Beberapa tes laboratorium (darah) dipakai terkait hepatitis C (HCV). Tes ini termasuk tes fungsi hati, viral load HCV, tes genotipe, tes genetik IL28B, dan tes pembekuan darah.

Tes Fungsi Hati

Tes laboratorium yang disebut “tes fungsi hati” tidak mengukur bagaimana hati berfungsi. Sebaliknya, tes tersebut mengukur tingkat enzim yang ditemukan di jantung, hati, dan otot. Enzim adalah protein yang terkait dengan reaksi kimia dalam organisme hidup. Lihat Lembaran Informasi (LI) 135 untuk informasi lebih lanjut mengenai tes fungsi hati.

Tingkat enzim yang tinggi dapat menunjukkan kerusakan pada hati yang disebabkan oleh obat, asupan alkohol yang berat, hepatitis virus, asap beracun atau penggunaan narkoba. Hasil tes enzim hati dapat sulit ditafsirkan. Orang dengan kerusakan hati yang berat kadang kala memiliki tingkat enzim hati yang normal.

Pola yang berbeda dari enzim ini – ketika ada yang tinggi dan yang lain tetap normal – adalah bagian dari informasi yang dipakai oleh dokter memakai untuk memantau kesehatan hati.

Tes fungsi hati termasuk:

  • Albumin adalah protein yang paling umum dalam darah. Hal ini penting untuk pengalihan cairan tubuh secara benar. Albumin membantu memindahkan molekul kecil di seluruh tubuh. Karena albumin dibuat oleh hati, penurunannya mungkin merupakan tanda penyakit hati, penyakit ginjal, atau gizi buruk.
  • ALT (alanine aminotransferase, dulu dikenal sebagai SGPT) dipakai bersamaan dengan AST untuk memantau kesehatan hati. Kadang kala ALT dipakai untuk melihat apakah pengobatan berhasil memperbaiki fungsi hati.
  • AST (aspartate aminotransferase, dulu dikenal sebagai SGOT) biasanya dipakai dengan ALT untuk memantau kesehatan hati. Namun tes ini tidak secara khusus menunjukkan fungsi hati, dan tidak benar-benar dibutuhkan.
  • Bilirubin adalah cairan berwarna kuning yang dihasilkan ketika sel darah merah menjadi rusak. Tingkat bilirubin yang tinggi dapat menyebabkan ikterus (penyakit kuning), yang menyebabkan bagian putih mata dan kadang kala kulit menjadi berwarna kuning. Tingginya tingkat bilirubin dapat menandakan penyakit hati, tapi mungkin juga tidak penting jika disebabkan oleh obat antiretroviral (ARV) indinavir atau atazanavir.
  • Fosfatase alkalin. Sel hati yang rusak mengeluarkan jumlah fosfatase alkali yang meningkat ke aliran darah. Tingkat yang tinggi juga bisa menandakan penyakit tulang.
  • Feritin adalah protein yang mengikat pada zat besi. Tingkat feritin atau zat besi dalam darah yang tinggi dapat menandai pengumpulan zat besi (hemokromatosis) atau penyakit hati lain.
  • GGT (gamma glutamil transpeptidase). Hasil tes ini dapat menunjukkan apakah hasil tes abnormal yang lain disebabkan oleh masalah hati atau masalah tulang. Bila AST dan ALT tidak meningkat, tes GGT mungkin dilakukan untuk membantu menentukan apakah sumber fosfatase alkali tinggi adalah kelainan tulang atau penyakit hati. Tingkat GGT meningkat dengan konsumsi alkohol yang berat.
  • LDH (laktik dehidrogenase) adalah enzim ditemukan dalam banyak jaringan tubuh. Peningkatan tingkat LDH biasanya menunjukkan beberapa jenis kerusakan jaringan. Tes ALT, AST, dan fosfatase alkali membantu menentukan organ yang mana terlibat.

Tes Viral Load

Tes viral load HCV menghitung berapa banyak bibit virus hepatitis C (HCV) dalam darah. Tes ini mirip dengan tes viral load HIV (lihat LI 125) tetapi ada beberapa perbedaan penting:

  • Viral load HCV diukur dalam satuan internasional per mililiter (IU/mL). Satu IU adalah sekitar tiga tiruan (copy) HCV.
  • Viral load HCV jauh lebih tinggi dibandingkan viral load HIV. Viral load HCV dapat mencapai beberapa juta IU. Viral load HCV di bawah 400.000 sampai 600.000 IU dianggap rendah.
  • Viral load HIV dipakai untuk meramalkan perkembangan penyakit. Namun, hal ini tidak dibenarkan untuk viral load HCV. Viral load HCV yang tinggi tidak menunjukkan bahwa penyakit berkembang lebih cepat. Namun, viral load HCV dapat meramalkan tanggapan terhadap pengobatan HCV: semakin rendah viral load, semakin mungkin pengobatan HCV akan berhasil.
  • Viral load dipakai untuk menentukan apakah pengobatan HCV berhasil, dan seberapa cepat viral load menjadi tidak terdeteksi. Bila viral load menjadi tidak terdeteksi selama pengobatan HCV dan tetap begitu selama enam bulan setelah pengobatan selesai, hal ini disebut sebagai sustained virologic response atau SVR. Bila kita mencapai SVR, umumnya hasil ini tetap dialami selama sepuluh tahun atau lebih, dan dianggap penyembuhan.

Tes Genotipe HCV

Ada lebih dari enam tipe HCV, yang diidentifikasi oleh nomor. Ada juga subtipe, yang diidentifikasi oleh huruf. Contohnya, ada genotipe 1a dan 1b. Genotipe HCV ditentukan dengan menganalisis contoh darah untuk mengetahui kode genetik virus. Tipe HCV yang paling umum di Amerika Utara adalah genotipe 1, jauh lebih lazim daripada genotipe 2 dan 3. Tampaknya keadaan genotipe juga mirip di Indonesia.

Genotipe dan subtipe HCV memberikan informasi yang penting pada dokter untuk memilih pengobatan. Misalnya, genotipe 2 dan 3 paling mudah diobati dengan interferon.

Tes Genetik IL28B

Para peneliti baru-baru ini menemukan hubungan antara kode genetik pasien dan tanggapannya terhadap pengobatan yang baku. Kode genetik dari sekelompok besar pasien dengan HCV genotipe 1 dianalisis. Pasien dengan jenis gen IL28B yang tertentu lebih dari dua kali lebih mungkin menanggapi pengobatan HCV baku dengan interferon dan ribavirin secara baik. Tes IL28B mungkin akan menjadi alat penting untuk memandu pengobatan HCV.

Tes Pembekuan Darah

Beberapa tes mungkin akan dipakai jika kita akan melakukan biopsi hati (lihat LI 672.) Dengan biopsi, ada risiko perdarahan. Tes pembekuan darah mengukur seberapa cepat darah membentuk pembekuan, yang menghentikan perdarahan. Nilai abnormal pada tes ini mungkin menandakan penyakit hati lanjut.

  • PT/INR (Prothrombin Time dan International Normalized Ratio) adalah tes pembekuan darah yang paling umum. Contoh kecil darah dites di laboratorium untuk menentukan dibutuhkan berapa lama untuk membentuk pembekuan.
  • Hitung Trombosit (Platelet Count) menunjukkan jumlah trombosit dalam darah. Orang dengan penyakit hati lanjut mungkin memiliki lebih sedikit trombosit dan mungkin lebih cenderung berdarah setelah biopsi hati.

Ditinjau 8 Mei 2014 berdasarkan FS 671 The AIDS InfoNet 24 Februari 2014