| Pengendali rasa sakit tidak terjangkau oleh 100 juta orang di dunia | Unduh versi PDF |
| Oleh: Keith Alcorn, aidsmap.com | Tgl. laporan: 28 September 2007 |
Akses obat pengendali rasa sakit, terutama obat penghilang rasa sakit jenis opioid, masih sangat sulit dijangkau di sebagian besar bagian dunia, walaupun kenyataannya adalah bahwa hampir 100 juta orang dapat memanfaatkan perawatan paliatif. Hal ini berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Help the Hospices.
WHO menyarankan agar rasa sakit harus ditangani dengan opioid oral apabila tidak dapat dikendalikan secara tepat dengan analgesik lain, misalnya parasetamol, kodein atau obat anti radang yang bukan steroid.
Tetapi, sebuah survei yang dilakukan oleh Help the Hospices menemukan bahwa 25% penyedia perawatan paliatif di Asia, 35% di Amerika Latin, dan 39% di Afrika tidak selalu mampu menjangkau opioid yang kuat.
Serupa dengan itu, untuk 41% penyedia perawatan paliatif di Afrika dan 39% di Amerika Latin morfin oral juga tidak selalu tersedia untuk 21% di Afrika dan 18% di Amerika Latin morfin oral tidak pernah tersedia.
Hanya 55% petugas layanan kesehatan yang menyediakan perawatan paliatif di Asia, Afrika dan Amerika Latin selalu dapat menjangkau opioid yang rendah. 22% hanya dapat menjangkaunya secara ‘sewaktu-waktu’ atau ‘tidak pernah’.
Di Asia, Afrika dan Amerika Latin banyak yang tidak mampu ‘selalu menjangkau’ analgesik adjuvan apapun yang bermanfaat untuk rasa sakit neuropati: antikejang (37%), antidepresan trisiklik (kurang lebih 30%) dan deksametason (25%).
Dua belas persen tidak pernah mengakses antikonvulsan, tujuh persen tidak pernah mengakses parasetamol, dan di salah satu rumah sakit besar di Malawi, Help the Hospices menemukan bahwa aspirin adalah satu-satunya penghilang rasa sakit yang selalu tersedia. Tetapi karena aspirin tidak disarankan untuk anak-anak, maka tidak ada obat penghilang rasa sakit yang cocok untuk anak-anak.
Penulis laporan, apoteker Vanessa Adams, mencatat bahwa temuan survei mungkin terlalu membesarkan perkiraan akses pasien pada analgesik karena semua responden terlibat secara aktif dalam penyediaan perawatan paliatif. Justru di daerah yang diteliti, kebanyakan populasi sama sekali tidak mempunyai akses terhadap perawatan paliatif.
Sebagai contoh, di Afrika 21 di antara 47 negara tidak menyediakan perawatan paliatif yang dapat diterima dan hanya empat yang menyediakannya dengan tingkat yang cukup masuk akal. Di India kurang dari satu persen orang yang membutuhkan perawatan paliatif dapat menjangkaunya, sementara di Pakistan hanya ada satu layanan perawatan paliatif untuk melayani 158 juta penduduk.
Apabila petugas layanan kesehatan yang ingin menyediakan perawatan paliatif tidak dapat mengakses analgesik yang diperlukan, besar kemungkinan obat ini juga tidak akan tersedia bagi petugas layanan kesehatan di negara atau negara bagian tersebut.
Di Afrika Selatan ketiadaan pengendali rasa sakit dan perawatan paliatif sudah menjadi masalah politis. Gareth Morgan, juru bicara tentang kesehatan dari partai oposisi Democratic Alliance, tahun lalu mengatakan bahwa departemen kesehatan negara itu mengabaikan kebutuhan pasien AIDS yang memerlukan pengendali rasa penyakit.
Partai Democratic Alliance mengusulkan perubahan peraturan tentang pemberian resep untuk mengizinkan perawat dengan pelatihan yang cukup untuk memberi morfin. Morfin adalah salah satu obat terdafar khusus di Afrika Selatan, dan termasuk dalam Undang-undang pengawasan obat dan zat lain (Medicines and Related Substances Control Act), hanya dapat diberikan oleh dokter.
“Kebutuhan utama terhadap obat untuk perawatan paliatif ini adalah di klinik, tempat dokter jarang tersedia,” Gareth Morgan mengatakan.
Kendala terhadap penghilang rasa sakit.
Laporan ini menilai kendala yang menghambat akses yang cukup pada analgesik penting dan menemukan bahwa dana bukanlah kendala akses yang utama. Biaya obat, misalnya morfin, walaupun di negara berkembang lebih tinggi apabila dibandingkan di negara maju, secara umum tidak mahal. Alasan utama ketiadaannya termasuk:
Saran
Untuk mencegah jutaan orang mengalami rasa sakit yang tidak perlu, laporan ini menyarankan progam nasional dan internasional secara terpadu untuk meningkatkan kesadaran, pendidikan, penyediaan dan akses. Perawatan paliatif dan akses pada analgesik harus merupakan bagian yang menyatu dengan semua kebijakan nasional terkait dengan kanker, HIV/AIDS dan penyakit kronis lain.
Laporan menyarankan langkah-langkah penting yang diperlukan untuk memperbaiki akses analgesik termasuk pendidikan dan tanggung jawab yang lebih baik, peninjauan hukum dan kebijakan serta penguatan fasilitas kesehatan.
Ringkasan: Pain control out of reach for 100 million worldwide
Sumber: Access to pain relief - an essential human right
Edit terakhir: 7 November 2007