Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Obat pendamping penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba dan alkohol untuk orang dengan HIV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Liz Highleyman, hivandhepatitis.com Tgl. laporan: 5 Februari 2010

“Perpotongan epidemi ganda HIV dan narkoba/alkohol menghasilkan isu-isu pengelolaan medis yang sulit bagi penyedia layanan kesehatan yang bekerja dalam bidang pencegahan dan pengobatan HIV,” R. Douglas Bruce dari Yale University School of Medicine dan rekan-rekan mencatat hal ini sebagai latar belakang . “Pengguna narkoba suntik sering dipisahkan dari perawatan medis dan mengalami stigma dan diskriminasi yang menciptakan hambatan tambahan untuk perawatan dan pengobatan untuk penyalahgunaan zat serta infeksi HIV.”

Penulis membedakan dua kondisi yang sering membingungkan. Penyalahgunaan zat adalah “pola penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan masalah berulang dan bermakna dan konsekuensi yang berkaitan dengan penggunaan zat berulang-ulang” seperti hukum atau masalah-masalah interpersonal. Ketergantungan zat adalah “perusakan bermakna secara klinis atau tekanan yang berkaitan dengan penggunaan zat yang mencakup tiga atau lebih gejala berikut: penggunaan berulang yang menyebabkan toleransi ... gejala putus zat hilang ketika menggunakan zat, zat digunakan selama periode yang lama dan dalam jumlah lebih besar dari yang dibutuhkan, usaha yang persisten untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan zat yang kerap tidak berhasil, peningkatan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan zat dan memulihkan diri dari efeknya, mengalami pengurangan kegiatan sosial, pekerjaan atau rekreasi harian yang karena mencari dan menggunakan narkoba dan terus menggunakan meskipun mengakui peran penggunaan zat dalam masalah psikologis atau fisik.”

“Paparan zat adiktif tersebar luas dalam masyarakat, tapi kerentanan terhadap penyalahgunaan dan ketergantungan adalah perilaku kompleks sebagai produk biologis/genetik, psikologis dan interaksi dan pengaruh lingkungan,” tulis mereka. “Penyalahgunaan dan ketergantungan zat adalah penyakit fisiologis, sosial, dan gangguan perilaku kompleks yang sering berdampingan dengan masalah psikiatri dan penyakit medis.”

Para penulis meninjau kembali obat yang digunakan dalam pengobatan dari gangguan penggunaan zat, termasuk metadon dan buprenorfin untuk terapi substitusi opiat; naltrexone, sebuah reseptor opioid antagonis yang membantu mencegah kambuhan opiat atau alkohol dengan menghalangi “high”; acamprosate, yang dapat membantu mengurangi keinginan; dan disulfiram (Antabuse), yang membantu mencegah kambuhan alkohol dengan menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan seperti mual.

Buprenorfin (reseptor agonis opioid parsial) mungkin lebih baik daripada metadon (agonis penuh) untuk orang dengan HIV karena lebih aman berkaitan dengan overdosis, menyebabkan lebih sedikit efek samping, dapat digunakan dengan selang satu hari dan bukan digunakan setiap hari, dan klinisi HIV dapat menyediakan dengan resep, tidak seperti opioid yang dikontrol lebih ketat. Namun, beberapa orang dengan penggunaan narkoba yang berat dan lama serta memiliki toleransi opioid tinggi mungkin memerlukan metadon.

Center for Substance Abuse Treatment (CSAT) dan Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) memiliki situs web pencari pengobatan www.csat.samhsa.gov yang dapat membantu pasien dan penyedia untuk menemukan program pengobatan yang tepat.

Beralih ke alkohol, para penulis menjelaskan bahwa ketergantungan alkohol “menurunkan efektivitas pengobatan HIV dengan mempengaruhi akses dan kepatuhan terhadap ART ...” Perawatan psikososial mengintegrasikan ketergantungan alkohol dan obat-obatan perawatan seperti naltrexone, disulfiram, atau acamprosate.

