Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 951 Diperbarui 10 September 2006
Profilaksis Kotri untuk Dewasa Logo Acrobat Unduh versi PDF

Berikut adalah terjemahan bagian dari WHO Guidelines on Co-trimoxazole Prophylaxis for HIV-Related Infections among Children, Adolescents and Adults in Resource-Limited Settings, 2006. Hubungi Spiritia untuk mendapatkan dokumen yang lengkap.

Profilaksis kotrimoksazol pada orang dewasa dan remaja

Kontraindikasi

Orang dewasa dan remaja dengan riwayat reaksi buruk yang parah (reaksi golongan 4) terhadap kotrimoksazol (kotri) atau obat sulfa lain harus tidak diresepkan profilaksis kotri. Dalam keadaan kotri tidak dapat diteruskan atau ada kontraindikasi, dapson 100mg sekali sehari, jika tersedia, adalah pilihan lain. Dapson kurang efektif untuk mencegah PCP dibandingkan dengan kotri, dan tidak mempunyai kegiatan antikuman yang luas seperti kotri.

Resistansi bakteri pada kotri

Efektivitas profilaksis kotri terbukti tidak dipengaruhi oleh angka resistansi yang tinggi terhadap kotri.

Efektivitas kotri terhadap malaria

Kotri terbukti 99,5 persen efektif untuk mencegah malaria dibandingkan 95 persen untuk sulfadoksin/pirimetamin (SP). Karena kotri begitu efektif dalam pencegahan malaria, bila kasus terjadi pada orang yang memakai kotri, ada kemungkinan yang bersangkutan tidak patuh pada kotri-nya.

Permulaan profilaksis primer kotri pada orang dewasa/remaja

Dalam rangkaian dengan profilaksis kotri dimulai berdasarkan kriteria stadium klinis WHO saja, profilaksis kotri diusulkan untuk semua orang bergejala dengan penyakit HIV ringan, lanjut atau parah (stadium klinis WHO 2, 3 atau 4). Bila tes CD4 tersedia, profilaksis kotri diusulkan untuk semuanya dengan CD4 di bawah 350, terutama dalam rangkaian terbatas sumber daya dengan prevalensi infeksi bakteri atau malaria tinggi di antara Odha.

Beberapa negara mungkin akan memilih memakai ambang CD4 200 untuk mulai profilaksis kotri. Pilihan ini terutama diusulkan bila sasaran utama profilaksis kotri adalah PCP dan tokso. Namun Odha sering mengalami infeksi bakteri di semua rangkaian, yang mendukung penggunaan ambang 350. Orang dengan penyakit HIV stadium klinis 3 atau 4 (termasuk orang dengan TB paru dan di luar paru) sebaiknya mulai profilaksis kotri tidak memandang jumlah CD4.

Karena efek samping yang paling umum pada kotri dan terapi antiretroviral (ART), terutama ART dengan nevirapine dan efavirenz adalah ruam, disusulkan untuk memulai profilaksis kotri dahulu kemudian mulai ART setelah dua minggu jika Odha stabil dengan kotri dan tidak mengalami ruam.

Profilaksis kotri di antara perempuan hamil

Walaupun Odha perempuan hamil sudah memakai kotri secara luas, tidak ada bukti peningkatan efek samping terkait kotri di antara perempuan hamil dibandingkan perempuan tidak hamil.

Karena risiko infeksi berbahaya di antara perempuan hamil dengan jumlah CD4 yang rendah lebih tinggi daripada risiko teoretis masalah cacat janin, perempuan yang memenuhi kriteria untuk profilaksis kotri sebaiknya teruskan kotri selama kehamilannya. Bila seorang perempuan membutuhkan profilaksis kotri waktu hamil, seharusnya profilaksis tersebut dimulai tidak memandang tahap kehamilan. Dia tidak harus diberi profilaksis tambahan dengan SP (IPT) untuk malaria. Ibu yang menyusui sebaiknya meneruskan profilaksis kotri.

