Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 617 Diperbarui 6 Maret 2014

Memperoleh Keturunan

Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apakah Kita Bisa Mempunyai Keturunan?

Itu pertanyaan yang paling sering ditanyakan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan terinfeksi HIV. Pasti muncul ketakutan pada Odha bahwa ia akan menulari pasangannya, jika pasangannya belum terinfeksi. Dan kedua pasangan juga cemas bayinya akan ikut terinfeksi HIV.

Lembaran Informasi (LI) ini akan membahas cara mengurangi kemungkinan pasangan kita tertular waktu berhubungan seks dengan tujuan memperoleh keturunan. Lihat LI 611 untuk informasi tentang mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV waktu lahir, atau tertular melalui menyusui.

Hak Memperoleh Keturunan

Dahulu, kita sering kali mendengar pendapat bahwa Odha sebaiknya tidak kawin atau memperoleh keturunan. Namun Odha mempunyai hak yang sama dengan orang lain dalam hal ini. Jelas ada beberapa faktor lain yang harus dipertimbangkan. Keputusan memperoleh anak sebaiknya dibahas bersama pasangan. Disarankan pembahasan ini dilakukan dengan bantuan konselor yang terlatih. Tetapi, pada akhirnya, keputusan merupakan hak kita bersama pasangan. Untuk mengambil keputusan terbaik, kita harus mempunyai informasi yang benar.

Jadi, apa faktanya? Pertama, bagaimana kita yang terinfeksi HIV dapat menghindari menulari pasangan kita? Biasanya, kita didesak memakai kondom waktu berhubungan seks jika kita dan/atau pasangan kita terinfeksi HIV. Tetapi ini menjadi dilema: kondom juga mencegah kehamilan, sementara berhubungan seks tanpa kondom menimbulkan risiko penularan.

Jika pasangan perempuan yang sudah terinfeksi, pasangan laki-laki dapat menghindari infeksi dengan memakai cara sederhana. Air mani dapat dikeluarkan melalui onani, lalu disemprotkan ke dalam vagina pasangannya (cara ini memang teramat tidak mesra!).

Jika pasangan laki-laki yang terinfeksi HIV, belum ada cara yang terjamin 100% menghindari penularan. Proses yang disebut “sperm-washing” atau “cuci sperma” saat ini tersedia di beberapa rumah sakit di Jakarta. Sperma dipisahkan dari virus, lalu sisa yang bersih dimasukkan ke dalam vagina perempuan. Risiko terinfeksi HIV melalui cara ini sangat amat rendah. Sayang, proses ini sangat mahal, dan mungkin harus diulang beberapa kali sebelum berhasil, dengan jelas meningkatkan biaya.

Risiko Penularan

Sebelum kita membahas pilihan, kita harus ingat bahwa risiko tertular dari satu kali berhubungan seks sebetulnya cukup rendah. Kemungkinan penularan dari laki-laki yang terinfeksi kepada perempuan melalui hubungan seks umumnya dianggap kurang lebih satu dari 500. Jika ada infeksi menular seksual (IMS) pada salah satu atau kedua pihak, ini akan meningkatkan risiko. Juga risiko akan lebih besar kalau berhubungan seks secara kasar atau lama sehingga kulit kelamin terluka.

Semakin banyak pakar beranggapan bahwa, jika laki-laki yang terinfeksi memakai terapi antiretroviral (ART – lihat LI 403) selama lebih dari enam bulan, sehingga viral loadnya di bawah tingkat terdeteksi, dan dia memakai ART dengan kepatuhan 100%, kemungkinan penularan juga sangat amat rendah, hampir nol, walaupun tidak dapat dijamin benar-benar nol.

Profilaksis Prapajanan (PrPP)

Sekarang beberapa dokter mengusulkan perempuan yang tidak terinfeksi HIV agar memakai dua jenis antiretroviral (ARV) tertentu beberapa jam sebelum dan/atau sesudah berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangan laki-laki yang terinfeksi HIV. Hal ini disebut profilaksis prapajanan (PrPP). PrPP dapat lebih mengurangi risiko, dan mungkin juga membuat kedua pasangan lebih nyaman sehingga hubungannya dapat berlanjut lebih lancar. PrPP belum disetujui di Indonesia, tetapi mungkin ada manfaat membahas dulu dengan dokter. Lihat LI 160 untuk informasi lebih lanjut mengenai PrPP.

