Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Penanda penyakit kardiovaskular juga terkait dengan masalah tulang pada pasien dengan HIV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter Tgl. laporan: 18 Juli 2011

Sebuah penanda yang penting dari risiko kardiovaskular sub klinis terkait dengan pengurangan kepadatan mineral tulang di pinggul dari pasien HIV positif. Hal ini sesuai dengan penelitian Itali yang dipresentasikan di Sixth International AIDS Society di Roma.

Para peneliti menemukan bahwa kalsifikasi—atau pengerasan—dari pembuluh darah koroner terkait dengan kepadatan tulang yang rendah di tulang femur pinggul.

“Korelasi silang antara kurangnya mineral tulang dan aterosklerosis subklinis berfokus pada percepatan hilangnya mineral tulang dan tingkat patah tulang yang tinggi pada orang dengan HIV diikuti dengan peningkatan risiko kardiovaskular,” Dr Antonio Bellasi dari Metabolic Clinic, University of Modena dan Reggio Emilia, mengatakan kepada delegasi.

Penyakit kardiovaskular dan perubahan dalam metabolisme tulang adalah topik yang sedang hangat dalam layanan HIV.

Penelitian yang dilakukan pada pasien HIV negatif telah menemukan bahwa orang dengan pengurangan kepadatan tulang juga lebih mungkin untuk mengalami pengerasan pembuluh darah arteri. Hubungan ini tampaknya signifikan secara klinis. Perempuan yang sudah mengalami mati haid dengan osteoporosis diketahui memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Lebih lanjut lagi, pengerasan arteri dan osteoporosis memiliki patologi yang serupa dan mereka juga berbagi faktor risiko yang sama—sebagai contoh, tingkat yang rendah dari vitamin D, sebuah kondisi yang umum pada orang dengan HIV.

Namun, hanya sedikit yang diketahui antara hubungan pengerasan pembuluh darah arteri dan kepadatan mineral tulang pada pasien HIV positif.

Oleh karena itu, para peneliti Itali melihat studi yang mendaftarkan 812 pasien yang menerima layanan antara tahun 2006 dan 2010.

Mereka berhipotesis bahwa ada hubungan antara kardiovaskular dan komplikasi tulang pada pasien-pasien ini.

Tidak ada dari para pasien ini memiliki sejarah penyakit kardiovaskular. Setelah dipantau, pasien-pasien ini dibagi ke dalam dua kelompok dependen berdasarkan skor pengerasan arteri mereka (di atas atau di bawah 100, skor yang lebih tinggi mengindikasikan lebih banyak pengerasan arteri).

Kepadatan mineral tulang juga diukur di tulang belakang bawah dan tulang femur pinggul. Seseorang didefinisikan sebagai memiliki kepadatan mineral tulang yang rendah jika tingkat ini di bawah 25%.

Pengerasan pembuluh darah arteri dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko tradisional termasuk usia yang lebih tua, berjenis kelamin laki-laki, fungsi ginjal yang lebih rendah, diabetes, tekanan darah tinggi, dan skor yang tinggi dari risiko Framingham dan indeks massa tubuh yang tinggi.

Ada prevalensi yang tinggi dari kepadatan mineral tulang di pinggul di antara pasien dengan pengerasan pembuluh darah arteri di atas 100 dibandingkan dengan skor di bawah 100 (23% vs 15%).

Namun, pengurangan kepadatan mineral tulang di tulang belakang bawah adalah serupa pada pasien dengan skor kalsifikasi lebih tinggi dan lebih rendah (16% vs 15%).

Urutan analisis statistik dilakukan untuk melihat faktor mana yang terkait dengan pengerasan arteri koroner dan pengurangan kepadatan mineral tulang di pinggul.

Model pertama menemukan hubungan yang hampir signifikan antara usia dan jenis kelamin (rasio odds [OR] = 1.73; 95% CI, 0.88-3.38, p = 0.10).

Model kedua menambahkan faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti indeks massa tubuh yang tinggi, diabetes dan skor Framingham yang tinggi, dan hasilnya menemukan peningkatan risiko yang turun hanya sedikit di bahwa skor Framingham (OR = 2.01; 95% CI, 0.97-4.19, p = 0.06).

Menambahkan faktor terakit HIV, termasuk jumlah CD4, viral load dan pengobatan dengan tenofovir membuat hubungan ini menjadi signifikan (OR = 2.33; 95% CI, 1.11-4.86, p = 0.02).

Model terakhir, memasukkan fungsi ginjal, tingkat vitamin D, dan fungsi tiroid memiliki dampak yang sedikit pada temuan ini (OR = 2.33; 95% CI, 1.09-4.99, p = 0.02).

Analisis yang mengompensasikan untuk jumlah yang rendah dari kejadian yang direkam mengonfirmasikan kekuatan temuan ini. Analisis ini juga menggarisbawahi signifikansi dari faktor risiko tradisional seperti usia, fungsi ginjal dan diabetes terhadap pengerasan arteri dan pengurangan kepadatan mineral tulang di pinggul.

Para peneliti tidak mampu untuk menjelaskan mengapa pengerasan pembuluh darah arteri dikaitkan dengan pengurangan kepadatan mineral tulang di pinggul, namun tidak di tulang belakang.

Namun, mereka menekankan bahwa perubahan gaya hidup seperti olahraga, diet yang baik, dan menghentikan merokok dapat mengurangi masalah kardiovaskular dan masalah tulang pada pasien dengan HIV.

Dr Bellasi menyimpulkan, “studi di masa depan harus menguji hipotesis bahwa terapi mengurangi risiko kardiovaskular pada HIV juga dapat memberikan dampak yang baik terhadap kepadatan mineral tulang pada pasien ini.”

Ringkasan: Marker of cardiovascular disease also associated with bone problems in patients with HIV

Sumber: Bellasi A et al. Coronary artery calcification is associated with femoral but not with lumbar spine mineral density. Sixth International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis, Treatment and Prevention, Rome, abstract MOAB0102, 2011.

Edit terakhir: 19 Agustus 2011