| Gabungan tindakan yang sederhana mengurangi kasus XDR-TB secara bermakna di wilayah pedesaan Afrika | Unduh versi PDF |
| Oleh: GlobalHealthReporting.org | Tgl. laporan: 26 Oktober 2007 |
Gabungan sejumlah tindakan pencegahan sederhana di rumah sakit, misalnya membuka jendela dan memakai masker, secara bermakna mengurangi kasus tuberkulosis (TB) baru yang sangat resistan terhadap obat di wilayah pedesaan Afrika. Hal ini menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet edisi 26 Oktober 2007. XDR-TB adalah resistan terhadap dua jenis obat lini pertama yang paling manjur dan beberapa obat lini kedua yang tersedia.
Untuk penelitian ini, Sanjay Basu, ahli epidemiologi dari Universitas Yale, AS dan rekan dari AS dan Afrika Selatan melakukan penelitian terhadap kejadian TB di Tugela Ferry, Afrika Selatan. Menurut para peneliti, kasus XDR-TB yang pertama dilaporkan di Afrika Selatan terjadi di Tugela Ferry. Orang dengan penyakit ini mempunyai “waktu ketahanan hidup rata-rata hanya 16 hari sejak pengambilan contoh dahak dan tingkat mortalitas 98%,” para peneliti mengatakan. Semua pasien adalah Odha, dan lebih dari dua pertiga pernah dirawat di rumah sakit hanya beberapa waktu sebelum tertular XDR-TB – menunjukkan bahwa penularan XDR-TB di rumah sakit “mungkin adalah pemicu” penyakit ini, para peneliti mengatakan.
Tim peneliti menggabungkan model matematika dengan data dari beberapa tahun penelitian kejadian TB untuk menilai dampak berbagai tindakan pengendalian TB. Para peneliti menemukan bahwa tanpa intervensi, kurang lebih 1.300 kasus XDR-TB baru dapat berkembang di Tugela Ferry pada 2012 – lebih dari separuhnya mungkin tertular di rumah sakit.
Usulan tindakan pencegahan
Menurut para peneliti, memakai masker wajah, mengurangi masa rawat inap dan memindahkan menjadi pasien rawat jalan akan mencegah sepertiga kasus XDR-TB baru. “Menambah pendekatan ini dengan memperbaiki sistem sirkulasi udara, tes resistansi terhadap obat secara cepat, ruang isolasi untuk pengobatan HIV dan TB dapat mengurangi 48% kasus XDR-TB pada akhir 2012,” tim mengatakan. Tetapi, para peneliti mengatakan bahwa menerapkan tindakan karantina wajib pada orang dengan XDR-TB, dapat mengakibatkan mereka enggan mencari pengobatan. Tim mencatat bahwa temuan ini mungkin berlaku di daerah pedesaan di Afrika yang serupa.
Komentar bersama
Dalam komentar bersama, ahli epidemiologi Travis Porco dari Universitas California-San Francisco, AS dan Wayne Getz dari Universitas California-Berkeley, AS menulis bahwa TB yang resistan terhadap berbagai macam obat dan XDR-TB adalah “malapetaka yang kita ciptakan sendiri.” Penyakit ini “mungkin sudah bersama kita lebih lama daripada yang kita pikir dan mungkin kita harus mengeluarkan biaya lebih banyak dibandingkan yang ingin atau mampu dilakukan oleh pemerintah,” penulis menulis. Mereka menambahkan bahwa walaupun “peringatan ilmiah sering kali diabaikan hingga sudah terlalu terlambat, intervensi yang efektif untuk mengendalikan XDR-TB di Afrika adalah kewajiban nasional dan internasional, dan masyarakat dunia berada dalam bahaya besar karena mengabaikan pesan ini.”
Ringkasan: Combination of Simple Measures Significantly Could Reduce XDR-TB Cases in Rural African Areas, Study Says
Sumber: Prevention of nosocomial transmission of extensively drug-resistant tuberculosis in rural South African district hospitals: an epidemiological modelling study; The Lancet 2007; 370:1500-1507
Edit terakhir: 24 November 2007