Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Peneliti menjelaskan infeksi berulang oleh beberapa virus Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: ScienceDaily Tgl. laporan: 2 April 2010

Penelitian yang baru dilakukan di Oregon Health & Science University Vaccine and Gene Therapy Institute menjelaskan bagaimana virus yang telah menginfeksikan sampai 80% populasi Amerika dapat menginfeksi kembali individu meskipun adanya tanggapan kekebalan yang kuat dan tahan lama. Penelitian ini melibatkan cytomegalovirus (CMV) yang menginfeksi 50% sampai 80% dari populasi AS sebelum usia 40.

Bagi kebanyakan orang, infeksi CMV tidak terdeteksi dan mereka tidak menjadi sakit. Namun, dalam populasi rentan dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti bayi yang sedang berkembang atau bayi baru lahir, penerima organ donor dan orang dengan HIV, CMV menimbulkan risiko potensial yang serius dan mematikan. Sekitar 8.000 anak-anak menjadi cacat akibat CMV setiap tahunnya.

“CMV adalah salah satu dari beberapa jenis virus yang secara efisien menginfeksi kembali individu yang sudah secara persisten terinfeksi dengan virus tersebut,” Louis Picker, MD, wakil profesor dari OHSU VGTI dan direktur dari program vaksin VGTI menjelaskan. Ia juga menjabat sebagai direktur Divisi Patobiologi dan Imunologi di Oregon National Primate Research Center di OHSU.

“Ketika sebagian besar virus menginfeksi induk, sistem kekebalan mengingat penyakit dan melindungi terhadap infeksi ulang. Hal ini terjadi dengan cacar air, jenis flu musiman dan beberapa virus lain. Reaksi sistem kekebalan ini juga merupakan alasan mengapa vaksin yang dibuat dengan virus yang dilemahkan atau virus matu bekerja melawan patogen-patogen ini. Dalam kasus CMV, sistem kekebalan tubuh terus menerus dirangsang oleh infeksi persisten tingkat rendah, namun CMV masih tetap dapat menginfeksi kembali. Penelitian ini menjelaskan bagaimana CMV dapat mengatasi tanggapan kekebalan sehingga infeksi ulang terjadi.”

Dengan mempelajari kera di Oregon National Primate Research Center yang secara alami terinfeksi dengan CMV, peneliti menunjukkan bahwa infeksi ulang CMV hanya dapat terjadi ketika virus mampu menghindari bagian penting dari sistem kekebalan yang disebut sel T CD8. Sel darah putih ini yang juga disebut ‘sel T pembunuh”, menyerang dan membunuh sel yang terinfeksi sebagai bagian dari sistem tubuh. Sel T pembunuh mengidentifikasi sel yang terinfeksi melalui keberadaan molekul di luar sel yang disebut MHC-1. Molekul MHC-1 menyajikan potongan kecil protein virus ke sel T, sehingga memberikan sinyal ketika sebuah sel menjadi terinfeksi. Sel T menyelamatkan jaringan yang terinfeksi dengan menghilangkan sel-sel yang terinfeksi.

“CMV menghindari dari sistem kewaspadaan ini dengan membuat gen yang mengganggu kemampuan molekul MHC-1 untuk mengomunikasikan infeksi yang sedang terjadi kepada sel T. Pada intinya, CMV mampu untuk memotong panggilan sel yang terinfeksi untuk eliminasi. Hal ini memungkinkan CMV untuk mengatasi penghalang kekebalan yang penting pada saat infeksi ulang”, Klaus Frueh, Ph.D yang adalah seorang peneliti senior di VGTI dan profesor mikrobiologi dan imunologi molekuler dari OHSU School of Medicine menjelaskan.

Hasil penelitian ini terutama menggambarkan penghalang yang signifikan dalam upaya untuk menciptakan vaksin yang akan mencegah infeksi CMV. Namun, dengan catatan positif, penelitian ini juga menjelaskan mengapa CMV dapat menjadi virus vektor vaksin. Vektor vaksin adalah virus yang membawa bahan genetik dari patogen lain ke dalam tubuh, sehingga dapat melakukan vaksinasi melawan patogen-patogen seperti HIV, virus Hepatitis C, parasit malaria dan bakteri TB. Oleh karena itu penelitian ini dapat membantu dalam pengembangan vaksin tersebut.

Dana utama penelitian ini diberikan oleh National Institutes of Health, International AIDS Vaccine Initiative.

Artikel asli: Researchers Explain Repeated Infection by Some Viruses

Edit terakhir: 30 April 2010