Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Vaksin TB yang sedang dalam uji coba Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Miriam Mannak, Inter Press Service Tgl. laporan: 3 Agustus 2009

Untuk pertama kalinya dalam 80 tahun, vaksin tuberkulosis (TB) baru sudah memasuki tahap uji coba klinis terhadap kemanjurannya. Walaupun para pengembang optimistis dengan hasilnya, para pakar paru dan TB mengingatkan agar jangan terlalu gembira dahulu.

Bakteri penyebab TB adalah bakteri yang rumit, karena orang dapat mengalami sakit TB lebih dari satu kali – berbeda apabila dibandingkan dengan penyakit lain misalnya cacar,” kata Anthony Harries, ketua departemen penelitian dari International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.

Lembaga itu, berpusat di Paris, Prancis bertujuan memberi keahlian, solusi dan dukungan untuk menghadapi tantangan kesehatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Hal itu membuat pengembangan vaksin yang melindungi orang seumur hidupnya menjadi jauh lebih sulit dibandingkan mengembangkan vaksin untuk penyakit yang hanya terjadi satu kali,” kata Harries.

“Berdasarkan pengalaman saya, para pengembang berhasil mengeluarkan dan memisahkan gen dari bakteri TB yang memicu tanggapan kekebalan secara keseluruhan,” dia menambahkan. “Hal itu sangat baik, tetapi saya pikir kita harus menunggu dan melihat hasil uji coba tersebut sebelum kita berlompat gembira.”

Vaksin TB, yang sedang diuji di Worcester, yang berjarak kurang lebih satu jam dengan kendaraan dari Cape Town, dikembangkan oleh South African Tuberculosis Vaccine Initiative (SATVI), didukung oleh Aeras Global TB Vaccine Foundation (AERAS); organisasi yang didedikasikan untuk penelitian HIV/TB.

“Orang yang meragukan kemanjuran vaksin baru yang sedang dikembangkan itu, adalah salah,” kata Jerry Sadoff, Presiden dan CEO AERAS. “Vaksin itu sudah memasuki stadium akhir uji coba Fase-II, artinya obat itu tidak toksik dan ditemukan efektif,” katanya.

“Kami mengakui bahwa lebih sulit untuk mengembangkan vaksin TB dibandingkan penyakit lain misalnya hepatitis, karena orang dapat mengalami sakit TB lebih dari satu kali,” Sadoff mengatakan kepada IPS.

“Oleh karena itu kita perlu mengembangkan obat yang memicu reaksi yang berbeda pada sistem kekebalan. Tampaknya kita mampu melakukan hal itu: kita telah menentukan bahwa obat itu bekerja dengan baik pada uji coba Fase-IIb, sekarang kita perlu mengetahui takaran yang diperlukan.”

Berita tentang uji coba vaksin TB baru diumumkan dalam Konferensi International AIDS Society (IAS) ke-5 tentang Patogenesis, Pengobatan dan Pencegahan HIV di Cape Town , Juli 2009.

Uji coba secara klinis, yaitu saat bakal obat diuji pada manusia, terdiri dari tiga tahap atau fase. Fase-I bertujuan untuk melihat apakah obat itu aman dipakai pada manusia, dan melibatkan kelompok kecil yang terdiri dari 20-50 relawan.

Fase-II yang bertujuan untuk melihat apakah obat itu bekerja dengan baik, melibatkan ratusan relawan, dan sering dibagi menjadi dua subtahap. Sementara Fase-IIa menilai seberapa baik obat itu bekerja, Fase-IIb berpusat pada takaran yang harus diberikan pada pasien agar obat bekerja dengan baik.

Uji coba fase ketiga dan terakhir adalah penilaian pasti terhadap potensi obat baru. Fase III melibatkan jumlah relawan yang lebih banyak, kadang hingga ribuan orang, yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok menerima obat, kelompok lain diberi plasebo.

Memerlukan hingga 20 tahun sebelum bakal obat baru mendapatkan lampu hijau.

Obat yang berhasil melalui penelitian Fase-II tidak tentu dilanjutkan. Pada 2007, uji coba Fase-III pada gel mikrobisida yang ditujukan untuk mencegah infeksi HIV pada perempuan dihentikan setelah para ilmuwan menemukan bahwa lebih banyak peserta pengguna gel itu terinfeksi dibandingkan kelompok plasebo.

