Pedoman Inggris mengenai pengobatan HIV pada kehamilan memberikan lampu hijau untuk efavirenz

Rancangan pedoman pengelolaan infeksi HIV pada perempuan hamil merekomendasikan bahwa pengobatan dengan efavirenz tidak harus lagi dihindari pada perempuan hamil atau pada perempuan yang ingin memiliki bayi.

Sebelumnya, perempuan hamil dan perempuan yang berencana untuk hamil tidak dianjurkan untuk menggunakan pengobatan dengan efavirenz. Hal ini disebabkan karena risiko teoritis dari cacat lahir jika janin terpajan dengan obat tersebut pada trimester pertama dari kehamilan.

Namun setelah peninjauan yang ketat dari bukti-bukti yang ada, panel pedoman British HIV Association (BHIVA) menyimpulkan bahwa “data yang ada tidak cukup untuk mendukung posisi sebelumnya untuk menghindari penggunaan efavirenz dan kami merekomendasikan bahwa efavirenz dapat diteruskan atau mulai digunakan pada kehamilan.”

Perempuan yang hamil saat menggunakan rejimen yang mengandung efavirenz harus terus menggunakannya, dan perempuan yang menggunakan rejimen ART lain harus terus menggunakannya meskipun tidak mengandung AZT, panel tersebut merekomendasikan.

Pedoman WHO mengenai terapi antiretroviral untuk pencegahan penularan dari ibu ke bayi di negara terbatas sumber daya merekomendasikan penggunaan efavirenz selama kehamilan pada tahun 2009, namun pedoman AS yang diperbarui pada 2001 merekomendasikan untuk menghindari penggunaan obat tersebut selama trimester pertama kehamilan.

Rekomendasi pokok dari pedoman tersebut:

  • Perempuan yang membutuhkan ART untuk kesehatannya sendiri
  • Perempuan yang membutuhkan ART untuk kesehatannya sendiri harus dimulai pengobatan sesegera mungkin sesuai dengan pedoman pengobatan dewasa.
  • Dalam hal tulang punggung NRTI, bukti yang terbanyak adalah untuk penggunaan AZT ditambah lamivudine. Tenofovir plus emtricitabine atau abacavir ditambah lamivudine adalah alternatif yang bisa diterima.
  • Dengan tidak adanya kontraindikasi tertentu dianjurkan bahwa agen ketiga dalam ART harus menggunakan nevirapine jika jumlah CD4 kurang dari 250 atau efavirenz atau PI yang dikuatkan.
  • Tidak ada perubahan dosis rutin yang dianjurkan untuk ART selama kehamilan jika digunakan pada dosis dewasa yang disetujui tetapi pertimbangkan pemantauan terapi obat selama trimester ketiga, terutama jika menggabungkan tenofovir dan atazanavir.
  • Bagi perempuan yang tidak membutuhkan ART untuk kesehatannya sendiri
  • Dengan tidak adanya kontraindikasi tertentu dianjurkan bahwa ART harus yang digunakan harus dengan rejimen yang berbasis PI. Kombinasi AZT, abacavir dan lamivudine dapat digunakan jika viral load pada awal adalah <100.000.
  • Monoterapi AZT dapat digunakan pada perempuan merencanakan operasi Caesar yang memiliki VL pada awal <10.000 dan jumlah CD4> 350. Perempuan yang tidak memerlukan pengobatan untuk diri mereka sendiri harus memulai ART sementara pada minggu ke 14 jika VL pada awal >30.000 (pertimbangkan memulai lebih awal jika VL > 100.000). Semua perempuan harus telah memulai ART pada usia kehamilan 24 minggu.
  • Seorang perempuan yang datang setelah 28 minggu, ART harus dimulai tanpa penundaan. Jika viral load tidak diketahui atau > 100.000, penggunaan 3 atau 4 rejimen obat yang mencakup raltegravir disarankan.
  • Seorang perempuan yang tidak diobati yang datang pada saat persalinan harus diberikan nevirapine dan memulai dosis tetap AZT dengan lamivudine dan raltegravir.
  • Perempuan yang datang pada saat persalinan tanpa hasil HIV yang didokumentasikan harus direkomendasikan untuk melakukan tes diagnosis HIV di tepat layanan. Hasil yang reaktif yang ditindaklanjuti dengan segera dengan memulai intervensi untuk PMTCT tanpa menunggu konfirmasi serologis formal.
  • ART dapat dilanjutkan pada semua perempuan yang memulai ART untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak dengan jumlah CD4 antara 350 dan 500 selama kehamilan.
  • ART harus dihentikan pada semua perempuan yang memulai ART untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak dengan jumlah CD4> 500 kecuali ada kejanggalan dengan pasangannya (lihat di atas) atau memiliki penyakit penyerta.

