| IDSA: Tenofovir tidak terkait dengan peningkatan risiko ginjal pada orang dengan HIV dalam studi Veteran | Unduh versi PDF |
| Oleh: Liz Highleyman | Tgl. laporan: 4 November 2011 |
Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada 49th Annual Meeting of the Infectious Diseases Society of America (IDSA 2011) di Boston menyarankan bahwa penggunaan tenofovir tidak terkait dengan risiko tinggi toksisitas ginjal dibandingkan dengan obat antiretroviral lain.
Tenofovir dan nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTI) yang terkait biasanya dibersihkan oleh filtrasi glomerulus dan sekresi tubular aktif di ginjal, dan memiliki potensi untuk menyebabkan toksisitas ginjal. Sementara tenofovir tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah ginjal yang signifikan dalam uji klinis, studi observasional dan acak sejak persetujuan obat ini telah memproduksi data yang bertentangan.
Secara keseluruhan, penelitian menyarankan bahwa tenofovir dapat berkontribusi terhadap kerusakan fungsi ginjal dari waktu ke waktu pada sebuah proporsi pasien yang kecil. Hal ini mungkin terjadi ketika tenofovir digunakan dengan PI yang dikuatkan dengan ritonavir, yang dapat meningkatkan konsentrasi tenofovir di dalam tubuh.
Untuk menyoroti isu ini dengan lebih jelas, Seema Nayak dari Veterans Affairs Medical Center di Washington, DC dan rekan membandingkan hasil di antara pasien di fasilitas mereka yang menggunakan tenofovir yang dikombinasikan dengan PI yang dikuatkan atau NNRTI, mereka yang menggunakan obat HIV lain, dan orang yang belum menerima terapi antiretroviral.
Analisis retrospektif ini menyertakan 650 peserta yang memenuhi kriteria inklusi, dari populasi sebesar 1.021 orang. Hampir semua laki-laki, sekitar 85% adalah Afrika-Amerika (sebuah kelompok dengan tingkat penyakit ginjal yang lebih tinggi), dan usia rata-rata adalah sekitar 46 tahun.
Beberapa faktor terkait dengan peningkatan risiko disfungsi ginjal – termasuk jenis kelamin laki-laki, usia lebih tua, ras/etnis kulit hitam, hipertensi (sekitar 35% secara keseluruhan), diabetes (sekitar 12%), dan sejarah gagal ginjal (sekitar 4%) adalah sama di seluruh kelompok. Namun, faktor risiko ginjal lain termasuk koinfeksi hepatitis C, insufisiensi ginjal pada awal, dan penggunaan obat lainnya (selain ARV) diketahui menyebabkan toksisitas ginjal bervariasi secara signifikan antara kelompok.
Pada awal dan pada 6 dan 12 bulan para peneliti mengukur kadar kreatinin dan melihat dua indikator fungsi ginjal: bersihan kreatinin (metode Cockroft-Gault), dan tingkat filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR) menggunakan persamaan Modifikasi Diet dan Penyakit Ginjal (Modification of Diet and Renal Disease/MDRD), yang memperhitungkan jenis kelamin, usia, ras, dan kreatinin serum pasien.
Hasil
Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyimpulkan bahwa tenofovir plus PI yang dikuatkan “tidak menyebabkan penurunan yang signifikan dalam bersihan kreatinin atau estimasi fungsi ginjal” selama 12 periode 12 bulan, dibandingkan dengan tenofovir plus NNRTI, ART lain, atau tidak ada pengobatan.
Mereka menambahkan bahwa data menunjukkan tenofovir plus PI yang dikuatkan “relatif aman”, bahkan pada populasi pasien yang terutama terdiri dari laki-laki Afrika-Amerika dengan prevalensi hipertensi dan diabetes yang tinggi
Sementara temuan ini meyakinkan, masalah ginjal terkait dengan tenofovir atau obat lain dapat berkembang dari waktu ke waktu, sehingga tindak lanjut jangka panjang diperlukan.
Afiliasi peneliti: Medical Service, Infectious Diseases Section, Veterans Affairs Medical Center District of Columbia, Washington, DC; George Washington University, Washington, DC; Veterans Affairs Medical Center District of Columbia, Washington, DC.
Ringkasan: IDSA: Tenofovir Not Linked to Increased Kidney Risk in HIV+ Veterans Study
Sumber: SU Nayak, M Czarnogorski, R Amdur, and VL Kan. Renal Function in HIV-Infected Veterans on Tenofovir with and without Ritonavir Compared with Those on No Tenofovir and No Antiretroviral Therapy. 49th Annual Meeting of the Infectious Diseases Society of America (IDSA 2011). Boston, October 20-23, 2011. Abstract 402.
Edit terakhir: 29 November 2011