Pengembangan bakal vaksin TB dimulai delapan tahun lalu, dan akan diuji pada lebih dari 2.700 anak selama beberapa tahun mendatang.

“Apabila segalanya berjalan sesuai rencana, vaksin akan tersedia pada 2016,” kata Sadoff.

Salah satu kekhawatiran yang diangkat selama konferensi oleh komunitas, adalah apakah orang di negara berkembang – yang paling terbeban oleh TB – mampu membeli vaksin itu.

“Harga vaksin baru tidak akan berubah, dan akan mencapai kurang lebih 8-10 sen dolar AS per dosis,” Sadoff menjelaskan. “Harga itu sebanding dengan harga vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) saat ini.”

Alasan di balik pengembangan vaksin TB baru karena vaksin BCG yang sekarang dipakai, dikembangkan pada 1920-an, terbukti tidak efektif untuk melindungi orang dewasa terhadap bakteri TB.

“Vaksin BCG memang melindungi anak terhadap pengembangan jenis TB aktif yang berat, tetapi hanya sampai dengan usia 15 tahun. Setelah itu, orang tidak lagi terlindungi,” kata Harries. “Masalah BCG adalah bahwa kita tidak dapat memberikan dosis kedua setelah perlindungan dari dosis pertama sudah habis.”

Di Afrika, terutama pada orang dewasa dan remaja yang mengembangkan TB, sering juga karena terinfeksi HIV. Odha, karena sistem kekebalannya melemah, lebih rentan terhadap TB.

“Diperkirakan bahwa Odha memiliki kemungkinan mengembangkan TB 10% per tahun,” Harries menjelaskan. “Orang yang HIV-negatif, memiliki kemungkinan mengembangkan TB 10% seumur hidupnya.”

Berdasarkan laporan Global TB Report 2009 oleh WHO, pada 2007 ada 9,27 juta infeksi TB baru, dan 1,7 juta orang di seluruh dunia – 456.000 di antaranya yang juga terinfeksi HIV, meninggal akibat TB.

Di Afrika Selatan, salah satu negara dengan beban TB tertinggi, dari 461.000 kasus yang tercatat pada 2007, 336.000 terjadi di antara Odha. Di antara 112.000 orang yang meninggal akibat TB, 94.000 adalah HIV-positif.

Terlepas pada besarnya masalah TB di Afrika dan negara berkembang lainnya, para ilmuwan baru mulai mencari vaksin pada kurang lebih 8-9 tahun lalu.

“Setelah ditemukan, BCG terbukti efektif di Eropa, dan prevalensi menurun secara cepat,” kata Sadoff. “Oleh karena itu, orang di negara Barat menganggap TB sudah dikalahkan, sehingga tidak membuat vaksin baru – walau kenyataannya TB kembali menyerang secara ganas di negara berkembang, khususnya di antara Odha,” dia menambahkan.

“Yang penting, TB dikenal sebagai penyakit orang miskin, sehingga tidak banyak diperhatikan. Hal itu berubah dengan munculnya TB yang resistan terhadap berbagai jenis obat (Multi-drug Resistant TB/TB-MDR) dan TB yang resistan secara luas terhadap berbagai obat (Extreme Drug Resistance TB/TB-XDR), yang dianggap sebagai ancaman dunia apabila tidak dibatasi pada Afrika.”

TB-MDR resistan terhadap dua obat TB yang terbaik, dan TB-XDR resistan terhadap sebagian besar obat lini pertama dan kedua. Pada 90% kasus, TB-XDR dapat mematikan. Kedua jenis TB yang resistan terhadap obat dapat muncul apabila pasien TB tidak patuh pada obat lini pertamanya, yang harus dipakai sampai dengan enam bulan.

“Untuk mencegah kematian akibat TB – baik jenis TB biasa maupun TB yang resistan terhadap obat, kita lebih membutuhkan vaksin ini daripada sebelumnya,” kata Sadoff. “Dan kemungkinannya adalah kita hampir mendapatkannya.”

Artikel asli: TB Vaccine In The Pipeline

Edit terakhir: 2 September 2009