Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Asia menghadapi tagihan perlawanan TB bernilai triliunan dolar AS Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: AFP Tgl. laporan: 16 Desember 2007

Sebelas negara di Asia menghadapi ancaman terbesar akibat risiko tuberkulosis (TB) yang disertai dengan beban ekonomi triliunan dolar AS dalam sepuluh tahun mendatang apabila negara tersebut tidak meningkatkan strategi anti-TB mereka. Hal ini berdasarkan penelitian terkemuka.

Dengan Cina dan India di depan, negara tersebut sudah menerapkan strategi pencegahan dan pengobatan, yang secara akrab dikenal sebagai directly observed therapy (DOTS) yang diperkenalkan oleh WHO pada 1990-an.

Tetapi strategi DOTS tidak cukup untuk mengurangi kejadian TB, terutama pada Odha dan karena resistansi obat, dan harus disusun ulang.

Penelitian World Bank yang diterbitkan beberapa minggu lalu untuk pertama kalinya mengungkap tentang manfaat ekonomi dengan memperluas strategi DOTS yang sudah diubah sesuai usulan WHO “Global Plan to Stop TB” selama periode 2006-2015.

Penelitian ini mencakup 22 negara endemi TB “beban-berat”, termasuk Cina, India, Indonesia, Filipina, Thailand, Afghanistan, Bangladesh, Kamboja, Myanmar, Pakistan dan Vietnam.

“Negara Asia ini harus berjuang dengan beban ekonomi sebesar 1,17 triliun dolar AS selama sepuluh tahun apabila pencegahan dan pengendalian TB tetap bertahan pada tingkat pengobatan yang sama dengan saat ini,” Ramanan Laxminarayan, ahli ekonomi yang mempimpin penelitian mengatakan.

“Tetapi apabila mereka menerapkan rencana global WHO, secara bersama-sama mereka dapat menghemat kurang lebih sepuluh miliar dolar AS setiap tahun atau 100 triliun dolar AS selama sepuluh tahun,” dia mengatakan. “Tetapi, di beberapa negara biaya rencana global ini mungkin lebih besar dibandingkan manfaatnya.”

TB adalah penyakit menular paling menimbulkan kematian pada orang dewasa di Asia. Negara yang paling terdampak adalah Cina, India dan Indonesia.

“Penelitian penting ini menunjukkan mengapa pengendalian TB adalah penanaman modal yang cerdas terhadap pengembangan yang bertahan di negara berpenghasilan rendah dan menengah,” dikatakan oleh Joy Phumaphi, ketua pengembangan sumber daya dari World Bank.

“Dasar kebenaran ekonomi untuk pengendalian TB ini memperkuat dorongan agar pemerintah dan para donor mengurangi prevalensi dan kematian karena TB secara tajam atas nama kesehatan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih tinggi bagi orang yang berisiko tinggi terhadap kesakitan dan kematian akibat TB,” Phumaphi mengatakan.

Dampak ekonomi pada kematian akibat TB dan manfaat pengendalian TB di antara 22 negara dengan beban paling berat adalah Cina dan India, dengan gabungan pertumbuhan penghasilan dan tingginya angka kematian akibat TB diterjemahkan sebagai dampak ekonomi yang bermakna, penelitian ini menunjukkan.

Laxminarayan menunjukkan bahwa 11 negara Asia mempunyai satu juta dari 1,7 juta kematian akibat TB dari 22 negara yang dilibatkan dalam penelitian ini, menyatakan bahwa mengembangkan penerapan DOTS akan mengurangi kematian secara bermakna.

“Menerapkan rencana global berpotensi mencegah kurang lebih 100.000 kematian orang dewasa per tahun,” dia mengatakan.

“Walaupun beban TB di Asia tidak sebesar di Afrika, namun adalah ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat,” dikatakan oleh Laxminarayan, yang bekerja pada Resources for the Future, sebuah kelompok penelitian nirlaba yang berpusat di Washington, AS.

WHO dan pakar World Bank juga dilibatkan dalam penelitian ini, dipimpin oleh bank yang berpusat di Washington mewakili Stop TB Partnership dan didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, yayasan sosial milik Bill Gates dan istrinya, pengusaha perangkat lunak terbesar di dunia.

Penelitian ini berjudul “The Economic Benefit of Global Investments in Tuberculosis “ menarik cukup banyak perhatian badan kesehatan dan pengembangan internasional, serta kelompok peneliti dan masyarakat umum, pejabat bank mengatakan.

Artikel asli: Asia faces trillion dollar TB-fighting bill

Edit terakhir: 14 Januari 2008