| Etravirine sekali sehari seharusnya berhasil sebagai pengobatan lini pertama | Unduh versi PDF |
| Oleh: Gus Cairns, aidsmap.com | Tgl. laporan: 16 November 2008 |
Etravirine (TMC125), obat NNRTI dosis sekali sehari yang baru disetujui, memadai untuk menekan HIV pada pasien yang tidak resistan terhadap NNRTI. Hal ini disampaikan dalam Congress on Drug Therapy in HIV Infection ke-9. Takaran etravirine yang baru disetujui tersebut adalah dua tablet 100mg dipakai dua kali sehari.
Thomas Kakuda dari Tibotec, produsen etravirine, mengatakan dalam Konferensi bahwa tingkat etravirine rata-rata terendah yang tampak dalam uji coba pada darah Odha yang memakai obat sekali sehari adalah 58 hingga 59 kali lebih tinggi daripada yang diperlukan untuk mencegah 50% replikasi HIV (IC50). Dosis tersebut tampak bekerja sama baiknya terhadap HIV yang tidak resistan sebagaimana dengan dosis dua kali sehari, tetapi penelitian klinis yang lebih besar diperlukan sebelum dosis sekali sehari dapat disarankan.
Etravirine adalah calon obat dosis sekali sehari, karena obat tersebut memiliki ‘terminal half-life’ (masa paro terminal) selama 30-40 jam, Kakuda mengatakan; maksudnya; etravirine membutuhkan 30-40 jam untuk menguraikan separuh obat dalam tubuh. Dalam penelitian sebelumnya pada relawan yang HIV-negatif, jumlah pajanan obat dalam tubuh (‘luas di bawah kurva’ atau AUC) adalah serupa dengan dosis dua kali sehari.
Apabila dipakai sebagai dosis sekali sehari (QD), tingkat tertinggi obat yang diserap dalam tubuh adalah 44% lebih tinggi dan tingkat terendah atau tingkat cekungan adalah 25% lebih rendah dibandingkan dosis dua kali sehari (BID). Karena etravirine dirancang untuk mengatasi resistansi NNRTI tingkat sedang, tingkat cekungan 25% lebih rendah dibandingkan yang dicapai dengan dosis dua kali sehari, seharusnya lebih dari cukup untuk menekan virus yang tidak resistan.
Penelitian ini juga dirancang untuk mengukur tingkat etravirine dosis sekali sehari yang digabungkan dengan PI darunavir buatan Tibotec; hal ini karena darunavir mengurangi tingkat etravirine dalam darah sebanyak 37%.
Dua puluh tiga pasien Odha yang belum pernah memakai ARV dan yang tidak resistan terhadap NNRTI diberi etravirine plus tenofovir/FTC (Truvada) dosis sekali sehari selama 14 hari. Kemudian darunavir-plus-ritonavir (DRV/r) dosis sekali sehari ditambahkan selama 14 hari; pada akhirnya etravirine dihentikan dan pasien melanjutkan memakai DRV/r plus Truvada.
Dua puluh pasien adalah laki-laki dan kelompok terdiri dari etnis yang jumlahnya cukup seimbang (sembilan berkulit putih, sembilan berkulit hitam dan lima Hispanik). Usia rata-rata adalah 36 tahun dan viral load rata-rata adalah 16.000. Tingkat etravirine dalam darah diukur pada hari ke-14. Pada saat itu tingkat etravirine rata-rata terendah dalam darah adalah 233 nanogram (sepermiliar gram) per mililiter (ng/ml). Angka ini dibandingkan dengan 298ng/ml yang diamati pada dosis dua kali sehari dalam penelitian DUET yang menggabungkan etravirine dengan darunavir dosis dua kali sehari. AUC-nya adalah 10.410ng/ml per jam, kurang lebih dua kali 5.079ng/ml/jam yang diamati dalam penelitian DUET, dan apa yang dapat diharapkan apabila obat yang dua kali takarannya diberikan setengah kali.
Tingkat obat diukur kembali pada hari ke-28 setelah diberi tambahan DRV/r. Secara nyata tidak ada perubahan pada tingkat etravirine, dengan tingkat terendah 236ng/ml dan AUC 10.720ng/ml/jam. Tingkat darunavir kurang lebih 20% lebih tinggi dibandingkan pada peserta tanpa etravirine yang diamati dalam penelitian lain.
Viral load pasien turun sebanyak 1,5 log (kurang lebih 30 kali lipat) pada 14 hari pertama setelah memakai etravirine dan turun sebanyak 2 log (100 kali lipat) pada 28 hari setelah ditambahkan DRV/r. Jumlah CD4 pasien meningkat kurang lebih 56 sel. Tidak ada efek samping berat akibat obat atau penghentian obat; empat pasien mengalami ruam, dua akibat etravirine dan dua akibat darunavir.
“Etravirine sekali sehari menunjukkan kegiatan yang baik, paling sedikit pada pasien yang belum pernah memakai ARV (naif-ARV),” Kakuda berkomentar. “Data farmakokinetik [penyerapan obat] mendukung penelitian secara klinis lebih lanjut terhadap dosis sekali sehari.”
Penelitian Tibotec membuka jalan bagi obat baru yang lengkap tanpa rejimen NRTI yang dipakai sekali sehari sebagai pengobatan lini pertama, walaupun pendekatan tersebut membutuhkan penelitian pada etravirine dosis sekali sehari dan kombinasi pengobatan ini tanpa NRTI sekali sehari
Ringkasan: Once a day etravirine should work as first-line treatment
Sumber: Lalezari J et al (presenter Kakuda T). Pharmacokinetics (PK) of once-daily etravirine (ETR) without and with once-daily darunavir/ritonavir (DRV/r) in antiretroviral-naïve HIV-1 infected adults. Ninth International Congress on Drug Therapy in HIV Infection, Glasgow. Abstract O413. 2008.
Edit terakhir: 15 Desember 2008