| Terapi sifilis lebih cenderung gagal pada pasien HIV | Unduh versi PDF |
| Oleh: Michael Carter, aidsmap.com | Tgl. laporan: 29 Januari 2007 |
Pengobatan sifilis lebih cenderung gagal secara bermakna pada pasien HIV-positif dibandingkan dengan pasien HIV-negatif, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Baltimore, AS dan diterbitkan pada jurnal Sexually Transmitted Infections versi internet. Para peneliti juga menemukan bahwa sebagian besar pasien, terlepas dari status infeksi HIV-nya, yang dirawat karena sifilis, tidak hadir kembali dalam jadwal lanjutan untuk memantau keberhasilan terapi mereka.
HIV dan sifilis mempunyai hubungan sangat rumit yang belum dapat dipahami sepenuhnya. Baru-baru ini penyebaran sifilis di lintas negara industri di dunia berdampak tidak berimbang terhadap orang HIV-positif, dan ada bukti yang menunjukkan bahwa hal ini disebabkan oleh meningkatnya perilaku seks berisiko di antara kelompok ini.
Juga ada bukti yang menunjukkan bahwa sifilis dapat memudahkan infeksi HIV ditular dan menular. HIV ditemukan pada bisul sifilis, dan ditunjukkan ada peningkatan viral load HIV pada sifilis stadium primer maupun sekunder.
Penelitian telah menghasilkan data yang bertentangan sehubungan dengan reaksi serologikal dari terapi sifilis pada pasien HIV-positif, dan penelitian lain menunjukkan bahwa orang HIV-positif berisiko lebih tinggi terhadap pengembangan neurosifilis.
Pedoman AS menyarankan terapi sifilis yang sama untuk orang HIV-positif dan orang HIV-negatif, tetapi pedoman ini menekankan tindak lanjut yang lebih kuat untuk pasien orang HIV-positif.
Karena ada pertanyaan yang berkelanjutan sehubungan dengan kemanjuran terapi sifilis pada orang HIV-positif, para penyidik dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, AS, salah satu penyedia pengobatan dan perawatan HIV terkemuka di AS, merancang penelitianretrospektifyang melibatkan 129 orang HIV-positif dan 168 orang HIV-negatif yang didiagnosis sifilis antara 1992 dan 2000. Orang dengan sifilis stadium primer, sekunder atau laten dilibatkan dalam analisis para peneliti ini. Tanggapan terhadap terapi sifilis dibandingkan antara pasien dari kedua kelompok dan data dikumpulkan mengenai kunjungan pasien untuk menjalani tes yang memeriksa keberhasilan pengobatan sifilis.
Pasien HIV-positif lebih cenderung melaporkan lima atau lebih pasangan hubungan seks baru-baru ini (p < 0,001), mempunyai sifilis laten (p < 0,001) dan mempunyai titer sifilis yang lebih rendah (p < 0,01). Tetapi, pasien HIV-negatif, lebih cenderung melaporkan hubungan dengan orang yang diketahui terinfeksi sifilis (p < 0,001), dan mempunyai riwayat infeksi sifilis (p < 0,01). Pengobatan sifilis gagal secara serologis pada 29 orang HIV-positif dan tujuh orang HIV-negatif. Tetapi, pada tujuh pasien HIV-positif dan dua pasien HIV-negatif kegagalan pengobatan ini akibat infeksi ulang dengan sifilis.
Dalam analisis multivariat yang disesuaikan untuk usia, riwayat infeksi sifilis, titer sifilis pada awal, dan stadium sifilis saat diagnosis, para penyidik menemukan bahwa risiko kegagalan serologi adalah yang tertinggi di antara pasien HIV-positif (hazard ratio: 6,0).
Masa tanggapan terhadap pengobatan rata-rata adalah 278 hari pada pasien HIV-positif dan 128 hari pada pasien HIV-negatif, sebuah perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Para peneliti juga menemukan bahwa orang HIV-positif menanggapi terapi ini lebih lamban (rata-rata 342 hari), dibandingkan dengan pasien HIV-negatif (rata-rata 138 hari, p = 0,03).
Rancangan penelitian ini melibatkan semua 3.607 orang yang didiagnosis sifilis di Johns Hopkins antara 1992 dan 2000. Tetapi, data tindak lanjut berkurang untuk 65 persen orang HIV-positif dan 77 persen orang HIV-negatif dan peserta ini selanjutkan dikeluarkan dari analisis. “Usaha untuk memastikan tindak lanjut serologis yang lebih konsisten diwajibkan pada pasien yang dirawat karena sifilis, terutama pada mereka yang terinfeksi HIV”, demikian disimpulkan oleh para peneliti.
Ringkasan: Syphilis therapy more likely to fail in patients with HIV
Sumber: Ghanem KG et al. Serological response to syphilis treatment in HIV infected and uninfected patients attending STD clinics. Sexually Transmitted Infections (online edition), 2007. doi:10.1136/sti.2006.021402
Edit terakhir: 12 Maret 2007