| Hubungan antara diabetes dan ARV lebih berdampak di rangkaian terbatas sumber daya | Unduh versi PDF |
| Oleh: Kelly Morris, aidsmap.com | Tgl. laporan: 18 Juni 2007 |
Pemahaman tentang hubungan antara obat antiretroviral (ARV) dan diabetes semakin berkembang, dengan data sebelumnya terutama menyangkut protease inhibitor (PI). Sekarang, penelitian Swiss yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases edisi 1 Juli 2007 menemukan bahwa obat HIV lain, yang sering dipakai di rangkaian terbatas sumber daya, juga mungkin meningkatkan risiko di populasi yang mungkin sudah berisiko tinggi terhadap diabetes.
Bruno Ledergerber (University Hospital, Zurich, Swiss) dan rekan menyelidiki data dari HIV Cohort Study di Swiss untuk menjelaskan hubungannya dengan pengobatan dan juga koinfeksi hepatitis B (HBV) atau C (HCV). Semua peserta dalam Swiss Cohort dilibatkan apabila mereka belum mempunyai diabetes serta apabila sedikitnya mereka sudah dua kali berkunjung dan setahun masa tindak lanjut sejak 1 Maret 2000. Diabetes didiagnosis berdasarkan kriteria dari Tim Ahli Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus (Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus) dan dikonfirmasi dengan glukosa dalam contoh darah.
Pada Juli 2006, 123 di antara 6.513 peserta mengalami diabetes melitus selama 27.798 orang tahun masa tindak lanjut (person-years of follow-up/PYFU), yang merupakan 4,4 kasus per 1.000 PYFU. Dalam model multivariabel, laki-laki, usia lebih tua, etnis Afrika atau Asia, didiagnosis AIDS, dan obesitas sentral merupakan prediktor kuat terhadap diabetes. Obesitas sebaiknya menjadi sasaran utama dalam pencegahan diabetes, karena obesitas merupakan faktor risiko yang dapat dipengaruhi, penulis mengatakan. Yang menarik, tanda-tanda infeksi HBV atau HCV tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, walaupun tim peneliti mengaku bahwa ukuran penelitian ini mungkin terlalu rendah untuk menunjukkan peningkatan risiko yang kecil.
Yang penting, pengobatan pada saat penelitian dengan rejimen ARV yang mengandung NRTI dan PI, atau NRTI plus PI dan NNRTI secara kuat dikaitkan dengan diabetes, dengan rasio tingkat kejadian serupa dengan prediktor lain. Pengobatan dengan NRTI plus NNRTI tidak dikaitkan dengan diabetes, begitu juga dengan pajanan kumulatif terhadap ARV tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko. Dalam analisis yang terpisah, risiko terbesar terhadap diabetes dikaitkan dengan indinavir, 3TC, ddI-d4T dan ddI-tenofovir.
Kejadian diabetes dalam penelitian ini sebanding dengan yang ditemukan dalam populasi secara umum di Eropa. Tetapi, penghitungan yang jauh lebih tinggi ditemukan pada populasi HIV-positif di AS. Contoh, kelompok penelitian AIDS di berbagai tempat (Multicenter AIDS Cohort Study/MACS) menemukan 47 kasus diabetes per 1.000 PYFU pada pengguna terapi ARV (ART), dibandingkan dengan 17 kasus orang HIV-positif yang tidak diobati dan 14 kasus pada populasi HIV-negatif. Para penulis mengajukan tiga faktor untuk menjelaskan perbedaan ini: diagnosis diabetes, usia lebih tua dan indeks massa tubuh yang lebih besar ditemukan dalam penelitian MACS.
Temuan yang terkait dengan ARV ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan selama ini, dan mengukuhkan hanya sedikit penelitian yang menghubungkan NRTI dengan ketidaknormalan metabolisme glukosa. Mekanisme mungkin berbeda-beda, dengan protease inhibitor mempengaruhi transportasi glukosa dan NRTI mempengaruhi fungsi mitokondrial. “Karena keterkaitannya dengan kelainan metabolik lainnya, di negara maju rejimen yang mengandung d4T dan ddI dihindari apabila dimungkinkan, tetapi obat ini termasuk pada rejimen lini pertama di wilayah terbatas sumber daya,” penulis mencatat. Bersamaan dengan peningkatan risiko diabetes yang dikaitkan dengan etnis Asia dan Afrika, “hal ini mungkin mempunyai dampak penting pada ketahanan terhadap pengobatan anti-HIV dalam jangka panjang di wilayah yang paling terdampak,” mereka menyimpulkan.
Ringkasan: Link between diabetes and antiretrovirals may particularly affect resource-poor settings
Sumber: Ledergerber B et al. Factors Associated with the Incidence of Type 2 Diabetes Mellitus in HIV-Infected Participants in the Swiss HIV Cohort Study. Clin Infect Dis 45: 111 – 119, 2007.
Edit terakhir: 12 Juli 2007