| Efavirenz lebih baik dari lopinavir/ritonavir untuk pengobatan penyakit HIV lanjut | Unduh versi PDF |
| Oleh: Tim Horn, aidsmeds.com | Tgl. laporan: 6 Agustus 2008 |
Orang HIV-positif dengan jumlah CD4 sangat rendah yang baru pertama kali mulai terapi, lebih mungkin mempertahankan viral load tidak terdeteksi, dan tetap bertahan pada pengobatan apabila memakai rejimen yang mengandung efavirenz (Sustiva) dibandingkan lopinavir/ritonavir (Kaletra). Hal ini berdasarkan sebuah penelitian baru di Meksiko yang dilaporkan dalam International AIDS Conference ke-17.
Walau sebuah uji coba klinis besar yang dilakukan di AS (ACTG 5142) menyimpulkan bahwa efavirenz danKaletra kurang lebih serupa dalam hal efektivitas dan tingkat penghentian pengobatan karena efek samping, penelitian tersebut mendaftarkan pasien dengan jumlah CD4 relatif tinggi. Di Meksiko dan negara berpendapatan rendah serta menengah lain, dan kurang lebih 25% orang HIV-positif di AS, banyak orang HIV-positif tidak didiagnosis dengan infeksi dan memulai pengobatan sampai mereka sakit dengan komplikasi terkait AIDS dan memiliki jumlah CD4 sangat rendah. Sebaliknya, penulis penelitian yang melakukan presentasi Juan Sierra-Madero, MD dari National Institute of Medical Sciences di Meksiko, menjelaskan bahwa adalah penting untuk menentukan jenis ARV yang paling mungkin berhasil pada pasien dengan penyakit HIV lanjut.
Untuk meneliti kemungkinan perbedaan antara efavirenz dan Kaletra – dua pilihan pengobatan lini pertama yang terbaik di dunia – Dr. Sierra-Madero dan rekan melakukan uji coba klinis yang melibatkan 189 pasien dengan jumlah CD4 sangat rendah yang mulai pengobatan HIV untuk pertama kalinya. Sembilan puluh lima pasien menerima efavirenz plus AZT/3TC dan94 menerima Kaletra plus AZT/3TC.
Jumlah CD4 rata-rata pada kelompok efavirenz, pada saat mulai penelitian adalah 64. Pada kelompok Kaletra, jumlah CD4 rata-rata sebelum pengobatan adalah 52. Hampir separuh pasien yang terdaftar dalam penelitian memiliki jumlah CD4 di bawah 50 sebelum mulai rejimen yang diberikan pada mereka.
Setelah hampir satu tahun (48 minggu) dengan pengobatan, 71% pasien dalam kelompok efavirenz tetap memakai pengobatan, dibandingkan 58% di antara mereka yang semula ditunjuk untuk menerima Kaletra. Perbedaan ini bermakna secara statistik, berarti bahwa persentase tersebut terlalu besar untuk terjadi secara kebetulan.
Sierra-Madero melaporkan bahwa kegagalan virologi – tidak berhasil mendorong viral load ke tingkat tidak terdeteksi atau mengalami peningkatan kembali pada viral load - dan efek samping, keduanya dituduh sebagai penyebab tingkat penghentian pengobatan yang lebih tinggi pada kelompok Kaletra.
Pasien yang menerima efavirenz plus AZT/3TC juga lebih mungkin untuk memiliki viral load tidak terdeteksi pada akhir penelitian. Kurang lebih 70% di antara kelompok efavirenz memiliki viral load di bawah 50 setelah 48 minggu, dibandingkan 53% pada kelompok Kaletra. Perbedaan ini juga bermakna secara statistik.
Walau penelitian ini dirancang untuk menunjukkan bahwa sebuah rejimen tidak lebih buruk dari yang lainnya, perbedaan yang bermakna di antara kedua kelompok memungkinkan Sierra-Madero dan rekan penulis penelitiannya untuk menyimpulkan bahwa efavirenz lebih baik daripada Kaletra pada mereka yang mulai pengobatan dengan jumlah CD4 sangat rendah.
Sebagaimana yang terjadi pada penelitian lain, tingkat kejadian efek samping terhadap susunan saraf pusat (SSP) adalah lebih tinggi di antara peserta dalam kelompok efavirenz, sedangkan peserta yang memakai Kaletra lebih mungkin mengalami peningkatan trigliserid.
Sierra-Madero mencatat bahwa penelitian ini terbatas oleh ukuran sampel yang kecil dan hanya berpusat pada satu negara. Tetapi dia juga berpendapat bahwa data tersebut cukup kuat untuk membantu pengambilan keputusan pengobatan bagi pasien dengan penyakit HIV lanjut.
Artikel asli: Sustiva Bests Kaletra for Treatment of Advanced HIV Disease
Edit terakhir: 28 Agustus 2008