Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Membuka sawar darah-otak dapat meningkatkan hasil pengobatan neurologis Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: poz.com Tgl. laporan: 14 September 2011

Para peneliti di Cornell’s College of Veterinary Medicine mungkin telah memecahkan masalah yang sejak lama telah membuat para ahli neurologi penasaran, termasuk mereka yang terlibat dalam pengobatan dan studi dari masalah neurologi terkait HIV/AIDS. Menurut laporan terbaru yang diterbitkan pada Journal of Neuroscience edisi 14 September 2011, tim Cornell telah menemukan sebuah cara untuk membuka dan menutup sawar darah-otak, yang memungkinkan untuk pengobatan yang efektif dari penyakit dan komplikasi yang berpusat di otak, seperti yang terkait dengan HIV/AIDS.

Para peneliti menemukan bahwa adenosin, molekul yang diproduksi oleh tubuh, dapat memodulasi masuknya molekul besar – seperti molekul yang membentuk obat yang dibutuhkan untuk mengobati gangguan neurologis, penyakit infeksi dan kanker – ke dalam obat. Mereka menemukan bahwa ketika reseptor adenosin diaktivasi ke dalam sel yang terdiri dari sawar darah-otak, sebuah jalan masuk melalui sawar darah-otak tersebut dapat dibentuk.

Meskipun penelitian ini dilakukan pada tikus, tim Cornell, di bawah arahan Margaret Bynoe, PhD, juga menemukan bahwa reseptor adenosin mempengaruhi sel-sel yang sama pada manusia. Terlebih lagi, mereka membenarkan bahwa obat yang disetujui FDA yang disebut Lexiscan (regadenoson), sebuah obat berbasis adenosin digunakan dalam pencitraan jantung pada pasien yang sangat sakit, secara singkat dapat membuka jalan masuk yang melintasi sawar darah-otak.

Hambatan terbesar untuk setiap penyakit neurologis – termasuk yang terkait dengan infeksi HIV, seperti gangguan neurokognitif terkait AIDS (HIV-associated neurocognitive disorder/HAND), demensia terkait AIDS dan sejumlah oportunistik terkait infeksi HIV – adalah ketidakmampuan untuk membawa obat ke dalam otak. Hal ini umumnya disebabkan oleh sawar darah-otak, yang terdiri dari sel khusus yang membentuk pembuluh darah otak. Sel ini secara selektif mencegah zat lain untuk masuk ke dalam otak dan darah, dan hanya memungkinkan molekul-molekul yang penting seperti asam amino, oksigen, glukosa dan air untuk melewatinya.

Para peneliti telah mencoba untuk memasukkan obat ke dalam otak dengan cara memodifikasi mereka supaya dapat mengikat pada reseptor dan ikut masuk bersama molekul lain untuk dapat melalui penghalang ini. Namun sejauh ini, proses modifikasi ini telah mengurangi kemanjuran obat.

Menurut makalah yang ditulis oleh Bynoe dan rekannya, para peneliti mampu untuk mengangkut molekul besar seperti antibodi ke dalam otak tikus. Tidak ada obat yang digunakan untuk mengobati penyakit neurologis, termasuk antiretroviral atau obat yang digunakan untuk mengelola infeksi oportunistik terkait otak yang dipelajari.

Namun, para peneliti telah berhasil untuk mengantarkan antibodi amiloid untuk melewati sawar darah-otak. Antibodi ini mengikat dengan plak beta miloid, yang diketahui menyebabkan penyakit Alzheimer, paling tidak pada model tikus.

Meskipun ada banyak antagonis yang dikenal – obat atau protein yang secara spesifik memblokir sinyal – untuk reseptor adenosin pada tikus, Bynoe dan rekan mencatat bahwa dibutuhkan pekerjaan di masa depan untuk mengidentifikasi obat tersebut pada manusia.

Artikel asli: Unlocking Blood-Brain Barrier May Improve Neurological Treatment Outcomes

Edit terakhir: 28 Oktober 2011