:

  • Tes HIV rutin untuk pasien TB, orang dengan gejala TB, dan pasangan mereka atau anggota keluarga mereka;
  • Penggunaan algoritma klinis sederhana untuk skrining TB yang bergantung pada ketiadaan atau adanya empat gejala: batuk, penurunan berat badan saat ini, demam dan keringat malam, untuk mengidentifikasi orang dengan HIV yang memenuhi syarat selama minimal 6 bulan untuk terapi pencegahan isoniazid (IPT ) atau untuk diagnostik lebih lanjut untuk TB;
  • Penyediaan kotrimoksazol, obat yang efektif untuk mencegah terhadap infeksi paru-paru atau infeksi lain untuk semua pasien TB yang terinfeksi HIV;
  • Semua pasien dengan koinfeksi HIV dan TB memulai terapi antiretroviral (ART) sesegera mungkin (dalam waktu dua minggu setelah memulai obat anti TB) tanpa memandang ukuran sistem kekebalan tubuh;
  • Mulai semua pasien TB dengan HIV yang memakai terapi antiretroviral (ART) secepat mungkin (dan dalam 2 minggu pertama saat memulai pengobatan anti-TB) tanpa pengukuran sistem kekebalan tubuh;
  • Metode berbasis bukti untuk mencegah penularan HIV bagi pasien TB, anggota keluarga mereka dan komunitas (pengendalian infeksi).

“Kita harus menangani TB seperti kita mengelola HIV,” kata Dr. Gottfried Hirnschall, Direktur WHO pada Departemen HIV/AIDS. “Kami telah menunjukkan selama lima tahun terakhir apa yang dapat dilakukan. Untuk melanjutkan kemajuan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa, layanan komprehensif HIV harus menyertakan Tiga I dalam strategi HIV/TB: isoniazid preventive therapy (terapi pencegahan isoniazid), intensified screening (skrining intensif), infection control for TB (pengendalian infeksi TB), dan juga harus memasukkan pengobatan HIV yang lebih dini bagi mereka yang memenuhi syarat.

Kebijakan baru mendorong program nasional dan lokal untuk mencapai integrasi yang lebih besar dan cakupan layanan yang lebih luas dengan:

  • Menetapkan mekanisme untuk penyediaan layanan TB/HIV terpadu di tempat dan waktu yang sama sebanyak mungkin;
  • Mengintegrasikan layanan TB dan HIV ke dalam program kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu dan anak, layanan pengurangan dampak buruk narkoba dan layanan kesehatan penjara;
  • Memperkuat pemantauan dan evaluasi dalam satu sistem nasional dengan menggunakan pelaporan TB/HIV standar dan diselaraskan serta memiliki format rekaman dan indikator;
  • Memasukkan skrining TB sebagai tes rutin ke dalam sistem surveilans HIV;

“Kerangka kerja ini merupakan standar internasional untuk perawatan, pencegahan dan pengobatan TB dan pasien HIV untuk mengurangi kematian, dan kita memiliki bukti yang kuat bahwa kerangka ini bekerja,” kata Dr. Mario Raviglione, Direktur WHO Departemen Stop TB. “Sekarang adalah waktu untuk memutuskan rantai kematian terkait HIV/TB bagi banyak orang.”

Untuk informasi lebih lanjut, silakan unduh kebijakan baru di sini

Artikel asli: World Health Organization issues new policy to step up TB/HIV efforts