Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Hasil akurasi tes kunci fungsi ginjal pada pasien HIV kurang baik Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 18 Februari 2008

Tes urin dengan dipstik mungkin adalah cara yang buruk untuk menentukan apakah pasien Odha mempunyai protein dalam air seninya, yang merupakan tanda penting terhadap penyakit fungsi ginjal. Hal ini berdasarkan penelitian AS yang diterbitkan dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi 1 Februari 2008.

Para peneliti memasangkan tes dipstik dengan tes rasio protein banding kreatinin yang diperoleh dari pasien yang sama dalam waktu 24 jam dan menemukan bahwa lebih dari seperlima tes dipstik tidak berhasil mendeteksi tingkat protein yang bermakna pada air seni. Mereka menghimbau penelitian lebih lanjut untuk menemukan cara terbaik untuk melakukan skrining terhadap penyakit fungsi ginjal pada pasien Odha.

Penyakit fungsi ginjal semakin menjadi penyebab penting terhadap penyakit dan kematian pasien Odha. Sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini termasuk penuaan pasien Odha dan prevalensi tinggi di antara pasien Odha dengan kodisi lain yang mampu menjadi penyebab penyakit fungsi ginjal.

Banyak orang dengan penyakit fungsi ginjal mempunyai protein dalam air seni mereka, dan hal ini sering disebut proteinuria.

Dibandingkan dengan populasi umum, pasien Odha secara bermakna lebih mungkin mengalami proteinuria. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap perempuan Odha sebelum pengobatan antiretroviral (ART) tersedia menemukan bahwa tingkat proteinuria (dipstik > 1+) dikaitkan dengan dua kali risiko terhadap kematian. Sebuah penelitian lain menemukan bahwa proteinuria meningkatkan risiko Odha terhadap rawat inap sebanyak 50% dan risiko terhadap penyakit kardiovaskular sebanyak 40%.

Pedoman penatalaksanaan penyakit fungsi ginjal kronis pada pasien Odha yang dikeluarkan oleh Infectious Diseases Society AS menyarankan bahwa tes dipstik air seni harus dipakai untuk mendeteksi kelainan fungsi ginjal pada populasi ini. Tes ini harus mampu mendeteksi penyakit fungsi ginjal dengan batas proteinuria 1+.

Tetapi tes dipstik mengukur tingkat albumin, dan apabila air seni tercampur air maka akan mempengaruhi ketepatan tes. Lebih lanjut, beberapa bentuk penyakit fungsi ginjal, termasuk kerusakan tubular, tidak dapat didiagnosis secara tepat dengan memakai tes dipstik.

Deteksi lebih dini adalah penting untuk menatalaksana penyakit fungsi ginjal pada pasien Odha. Oleh karena itu penting bahwa petugas kesehatan memakai tes yang paling tepat untuk mendeteksi kelainan tersebut.

Para peneliti dari Universitas Johns Hopkins membandingkan ketepatan dua jenis tes tersebut untuk mengukur tingkat protein dalam air seni: tes dipstik air seni dan tes rasio protein banding kreatinin.

Penelitian mereka melibatkan 165 pasien Odha yang dirawat di Johns Hopkins Nephrology Clinic antara 1995 dan 2005. Pasien yang terlibat dalam penelitian ini menjalani kedua tes tersebut dalam tenggang waktu 24 jam.

Tes dipstik memiliki sensitivitas untuk mendeteksi proteinuria di atas 1+. Tes rasio protein banding kreatinin yang dipilih sebagai pembanding adalah 0,30 banding 0,99.

Pasien rata-rata berusia 45 tahun, 59% adalah laki-laki dan 94% adalah warga Amerika keturunan Afrika.

Hasil menunjukkan bahwa 13 dari 64 pasien (21%) mempunyai rasio protein banding kreatinin rendah yang tidak normal, dan mempunyai hasil tes air seni dipstik yang normal.

“Hasil penelitian kami memberi kesan bahwa tes dipstik air seni mungkin bukan alat yang tepat untuk melakukan skrining proteinuria pada pasien Odha”, komentar pada peneliti.

Mereka menambahkan, “pada tingkat proteinuria yang bermakna secara klinis...batas proteinuria >1+ mempunyai tingkat negatif palsu sebanyak 21%.”

Hal ini dapat mengakibatkan dampak klinis berat terhadap sejumlah pasien yang bermakna. Para peneliti menulis, “sebanyak satu dari lima pasien dengan proteinuria dalam kisaran ini mungkin tidak dapat dikenali dan dapat menyebabkan penundaan persiapan dan pengobatan.”

Para peneliti menyimpulkan, “sebagai kesimpulan, selain saran untuk memakai tes dipstik air seni untuk menskrining penyakit ginjal pada populasi Odha, ketetapan tes kualitatif yang buruk mencegah satu-satunya cara cepat yang tepat sebagai tanda yang dapat diandalkan untuk memprediksi proteinuria di kisaran oleh dokter HIV dapat dipertimbangkan untuk melibatkan persiapan pengobatan ginjal lebih lanjut.”

Oleh karena itu mereka menyarankan, “mungkin tepat untuk meninjau kembali pedoman yang menyarankan memakai tes dipstik sebagai alat skrining. Penelitian lebih lanjut untuk mengukur protein, termasuk perbandingan secara acak dan pengukuran protein dalam 24 jam, mungkin membantu menentukan cara terbaik untuk skrining dan pemantauan penyakit ginjal pada pasien Odha.”

Ringkasan: Key test of kidney function has poor accuracy in patients with HIV

Sumber: Siedner MJ et al. Poor validity of urine dipstick as a screening tool for proteinuria in HIV-positive patients. J Acquir Immune Defic Syndr 47: 261 – 263, 2008.

Edit terakhir: 20 Maret 2008