Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Uluran tangan untuk Odha Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: IRIN/PlusNews Tgl. laporan: 2 Januari 2009

Dalam sebuah komunitas kecil yang tinggal di sebidang tanah kosong di sisi bendungan air di Mount Hagen, ibukota provinsi Western Highlands Papua New Guinea (PNG), Paul Ari menyediakan tempat penampungan untuk Odha yang takut ditolak oleh keluarganya.

Odha tinggal di sana hingga mereka merasa siap untuk pulang, dengan dorongan kunjungan oleh sanak saudara yang membantu mereka memahami bahwa HIV bukanlah predikat aib atau bahaya kesehatan bagi masyarakat.

Ari hampir tidak menerima dukungan keuangan dan fasilitas di sana hanya seadanya. Perempuan dan laki-laki lebih tua yang sudah menikah tinggal di sebuah gubuk tradisional beratap rumbia, dengan tungku api di tengah ruangan dan atap yang bocor. Laki-laki yang lebih muda memiliki tempat sendiri yang lebih kecil dan Ari tinggal di rumahnya sendiri yang terbuat dari tanah liat di bagian belakang lahan tersebut.

Sebuah kebun tersendiri atau “pusat menenangkan jiwa” menyediakan pusat spiritual bagi komunitas sementara kebun sayuran dan peternakan babi yang kecil membantu menghasilkan uang untuk ke 14 orang yang saat ini tinggal di sana.

Pemulihan spiritual

Ari dilatih untuk menjadi pendeta tetapi dia berhenti karena ingin melakukan sesuatu yang berdampak langsung pada kemanusiaan. Pada malam hari dia bekerja di hotel dan sebagai penjahit, dia mampu menghasilkan uang yang cukup sebagai uang muka pembelian lahan untuk komunitas, walaupun dia masih memiliki hutang 2.700 dolar AS.

“Saya sudah melihat bayak orang menjadi sakit dan menderita dan saya ingin menolong, saya ingin masyarakat turut membantu agar supaya klien saya dapat hidup secara normal,” Ari mengatakan. “Mereka menemukan harapan di dalam diri saya, mereka mendapatkan kedamaian, mereka mendapatkan kasih sayang, mereka mendapatkan segala yang dibutuhkan di sini.”

Orang tahu tempat ini dari mulut ke mulut, bahkan klinik di Mount Hagen baru mengetahui keberadaan tempat itu belum lama ini. Agnes Mek, ketua klinik HIV Rebiamul sekarang adalah salah satu penggemar terbesar Ari.

“Orang datang ke tempat Paul karena mereka menginginkan bantuan spiritual dan juga psikologis. Mereka membangun hubungan kebersamaan,” dia menjelaskan.

Sedikitnya 2% dari enam juta penduduk PNG yang diperkirakan hidup dengan HIV, tetapi prevalensi itu diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 5% pada 2012, dengan lebih dari dua pertiga kasus di daerah pedesaan.

Menolong diri sendiri

Ari ingin keluarga mengambil “kepemilikan” kliennya sebelum mendorong mereka pulang. “Saya tunjukkan kepada sanak keluarga bahwa tidak mungkin mereka akan tertular HIV; saya saling berbagi dengan orang di komunitas, makan bersama dengan mereka sehingga para sanak saudaranya sungguh-sungguh mengerti.”

Dorothy Elijah, 20 tahun, dites HIV satu bulan setelah suaminya pedagang biji kopi di Mount Hagen meninggal dunia pada Januari 2008. Dia mengetahui dirinya positif dan menjalani pengobatan dengan Ari sejak jatuh sakit satu bulan lalu, tetapi berniat kembali ke rumah orang tuanya setelah dia pulih. “Mereka tidak berbicara buruk tentang status saya,” dia mengatakan.

Berdasarkan penelitian tentang keadaan HIV di PNG yang didukung oleh Asia Development Bank (ADB) pada 2007, “Terus beredar cerita tentang penolakan, pengasingan, bahkan pembunuhan terhadap Odha.” Namun, ditambahkan, “Di tempat dengan upaya yang dipusatkan untuk mendidik keluarga dan penduduk desa, hasilnya sering kali positif, misalnya orang merawat keluarganya dan beban hidup dengan HIV menjadi berkurang.”

True Warriors adalah organisasi Odha di Mount Hagen yang memiliki 300 anggota. Wakil presiden Steven Taka berpendapat bahwa membuka status membantu para anggota mengurangi stigma yang dihadapinya.”Kami membuka status kami untuk menghentikan stigma dan diskriminasi,” dia mengatakan.

Namun Helen Samilo, salah satu Odha di PNG yang membuka status HIV-nya, mengatakan bahwa hambatan lain yang harus ditangani oleh Odha: salah satu yang terberat adalah rasa rendah diri yang menghancurkan.

“Orang masih memiliki kesalahpahaman tentang HIV, bahwa orang yang hidup dengan HIV tidak dapat berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri, membuat mereka menjadi tergantung pada organisasi yang menanggung mereka,” dia mengatakan.

Walaupun undang-undang bertujuan melindungi hak Odha, “hanya unsur yang terkait dengan penularan yang disengaja yang mendapatkan perhatian,” penelitian ADB menunjukkan.

Samilo menginginkan kebijakan yang lebih menguatkan, membangun kondisi tempat kerja yang mendorong untuk tetap bekerja atau membangun keterampilan baru yang membuat mereka menjadi produktif dan mandiri.

“Orang menunjukkan simpati, tetapi mereka tidak menunjukkan empati dalam budaya PNG,” dia mengatakan. “Odha perlu diberi lebih banyak empati, sehingga mereka dapat diberdayakan untuk melakukan sesuatu untuk mereka sendiri secara mandiri.”

Artikel asli: A helping hand for people living with HIV

Edit terakhir: 28 Januari 2009