Sebuah potensi kekurangan obat pendamping untuk mengatasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat bagi orang HIV positif adalah potensi mereka untuk berinteraksi dengan obat antiretroviral. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) dan beberapa protease inhibitor telah ditemukan dapat berinteraksi dengan metadon karena mereka dimetabolisme oleh enzim hati yang sama, berpotensi menyebabkan gejala putus zat dan dosis metadon yang memerlukan penyesuaian. Buprenorfin memiliki lebih sedikit interaksi semacam itu. Interaksi antara obat HIV disulfiram belum dipelajari dengan baik.

“Meskipun interferon, yang dimanfaatkan dalam pengobatan hepatitis B dan C, memiliki gejala tumpang tindih yang luas dengan opioid (misalnya gejala mirip flu), penelitian belum menunjukkan interaksi farmakokinetik,” para penulis mencatat. “Namun, dalam pengalaman kami, banyak pasien akan meminta peningkatan dosis metadon karena gejala-gejala ini.”

Para penulis menyebutkan penggunaan bupropion (Zyban, Wellbutrin) dan varenicline (Chantix) untuk membantu berhenti merokok, mengarahkan pembaca ke sebuah panduan yang telah diperbarui mengenai ketergantungan nikotin yang diterbitkan oleh Office of the Surgeon General.. Saat ini tidak ada obat yang disetujui FDA untuk pengobatan untuk penyalahgunaan obat-obat stimulan seperti kokain atau metamfetamin.

Obat antiretroviral dapat berinteraksi dengan benzodiazepin, sedatif yang diresepkan untuk tujuan terapeutik dan rekreasional. Beberapa obat ini – dan juga ekstasi dan senyawa terkait – berpotensi dapat berinteraksi dengan ARV, meskipun laporan terhadap efek yang merugikan adalah jarang.

“Model yang berpusat pada pasien yang mempromosikan perawatan dan pengobatan pada individu yang menyalahgunakan atau tergantung pada obat-obatan/alkohol mengalamatkan mereka yang paling terpisah dari masyarakat dan yang paling sering mengalami keterlambatan diagnosis infeksi HIV sehingga menghasilkan hasil klinis yang buruk,” penulis tinjauan menyimpulkan. “Model program perawatan kesehatan sedang dikembangkan dan dikemudikan dan mencakup model terpadu dengan pengobatan kecanduan dan HIV, model perawatan HIV dasar, model perawatan kesehatan non medis, dan model penjangkauan masyarakat.”

“Implementasi model seperti perawatan dan penggabungan model ini dengan perawatan medis secara bermakna memiliki dampak terhadap epidemi HIV di Amerika Serikat yang terus mempengaruhi ras dan etnis minoritas pada tingkat yang tidak seimbang dan meningkat di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki,” mereka melanjutkan. “Model-model ini akan memungkinkan komunitas medis untuk memberikan perawatan medis yang komprehensif bagi pengguna zat dan mengelola penyakit kronis lainnya, terutama, penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes, non-kanker terdefinisi AIDS dan meningkatkan kualitas hidup mereka melalui perubahan gaya hidup pencegahan termasuk berhenti merokok, pengurangan berat badan, program latihan dan modifikasi diet. “

Yale University School of Medicine, New Haven, CT; Center for Substance Abuse Treatment, Substance Abuse and Mental Health Services Administration, Rockville, MD; Department of Psychiatry, University of California, San Francisco, CA.

Ringkasan: Medication-assisted Treatment of Drug and Alcohol Abuse and Dependence for People with HIV

Sumber: RD Bruce, TF Kresina, and EF McCance-Katz. Medication-assisted treatment and HIV/AIDS: aspects in treating HIV-infected drug users. AIDS 24(3): 331-3404 (Abstract). January 28, 2010.

Edit terakhir: 9 Maret 2010