| Sepertiga Odha di Botswana memiliki gen yang memperlambat penguraian efavirenz, meningkatkan risiko efek samping | Unduh versi PDF |
| Oleh: Michael Carter, aidsmap.com | Tgl. laporan: 4 November 2008 |
Banyak pasien HIV-positif di Botswana memiliki gen yang terkait dengan metabolisme lamban efavirenz, obat antiretroviral (ARV) kunci. Hal ini berdasarkan sebuah laporan dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi November 2008. Metabolisme efavirenz yang lamban dapat meningkatkan risiko efek samping pada susunan saraf pusat (SSP). Menentukan pasien dengan gen yang memperlamban metabolisme efavirenz memungkinkan dokter untuk menyesuaikan takaran efavirenz dan mengurangi risiko efek samping.
Efavirenz adalah NNRTI yang disarankan sebagai ART lini pertama dalam pedoman pengobatan di seluruh dunia. Efavirenz dipakai secara luas sebagai ART takaran tetap di rangkaian terbatas sumber daya, termasuk di Botswana.
Efavirenz diproses oleh tubuh dengan memakai jalur di hati yang disebut P450 2B6. Mutasi genetik dalam jalur tersebut dapat berdampak pada kecepatan tubuh mengurai obat dan selanjutnya berdampak pada kepadatan obat. Tingkat kepadatan efavirenz yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko efek samping SSP, misalnya gangguan suasana hati dan gangguan tidur, sementara tingkat kepadatan efavirenz yang rendah dapat berarti bahwa obat tersebut tidak berhasil menekan HIV secara tepat.
Para peneliti ingin melihat frekuensi gen yang disebut CYP2B6*6 (terkait dengan metabolisme efavirenz yang lamban) ditemukan pada pasien HIV-positif keturunan Afrika di Botswana. Para peneliti melakukan tes terhadap 101 pasien pada Juli 2007. Pasien tersebut merupakan “sampel yang mudah”, didapatkan dari 800 pasien HIV-positif yang mengunjungi klinik selama lima hari.
Separuh lebih sedikit (52%) pasien adalah perempuan, median usia adalah 39 tahun, median jumlah CD4 adalah 352, dan median viral load adalah 150.000.
Para peneliti menemukan bahwa 37% pasien memiliki gen CYP2B6*6. “Temuan tersebut kemungkinan berdampak penting untuk pengobatan HIV di rangkaian tersebut,” para peneliti menulis, mencatat bahwa gen tersebut dikaitkan dengan tingkat kepadatan efavirenz yang lebih tinggi, yang selanjutnya dikaitkan dengan “peningkatan kejadian toksisitas SSP.”
Sebuah penelitian menemukan bahwa mengurangi takaran efavirenz mengurangi risiko efek samping terhadap SSP tetapi tetap mempertahankan penekanan HIV. Namun, para peneliti mencatat bahwa “pendekatan penyesuaian takaran obat perlu diuji dalam penelitian yang lebih besar sebelum diterapkan secara luas.”
Sumber: Gross R et al. Slow efavirenz metabolism genotype is common in Botswana. J Acquir Immune Defic Syndr 49: 336-337, 2008.
Edit terakhir: 1 Desember 2008