Pilihan Praktis

Ini menunjukkan sebagian penyelesaian. Waktu berusaha menghamili pasangan, kedua pasangan harus memastikan terlebih dahulu bahwa tidak satu pun dari keduanya yang sedang terkena IMS. Dan seringnya berhubungan seks tanpa kondom harus dibatasi menjadi sesedikit mungkin. Tambahan, sebaiknya saat berhubungan seks, hubungan ini dilakukan secara halus dengan memakai banyak pelicin – jenis pelicin tidak penting karena tidak ada kondom yang dapat dirusakkan. Juga, sekali lagi ditegaskan bahwa sebaiknya laki-laki memeriksa viral loadnya (lihat LI 125): jika ini tinggi, pertimbangkan mulai memakai ART sebelum berupaya menghamili pasangan.

Sebaiknya kedua pihak diperiksa dokter kandungan (ginekolog) untuk memastikan dua-duanya cukup subur. Jika ada masalah dengan kesuburan, ada kemungkinan harus berhubungan seks lebih sering sebelum berhasil, bahkan mustahil. Karenanya, masalah kesuburan sebaiknya ditangani sebelum mencoba menjadi hamil. Dan ingat bahwa mengisap ganja berdampak buruk pada kesuburan laki-laki.

Jadwalkan Hubungan Seks di Masa Subur

Hanya ada sedikit hari selama siklus haid waktu seorang perempuan dapat menjadi hamil. Ada cara untuk meramalkan hari tersebut. Sebaiknya pasangan merencanakan hubungan seks tanpa kondom pada saat itu saja. Setelah itu, mereka sebaiknya menunggu hasilnya. Jika tidak berhasil, coba sekali lagi beberapa bulan berikut. Jika dua kali tidak berhasil, sebaiknya periksa ulang ke dokter kandungan.

Jelas semua ini tidak melenyapkan semua risiko perempuan tertular dari pasangannya yang terinfeksi HIV. Namun kemungkinan terinfeksi dapat lebih ditekan.

Pengambilan Keputusan

Adalah penting agar kedua pihak membahas semua masalah seputar hal ini, dan mengambil keputusan bersama, mungkin dibantu oleh seorang konselor yang terlatih dan memahami semua informasi terkait. Keduanya perlu memahami risiko dan kesempatan yang ada. Membahas hal ini bersama-sama diharapkan dapat menghindari saling tuduh di belakang hari.

Garis Dasar

Memperoleh keturunan adalah hak kita semua. Menjadi terinfeksi HIV tidak mengubah atau menghapus hak ini. Sama seperti orang lainnya, keputusan mempunyai anak sebaiknya merupakan keputusan bersama suami-istri.

Jika hanya satu dari kedua pihak yang terinfeksi HIV, muncul kemungkinan pihak kedua dapat tertular melalui hubungan seks tanpa kondom – cara yang dibutuhkan untuk menghamili. Jika perempuan yang terinfeksi, penularan pada laki-laki dapat dihindari dengan menyemprotkan air maninya ke dalam vagina perempuan.

Jika laki-laki yang terinfeksi, masalahnya akan lebih rumit. Mereka harus memastikan terlebih dahulu bahwa keduanya subur, dan juga memastikan bahwa tidak satu pun mengidap infeksi menular seksual. Hubungan seks tanpa kondom perlu dilakukan sesedikit mungkin dan hanya pada masa paling subur pasangan perempuan. Berhubungan seks dengan cara yang paling halus untuk menghindari luka pada perempuan. Jika mungkin, viral load laki-laki dites dulu; jika tinggi, pertimbangkan penggunaan ART untuk menguranginya. Dan juga ada manfaat bila perempuan memakai ARV sebelum dan/atau sesudah berhubungan seks.

Untuk informasi lebih lanjut, minta buku kecil Spiritia “HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan”, yang tersedia gratis dari alamat di bawah.

Diperbarui 6 Maret 2014 berdasarkan beberapa sumber