Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Bukti terbatas bahwa suplemen vitamin D memiliki manfaat apapun untuk pasien dengan HIV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter Tgl. laporan: 10 Januari 2012

Hanya ada sedikit bukti bahwa suplemen vitamin D bermanfaat untuk pasien dengan HIV, menurut peneliti Inggris dalam jurnal AIDS edisi 28 Januari 2012.

Para penulis melakukan studi tinjauan sistematis yang meneliti prevalensi kekurangan vitamin D pada pasien dengan HIV, dampak ART pada tingkat vitamin D, efek kekurangan vitamin D dan terapi HIV pada metabolisme tulang dan risiko patah tulang, dan manfaat dari suplemen vitamin D.

Studi cross-sectional dan longitudinal menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D meluas di pasien HIV-positif. Selain itu, ada bukti bahwa mulai terapi HIV, terutama rejimen yang mengandung efavirenz (Sustiva, juga dalam pil kombinasi Atripla), didampingi oleh penurunan konsentrasi vitamin D. Studi juga menunjukkan bahwa kepadatan tulang meningkat di tahun-tahun awal terapi antiretroviral.

Namun, konsekuensi klinis dari kekurangan vitamin D dan pengurangan kepadatan tulang tidak jelas. Juga tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung meluasnya penggunaan suplemen vitamin D dengan pasien HIV-positif.

Sekarang sudah diketahui bahwa kepadatan mineral tulang yang rendah dan kekurangan vitamin D adalah umum pada pasien dengan HIV. Karena itu, mengukur kadar vitamin D menjadi komponen standar dalam perawatan HIV dan suplemen vitamin D digunakan secara luas.

Meskipun demikian, bukti manfaat klinis dan efektivitas biaya pendekatan untuk manajemen pasien saat ini masih kurang.

Oleh karena itu peneliti meninjau temuan dari studi yang baru diterbitkan yang melihat masalah kehilangan kepadatan tulang dan penyebab yang mungkin dan pengobatannya pada pasien dengan HIV.

Ketidakcukupan vitamin D didefinisikan sebagai tingkat antara 20-30 ng/dl; kekurangan vitamin D didefinisikan sebagai tingkat antara 10-20 ng/dl; dan kekurangan vitamin D parah didefinisikan sebagai tingkat di bawah 10 ng/dl.

Prevalensi defisiensi vitamin D

Penelitian di domain publik menunjukkan bahwa antara 29% dan 73% dari pasien yang terinfeksi HIV mengalami ketidakcukupan vitamin D.

Namun, HIV saja bukan penyebabnya.

Sebaliknya, faktor risiko adalah serupa dengan yang terlihat di populasi umum dan termasuk etnis kulit hitam atau Hispanik, paparan sinar ultraviolet rendah, pengukuran di musim gugur atau musim dingin, peningkatan indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah tinggi dan rendahnya tingkat olahraga.

Faktor terkait HIV dihubungkan dengan ketidakcukupan atau kekurangan vitamin D termasuk durasi atau infeksi dengan virus, jumlah CD4 di bawah 200, penggunaan terapi antiretroviral dan jumlah viral load saat ini.

Pentingnya vitamin D pada hasil kesehatan terakit HIV masih belum jelas, namun satu studi menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat di bawah 12ng.ml pada awal lebih mungkin untuk mengembangkan AIDS atau meninggal.

Kekurangan vitamin D dan terapi HIV

Studi cross sectional dan longitudinal secara konsisten menunjukkan bahwa pengobatan dengan efavirenz menghasilkan pengurangan dalam tingkat vitamin D. Hanya ada sedikit bukti atau tidak ada bukti bahwa protease inhibitor (PI), NRTI atau tenofovir mengurang kadar konsentrasi vitamin D.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa signifikansi klinis dari pengurangan kecil vitamin D terlihat pada pasien yang memakai terapi HIV belum terbukti.

