| Tes resistansi obat dianjurkan untuk pasien yang diduga TB-IRIS | Unduh versi PDF |
| Oleh: Hayden Eastwood, aidsmap.com | Tgl. laporan: 10 Maret 2009 |
Pasien koinfeksi HIV-TB dengan dugaan TB akibat sindrom pemulihan kekebalan (immune reconstitution inflammatory syndrome/IRIS) harus melakukan tes kerentanan terhadap obat sebelum mempertimbangkan pengobatan dengan kortikosteroid. Lebih lanjut, prosedur diagnostik TB-IRIS yang lebih baik dibutuhkan secara mendesak untuk membedakan TB-IRIS dari infeksi oportunistik lain.
Anjuran tersebut diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases edisi 23 Januari 2009, setelah penelitian terhadap pasien diduga TB-IRIS di Cape Town, Afrika Selatan.
TB-IRIS adalah kumpulan gejala yang sering muncul segera setelah terapi antiretroviral (ART) dimulai pada orang yang koinfeksi. Hal itu diperkirakan akibat sistem kekebalan yang pulih melakukan tanggapan terhadap peradangan khusus TB. Faktor risiko terhadap pengembangan TB-IRIS termasuk jumlah CD4 rendah, mulai ART dini [setelah terapi TB] dan keberadaan TB luar paru.
Koinfeksi HIV-TB adalah masalah besar dan terus meningkat di Afrika sub-Sahara, sehingga mengobati TB-IRIS secara efektif menjadi kian memprihatinkan.
Kasus dugaan TB-IRIS kadang diobati dengan kortikosteroid yang diharapkan mampu menghilangkan gejala dengan cara mengurangi tanggapan kekebalan peradangan terhadap infeksi TB (tanggapan terhadap peradangan diketahui sebagai penyebab utama penyakit TB).
Sebuah penelitian secara acak yang baru-baru ini dilaporkan menunjukkan bahwa pengobatan dengan steroid prednison selama empat minggu secara bermakna mengurangi kebutuhan intervensi obat pada orang yang didiagnosis TB-IRIS.
Namun, komplikasi berat dapat muncul akibat penggunaan obat kortikosteroid karena diagnosis TB-IRIS sering tidak berhasil membedakan antara infeksi TB yang resistan terhadap obat dan TB yang rentan terhadap obat.
Pada pasien dengan riwayat TB, IRIS adalah tanggapan terhadap mikobakteri yang tetap hidup, dan sebaliknya justru mengarah pada gejala yang memburukan. TB-IRIS mungkin juga menunjukkan reaksi peradangan terhadap TB yang tidak didiagnosis sebelumnya.
Di lain pihak, pada orang dengan infeksi TB resistan terhadap obat, IRIS adalah tanggapan terhadap mikobakteri dalam jaringan dan darah yang resistan terhadap obat.
Pasien yang memakai pengobatan TB, tetapi terinfeksi TB yang resistan terhadap obat (atau infeksi oportunistik lain), berisiko terhadap pemburukan yang sangat berbahaya apabila diobati dengan obat penekan kekebalan kortikosteroid karena pengobatan dengan antibiotik lini pertama diadu dengan organisme mikroba yang resistan terhadap obat.
Untuk lebih memahami sejauh mana TB-IRIS salah didiagnosis (atau menandai TB yang resistan terhadap obat), tim peneliti di Afrika Selatan meneliti dengan seksama 100 orang yang diduga menderita TB-IRIS selama 17 bulan.
Pasien yang terlibat dalam penelitian itu sedang dalam proses menerima pengobatan TB saat akan mulai ART. Resistansi terhadap obat rifampisin dinilai dengan tes cepat FASTplaque-Response dan tes kerentanan obat yang baku (tetapi lama). Gejala TB-IRIS, sebagaimana dijelaskan oleh definisi kasus baku, berkembang setelah 14 hari memakai ART.
Tujuh pasien menderita infeksi oportunistik lain yang salah diduga sebagai TB, dan lebih mengkhawatirkan, 13 didiagnosis dengan infeksi TB yang resistan terhadap rifampisin. Di antara subkelompok itu, tujuh pasien kemudian dikonfirmasi memiliki TB yang resistan terhadap berbagai jenis obat (TB-MDR).
TB tidak didiagnosis yang resistan terhadap rifampisin muncul pada 10,1% peserta penelitian (confidence interval (CI) 95%; 3,9-16,4%). Lebih rumit lagi, satu pasien diduga mengembangkan TB-MDR selama program pengobatan sementara yang lainnya diduga koinfeksi terhadap TB yang resistan dan rentan terhadap obat.
Temuan itu memberi kesan bahwa pendekatan diagnosis TB-IRIS saat ini, pada banyak kasus, tidak sesuai. Oleh karena itu para peneliti menyarankan penelitian secara menyeluruh tentang diagnosis pengganti sebelum diputuskan TB-IRIS. Lebih lanjut, penderita yang diduga TB-IRIS harus melakukan tes TB yang resistan terhadap obat secara luas (TB-XDR) sebelum dan selama pengobatan untuk mengkaji apakah infeksi TB itu adalah (atau baru saja menjadi) resistan terhadap pengobatan.
Temuan itu mendukung pandangan bahwa kortikosteroid seharusnya hanya diberikan pada pasien yang tidak memiliki TB yang resistan terhadap obat (dan TB-MDR).
Para penulis menyimpulkan bahwa prosedur tes diagnosis yang murah dibutuhkan secara mendesak untuk membantu petugas kesehatan di Afrika Selatan menilai TB yang resistan terhadap obat, lalu merancang rejimen obat yang lebih baik untuk pasien koinfeksi HIV-TB.
Ringkasan: Drug resistance tests recommended for patients with suspected TB IRIS
Sumber: Meintjes, G. et al. Novel relationship between tuberculosis immune reconstitution inflammatory syndrome and antitubercular drug resistance. Clinical Infectious Diseases 48: 667-76, 2009.
Edit terakhir: 6 April 2009