Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Mulai ART tidak mengurangi insidensi atau prevalensi infeksi serviks dengan HPV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: aidsmap.com Tgl. laporan: 18 Oktober 2010

Para peneliti AS melaporkan dalam jurnal BMC Infectious Diseases bahwa mulai ART tidak mengurangi insiden atau prevalensi infeksi serviks dengan virus human papilloma (HPV). Semua jenis virus tetap bertahan, termasuk virus yang berkaitan dengan kanker serviks yang berisiko tinggi.

Para peneliti juga tidak menemukan bukti adanya peningkatan yang lebih baik dalam jumlah CD4 setelah mulai pengobatan HIV meningkatkan kemungkinan untuk membersihkan infeksi serviks dengan HPV.

Selain itu, banyak pasien yang memakai terapi HIV yang tertular infeksi ini dengan virus yang berisiko tinggi.

“Tidak ada efek langsung dari ART pada orang dewasa yang terinfeksi HIV, khususnya yang berkaitan dengan infeksi HPV tipe vaksin insidensi HPV risiko tinggi, dan insidensi, pembersihan dan persistensi HPV tipe vaksin, “para peneliti berkomentar. “Selain itu, tidak ada pola yang jelas dari infeksi HPV atau pembersihan terkait dengan pemulihan kekebalan (berdasarkan jumlah sel CD4) dari ART.”

Terapi antiretroviral (ART) telah dikaitkan dengan peningkatan luar biasa dalam prognosis pasien HIV-positif. Tingkat penyakit terdefinisi AIDS telah menurun secara dramatis, termasuk kanker terkait HIV sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.

Kanker serviks juga diklasifikasikan sebagai kanker terdefinisi AIDS, dan penelitian menunjukkan bahwa diagnosa keganasan ini telah meningkat sejak ART diperkenalkan.

Seperti kanker dubur (tingkat yang juga meningkat), kanker serviks berkaitan dengan infeksi jangka panjang dengan jenis tertentu dari HPV. Hal ini dapat menyebabkan perubahan sel yang mengarah ke kanker.

Informasi tentang dampak terapi HIV pada pembersihan serviks dari HPV tidak konsisten. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemulihan kekebalan yang dihasilkan dari terapi antiretroviral membantu menghapus infeksi, tetapi penelitian lain tidak menemukan bukti tentang hal ini.

Penyidik dari studi kohort REACH (Reaching for Excellence in Adolescent Care and Health) ingin menjelaskan pertanyaan penting ini.

Oleh karena itu mereka memantau prevalensi, persistensi dan prevalensi infeksi serviks HPV pada 373 orang dewasa dengan HIV (227) atau berisiko HIV. Semuanya berusia antara 12 dan 19 tahun, dan peserta yang terinfeksi HIV memperoleh infeksi melalui seks atau penggunaan narkoba.

Orang-orang ini dimonitor untuk infeksi serviks HPV setiap enam bulan, dan pasien HIV-positif melakukan pemantauan jumlah CD4 secara berkala.

Orang dewasa HIV-positif memiliki berbagai sejarah ART. Sebanyak 100 orang memiliki data tindak lanjut sebelum dan sesudah memulai pengobatan HIV; 57 memulai terapi HIV segera setelah mereka memasuki kohort dan 70 tidak pernah menggunakan obat anti HIV.

Secara keseluruhan, 70% dari peserta penelitian mengalami infeksi serviks HPV, dan 70% dari orang-orang yang tidak terinfeksi pada awal infeksi memperoleh infeksi selama masa tindak lanjut.

Rata-rata pasien diikuti selama kurang lebih dua tahun.

Orang yang mulai pengobatan HIV menunjukkan peningkatan yang baik dalam jumlah CD4 dari awal studi yaitu dari jumlah 471 menjadi 525.

Sebelum mereka mulai ART, peserta HIV-positif memiliki prevalensi antara 1 – 17% dari infeksi dengan tipe HPV risiko tinggi.

Prevalensi pada orang HIV-negatif adalah antara 1% -10%.

Mulai pengobatan dengan obat anti-HIV tidak berdampak terhadap prevalensi infeksi berisiko tinggi (1 – 18%).

Ada kejadian yang tinggi dari infeksi baik pada pasien HIV-positif dan HIV-negatif, dengan kecenderungan untuk kejadian lebih tinggi di antara orang-orang dengan HIV.

Meskipun jumlah CD4 meningkat pada pasien yang mulai terapi HIV, hal ini tidak mempengaruhi infeksi dan pola pembersihan infeksi HPV.

“Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa ART tidak berpengaruh pada infeksi HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker”, komentar para peneliti.

Sebagai contoh, insiden HPV 16 adalah 6,54 per 100 orang tahun sebelum ART dimulai dan 6,67 per 100 orang-tahun setelah ART dimulai.

Demikian pula, insiden HPV 18 adalah 4,66 per 100 orang-tahun pada periode sebelum ART dimulai dan meningkat menjadi 6,26 per 100 orang-tahun setelah pasien mulai memakai obat anti-HIV.

Insiden beberapa jenis virus yang berisiko tinggi lainnya itu bahkan lebih tinggi. Untuk HPV 53/66 adalah 9,83 per 100 orang-tahun pada periode sebelum terapi HIV, tetapi menjadi 12,80 setelah pengobatan dimulai.

“Kami mengamati prevalensi yang lebih tinggi dan insiden jenis HPV karsinogenik ... mungkin di periode inisiasi setelah ART. Jadi pencegahan infeksi HPV adalah penting, terutama dalam populasi rentan seperti remaja yang aktif secara seksual. “

Para peneliti mengakui bahwa ukuran sampel studi yang kecil merupakan batasan dari penelitian. Namun demikian mereka menyimpulkan bahwa mulai ART “tidak menunjukkan efek langsung pada insidensi HPV risiko tinggi, dan insidensi, pembersihan dan persistensi HPV tipe vaksin.

Ringkasan: Starting antiretroviral treatment does not reduce the incidence or prevalence of cervical infection with human papillomavirus

Sumber: Shrestha S et al. The impact of highly active antiretroviral therapy on prevalence and incidence of cervical human papilloma virus infections in HIV-positive adolescents. BMC Infectious Diseases, 10:295 doi:10.1186/1471-2334-10-295, 2010.

Edit terakhir: 6 November 2010