Kekurangan vitamin D, ART dan tingkat hormon paratiroid

Hormon paratiroid membantu mengatur kadar kalsium. Penyakit paratiroid menyebabkan osteoporosis. Peningkatan tingkat paratiroid umum pada pasien yang memakai terapi HIV dan dikaitkan dengan terapi yang mencakup tenofovir.

Kekurangan vitamin D, ARV dan perubahan bentuk tulang

Bukti yang tersedia tidak menunjukkan hubungan antara kekurangan vitamin D dan peningkatan turnover (proses resorpsi diikuti dengan penggantian tulang dengan sedikit perubahan dalam bentuk dan terjadi sepanjang hidup seseorang) tulang. Namun, studi menyarankan bahwa hubungan antara kekurangan vitamin D dengan terapi antiretroviral. Lebih lanjut lagi, turnover tulang mungkin meningkat pada pasien yang menggunakan rejimen tenofovir dan orang dengan hiperparatiroidisme sekunder.

Kekurangan vitamin D, terapi HIV dan kepadatan mineral tulang

Penelitian longitudinal menunjukkan hubungan antara kekurangan vitamin D dan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah di pinggul.

Penurunan kepadatan mineral tulang antara 2% dan 6% setelah memulai terapi HIV telah dilaporkan secara konsisten, dengan stabilisasi setelah enam sampai 12 bulan pengobatan. Tenofovir dan PI yang dikuatkan dengan ritonavir terutama terkait dengan keropos tulang.

Besarnya kekurangan awal dari kepadatan tulang adalah setara dengan yang terlihat pada tahun pertama dari menopause. Namun, signifikansi klinis, terutama dalam populasi pasien relatif muda, tidak jelas. Selanjutnya, peran kekurangan vitamin D pada kehilangan tulang terkait ARV belum didefinisikan.

Kekurangan vitamin D, ART dan patah tulang

Pasien dengan HIV sekitar 60% lebih mungkin untuk mengalami patah tulang dibandingkan HIV-negatif.

Namun, tidak jelas apakah kekurangan vitamin D atau pengobatan terkait efek samping adalah penyebabnya. Sebagian besar patah tulang adalah akibat trauma bukan kerapuhan.

Suplementasi vitamin D

Ada beberapa bukti bahwa suplementasi mengakibatkan perubahan sementara dalam kadar hormon paratiroid. Namun, tidak ada dampak terhadap kepadatan mineral tulang atau penanda peradangan, atau tingkat lipid.

Rekomendasi untuk pengujian dan suplemen vitamin D

Pedoman HIV Eropa merekomendasikan pemantauan tingkat vitamin D bagi mereka dengan risiko kekurangan vitamin D, serta orang dengan osteopenia dan osteoperosis. Suplemen dianjurkan untuk pasien dengan tingkat vitamin di bawah 10ng/ml.

Bukti terbatas bahwa suplemen vitamin D memiliki manfaat apa pun untuk pasien dengan HIV

Kesimpulan

“Dengan mayoritas pasien HIV positif yang menerima terapi kombinasi antiretroviral di bawah 50 tahun, manfaat dari strategi ‘tes dan mengobati’ dalam hal pencegahan patah tulang masih harus didefinisikan, terutama jika vitamin D diberikan tapa suplemen kalsium harian,” para peneliti berkomentar.

Mereka menyimpulkan, “insiden keseluruhan patah tulang, khususnya di antara pasien HIV positif yang lebih muda adalah rendah dan harus dipertimbangkan ketika memutuskan untuk mengukur kadar vitamin D dan merekomendasikan pemberian suplemen vitamin D.”

Ringkasan: Limited evidence that vitamin D supplements of any benefit for patients with HIV

Sumber: Childs K et al. Effects of vitamin D deficiency and combination antiretroviral therapy on bone in HIV-positive patients. AIDS 26: 253-62, 2012.

Edit terakhir: 2 Februari 2012