Takaran kotri di antara orang dewasa/remaja

Takaran kotri di antara orang dewasa/remaja dengan HIV adalah satu tablet forte atau dua tablet biasa sekali sehari; takaran total per hari adalah 960mg. Ada pilihan lain untuk memberi satu tablet biasa (480mg) dua kali sehari, karena cara ini dapat membantu dalam menyiapkan orang untuk mulai regimen ART dua kali sehari.

Pemberhentian profilaksis kotri pada orang dewasa/remaja

Usulan umum adalah untuk meneruskan profilaksis kotri di antara Odha dewasa tanpa hentinya. Beberapa negara mungkin mempertimbangkan menghentikan kotri sebagai profilaksis terhadap PCP dan tokso pada orang dengan sistem kekebalan yang mulai pulih dan jumlah CD4 di atas 200 sebagai tanggapan pada ART selama sedikitnya enam bulan. Dalam keadaan lain (dengan profilkasis kotri dimulai untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas serta kejadian malaria dan infeksi bakteri), dapat dipertimbangkan profilaksis dihentikan pada orang dengan sistem kekebalan yang mulai pulih dan jumlah CD4 di atas 350 sebagai tanggapan pada ART.

Berhenti kotri akibat efek samping yang buruk

Reaksi buruk yang parah pada kotri tidak lazim. Jika efek samping yang tidak parah terjadi, harus dibuat semua upaya untuk meneruskan profilaksis kotri karena efektivitas profilaksis tersebut untuk mencegah infeksi PCP dan bakteri lebih tinggi dibandingkan dapson di antara orang dewasa. Kotri juga melindungi terhadap tokso, malaria dan beberapa patogen enterik. Kecuali pada kasus reaksi buruk parah, penggunaan kotri sebaiknya dihentikan untuk dua minggu, kemudian dicoba kembali dengan disensitisasi.

Dalam rangkaian dengan kemampuan laboratorium yang terbatas, efek samping potensi terkait profilaksis kotri (ruam, toksisitas sumsum tulang dan hepatotoksisitas) dapat dipantau secara klinis. Tidak dibutuhkan pemantauan laboratorium di antara orang dewasa/remaja yang menerima profilaksis kotri.

Perhatian khusus harus diberikan pada reaksi kulit atau gejala seperti mual, muntah atau ikterus. Reaksi kulit adalah reaksi paling umum pada kotri, dan didiagnosis secara klinis. Perhatian harus juga diberikan pada obat lain yang mungkin mempunyai toksisistas yang serupa (mis. nevirapine dan isoniazid).

Desensitisasi kotri

Desensitisasi kotrimokasazol dibuktikan berhasil pada kebanyakan orang yang hiperpeka sebelumnya, dan jarang menyebabkan reaksi yang parah. Namun desensitisasi tidak boleh dicoba pada orang dengan riwayat reaksi grade 4 sebelumnya terhadap kotri atau obat sulfa lain. Diusulkan mulai dengan rejimen antihistamin pilihan satu hari sebelum mulai rejimen dan meneruskannya setiap hari sehingga peningkatan dosis kotri selesai.

Protokol untuk desensitisasi kotrimoksazol di antara orang dewasa dan remaja

Langkah Takaran
Hari 1 80mg sulfametoksazol + 16mg trimetoprim (2ml siropa)
Hari 2 160mg sulfametoksazol + 32mg trimetoprim (4ml siropa)
Hari 3 240mg sulfametoksazol + 48mg trimetoprim (6ml siropa)
Hari 4 320mg sulfametoksazol + 64mg trimetoprim (8ml siropa)
Hari 5 I tablet kotrimoksazol (400mg sulfametoksazol + 80mg trimetoprim)
Hari 6 dst 2 tablet kotrimoksazol (800mg sulfametoksazol + 600mg trimetoprim)
a Sirop kotrimoksazol adalah 40ml trimetoprim dan 200mg sulfametoksazol per 5ml

Diperbarui 10 September 2006