Cara persalinan

  • Persalinan pervaginam dianjurkan untuk perempuan yang memakai ART dengan viral load HIV <50 pada usia kehamilan minggu ke-36.
  • Persalinan melalui operasi Caesar direkomendasikan untuk perempuan yang menggunakan monoterapi AZT terlepas dari viral load pada saat persalinan dan untuk perempuan dengan viral load > 400 terlepas dari ART yang digunakan.
  • Persalinan pervaginam dianjurkan untuk perempuan yang memakai ART dengan viral load HIV <50 pada usia kehamilan minggu ke 36.
  • Persalinan melalui operasi Caesar direkomendasikan untuk perempuan yang menggunakan monoterapi AZT terlepas dari jumlah viral load saat persalinan (Tingkat 1A) dan untuk perempuan dengan viral load >400 baik menggunakan ART atau tidak.

Profilaksis bayi

  • Monoterapi AZT dianjurkan jika viral load ibu adalah <50 pada 36 minggu kehamilan (atau ibu melahirkan melalui operasi Caesar sementara menggunakan terapi dengan AZT), terlepas dari masalah pola resistansi atau sejarah penggunaan obat.
  • Bayi yang berusia <72 jam, yang lahir dari ibu HIV positif yang tidak diobati, harus memulai terapi kombinasi tiga obat dengan segera.
  • Terapi kombinasi tiga obat bagi bayi direkomendasikan untuk semua keadaan dimana viral load ibu pada usia kehamilan 36 minggu tidak berada di bawah dari 50.
  • Profilaksis pasca pajanan pada bayi yang baru lahir harus diteruskan selama 4 minggu.

Pemberian makan bayi

  • Semua ibu yang diketahui terinfeksi HIV, terlepas dari ART, dan profilaksis pasca pajanan pada bayi, harus disarankan untuk memberikan susu formula secara eksklusif sejak lahir. Dalam kasus yang sangat langka di mana seorang ibu yang memakai ART yang efektif dengan viral load tidak terdeteksi berulang kali memilih untuk menyusui, hal ini tidak harus merupakan alasan untuk secara otomatis merujuk ke tim perlindungan anak. ART yang digunakan ibu harus dipantau secara hati-hati dan berlanjut sampai satu minggu setelah menyusui semua telah berhenti. Menyusui, kecuali selama masa sapih, harus dilakukan secara eksklusif, seharusnya sudah selesai pada akhir 6 bulan
  • Profilaksis pada bayi yang berkepanjangan selama masa menyusui tidak dianjurkan.
  • Dukungan intensif dan pemantauan ibu dan bayi dianjurkan selama masa menyusui, termasuk tes rutin setiap bulan untuk viral load ibu dan PCR pada bayi.
  • PCR DNA HIV (atau PCR RNA HIV) harus dilakukan pada kesempatan berikut:
    • Selama 48 jam pertama dan sebelum dikeluarkan dari rumah sakit
    • 2 minggu pasca profilaksis bayi (usia 6 minggu)
    • 2 bulan setelah profilaksis pasca pajanan pada bayi (12 minggu usia)
  • Pada kesempatan lain jika ada risiko tambahan (misalnya menyusui)
  • Tes antibodi HIV untuk seroreversi harus dilakukan pada usia 18 bulan.

Artikel asli: UK guidelines on treatment of HIV in pregnancy give green light to efavirenz