Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 760 Diperbarui 1 November 2013
Hepatoprotektor Logo Acrobat Unduh versi PDF

Catatan: Keberadaan lembaran informasi ini bukan berarti penggunaan jamu ini disokong atau didukung oleh Yayasan Spiritia – lihat Lembaran Informasi 700 mengenai Terapi Penunjang.

Apa Hepatoprotektor Itu?

Hepatoprotektor (pelindung hati) adalah istilah yang diberikan pada produk yang dipasarkan untuk melindungi hati dan/atau memulihkan hati yang telah dirusak oleh racun, obat atau penyakit.

Sampai saat ini, belum ada obat yang disetujui sebagai hepatoprotektor. Tetapi ada berbagai jenis jamu atau campuran jamu yang dipasarkan di Indonesia sebagai hepatoprotektor. Produk tersebut termasuk Hepasil dari Kalbe Farma, Hepacomb dari Sidomuncul, Hepagard dari Phapros, HP-Pro, Lesipar, Hepimun dan beberapa produk lain.

Mengapa Odha Memakai Hepatoprotektor?

Mungkin lebih dari separuh Odha di Indonesia juga terinfeksi bersama dengan virus hepatitis B atau C (HBV/HCV – lihat Lembaran Informasi (LI) 505). Hepatitis dapat merusak hati, dan kerusakan ini ditunjukkan oleh peningkatan pada dua enzim hati yang diukur pada tes fungsi hati (lihat LI 135). Kedua enzim ini adalah ALT (SGPT) dan AST (SGOT).

Kebanyakan obat yang dipakai untuk melawan HIV (antiretroviral/ARV) atau untuk mengobati infeksi oportunistik disaring dan diuraikan oleh hati. Hati yang rusak dapat berpengaruh pada kemampuan kita untuk memakai obat tersebut, dan penggunaan obat itu juga dapat meningkatkan beban pada hati, dengan risiko hati kita tidak berfungsi lagi dan kita mengalami kegagalan hati.

Sampai saat ini, belum ada obat yang disetujui untuk memulihkan tingkat ALT yang tinggi akibat HBV atau HCV. Namun produsen beberapa jenis hepatoprotektor menyatakan bahwa produknya efektif untuk menurunkan ALT yang tinggi. Oleh karena itu, dan karena pasien dengan ALT tinggi sering mendesak dokter untuk memberi obat untuk masalah ini, dokter sering kali meresepkan hepatoprotektor ini.

Bagaimana Hepatoprotektor Dipakai?

Hepatoprotektor sering tersedia sebagai kapsul. Hepasil, misalnya, tersedia dalam bentuk kapsul, dengan usulan dipakai satu kapsul 3-4 kali sehari, 1-2 jam setelah makan.

Pilihan yang mungkin lebih cocok adalah untuk membuat campuran sendiri, dengan membeli jamu secara segar di pasar.

Sering tidak jelas berapa lama hepatoprotektor sebaiknya dipakai, atau apakah ada risiko bila hepatoprotektor dipakai jangka panjang.

Apa Efek Samping Hepatoprotektor?

Efek samping tergantung pada kandungan – lihat lembaran informasi mengenai masing-masing jamu, bila ada. Sering kali produsen tidak menjelaskan apakah produknya dapat menimbulkan efek samping.

Apakah Ada Kontraindikasi atau Peringatan?

Kontraindikasi seharusnya dicatat pada etiket produk. Umumnya penggunaan hepatoprotektor mungkin adalah aman, tetapi hal ini jelas tergantung pada kandungan. Hepasil, misalnya, mengandung echinacea (lihat LI 726), dan jamu ini sebaiknya tidak dipakai oleh Odha (terutama bila jumlah CD4-nya rendah) atau perempuan hamil.

Ada anggapan bahwa semua produk alami adalah aman. Jelas anggapan ini tidak benar, apa lagi buat Odha. Selain apakah produknya bersifat racun, cara produksinya tidak selalu dijamin bersih, dan bebas unsur lain termasuk jamur. Bila tidak, produk dapat menjadi berbahaya untuk Odha.

Bagaimana Hepatoprotektor Berinteraksi dengan Obat Lain?

Belum diketahui interaksi apa pun antara hepatoprotektor dan obat atau jamu lain. Namun belum diteliti interaksi antara hepatoprotektor dengan sebagian besar obat atau jamu lain. Untuk informasi lebih lanjut mengenai interaksi, lihat lembaran informasi mengenai masing-masing jamu, bila ada. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai, termasuk hepatoprotektor.

Dasar Bukti untuk Hepatoprotektor

Sampai saat ini, belum dilakukan uji coba klinis secara acak yang membuktikan keberhasilan hepatoprotektor untuk menurunkan ALT. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa jamu, terutama silymarin (lihat LI 735), dapat membantu dalam kasus keracunan hati akibat zat kimia (terutama karbon tetraklorida). Namun belum ada dasar bukti kasus kerusakan hati akibat HBV/HCV.

Ada banyak anekdot (cerita) yang menunjukkan bahwa ALT yang tinggi menurun pas setelah penggunaan hepatoprotektor. Namun virus hepatitis sering mengakibatkan peningkatan sementara pada tingkat ALT (yang disebut flare, atau kobaran), tetapi yang menurun secara alami setelah beberapa hari. Bila hepatoprotektor dipakai saat flare ini, ALT memang akan turun, tetapi penurunan akan terjadi walau hepatoprotektor dipakai atau tidak.

Pada 2002, Prof Dr H Ali Sulaeman PhD SpPD-KGEH FACG (guru besar penyakit hati) menyatakan bahwa ada ketidaksesuaian antara pemanfaatan obat/suplemen hepatoprotektor dengan konsep dasar bukti. “Kita kembalikan saja pada pribadi masing-masing. Apabila diyakini baik, silakan saja diteruskan,” dikatakannya.

Garis Dasar

Hepatoprotektor adalah ‘obat’ campuran jamu yang dipasarkan oleh beberapa produsen obat di Indonesia. Tampaknya ‘obat’ ini sering diresepkan oleh dokter pada orang dengan HIV dan hepatitis bersamaan, dan dengan ALT/AST tinggi. Menurut laporan anekdot, penggunaan hepatoprotektor sering berhasil untuk mengurangi tingkat enzim hati. Namun belum ada dasar bukti yang mendukung penggunaan hepatoprotektor dalam kasus koinfeksi HIV/virus hepatitis.

Kandungan semua jenis hepatoprotektor berbeda-beda, tergantung pada produsen. Sebaiknya kita memperhatikan kandungan, karena mungkin ada di antara kandungan yang sebaiknya tidak dipakai oleh Odha (misalnya echinacea). Kecuali itu, kemungkinan hepatoprotektor aman untuk Odha, walau mungkin tidak memberi manfaat jelas, asal dibuat dengan cara yang bersih.

Ditinjau 1 November 2013 berdasarkan beberapa sumber