| Tenofovir belum tentu buruk bagi ginjal | Unduh versi PDF |
| Oleh: aidsmeds.com | Tgl. laporan: 29 Agustus 2009 |
Sebagai bagian dari rejimen terapi antiretroviral (ART) lini pertama, dampak tenofovir terhadap ginjal belum tentu lebih buruk dibandingkan obat lain misalnya abacavir. Hal itu berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 25 Agustus 2009 versi internet. Namun, kombinasi tenofovir dengan PI yang dikuatkan oleh ritonavir menunjukkan penurunan fungsi ginjal.
Walaupun sebagian besar uji coba klinis terhadap tenofovir tidak menemukan tanda disfungsi ginjal, ada beberapa laporan kasus mengenai dampak buruk tenofovir terhadap ginjal, terutama dengan menyebabkan disfungsi tabung penyaring protein yang dikeluarkan dalam urin dan pengembangan sindrom Fanconi, yang berdampak pada fungsi ginjal untuk menyerap kembali.
Untuk menentukan apakah tenofovir dapat menurunkan fungsi ginjal, Joel Gallant MD. MPH, dan Richard Moore MD, dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, AS menilai rekam medis 432 pasien HIV-positif yang baru pertama kali mulai ART di klinik HIV-nya. Hampir separuh pasien mulai dengan rejimen yang mengandung tenofovir, dan sisanya mulai dengan rejimen yang mengandung NRTI. NRTI yang paling umum dipakai adalah AZT, lalu abacavir dan d4T. Fungsi ginjal dinilai dengan menghitung tingkat glomerular filtration (GFR) ginjal. Titik akhir kedua penelitian itu adalah 25% atau 50% penurunan GFR setelah dua tahun masa tindak lanjut.
Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan antara tenofovir dan NRTI pada proporsi pasien yang mencapai 25 atau 50% penurunan GFR. Satu-satunya faktor yang terkait dengan kemungkinan penurunan GFR di atas 25% adalah usia lebih tua, jumlah CD4 di bawah 200, hipertensi dan kombinasi tenofovir PI yang dikuatkan oleh ritonavir. Ras dan diabetes tidak terkait dengan penurunan GFR.
Penulis menyimpulkan bahwa tenofovir adalah obat yang aman untuk dipakai sebagai rejimen pengobatan lini pertama, tetapi mereka menyarankan agar pasien yang lebih tua, pasien dengan jumlah CD4 rendah atau hipertensi serta pasien yang mengombinasikan tenofovir dengan PI yang dikuatkan oleh ritonavir harus dipantau secara lebih ketat.
Artikel asli: Tenofovir Not Necessarily Hard on the Kidneys
Edit terakhir: 28 September 2009