| Lembaran Informasi 612 | Diperbarui 1 Juli 2012 |
| Anak dan HIV | Unduh versi PDF |
Bagaimana Anak Tertular HIV?
Sebagian besar anak di bawah usia sepuluh tahun yang terinfeksi HIV tertular dari ibunya. Penularan dapat terjadi dalam kandungan, waktu melahirkan atau melalui menyusui (lihat Lembaran Informasi (LI) 611). Belum pernah dilaporkan kasus anak yang terinfeksi akibat kegiatan sehari-hari di rumah, walaupun ibu atau anggota keluarga lain terinfeksi HIV. Sebaliknya, HIV tidak dapat menular melalui hubungan langsung dengan anak, misalnya memeluk, mencium, memandikan, mengganti popok, atau waktu bermain.
Saat ini, sebagian besar anak yang terinfeksi HIV di negara berkembang didiagnosis berdasarkan gejala penyakit terkait HIV, diikuti oleh tes HIV dengan hasilnya positif. Diagnosis HIV pada anak hampir pasti berarti bahwa ibunya dan mungkin pasangan ibu juga terinfeksi HIV. Jadi keluarga membutuhkan banyak dukungan setelah diagnosis HIV pada anaknya. Lagi pula, sebelum anak dites HIV, sedikitnya ibunya harus diberi konseling prates dan memberi persetujuan agar anak dites.
Bagaimana Kita Tahu Anak Terinfeksi HIV
Seperti dengan orang dewasa, ada beberapa tanda dan gejala yang seharusnya menimbulkan kecurigaan bahwa anak terinfeksi HIV. Ini termasuk: berat badan menurun, atau gagal tumbuh; diare lebih dari 14 hari; demam lebih dari satu bulan; infeksi saluran pernapasan bagian bawah yang berat atau menetap; batuk kronis; dan infeksi oportunistik sama yang dialami oleh orang dewasa.
Tes HIV (lihat LI 102) pada bayi umumnya menunjukkan hasil positif (reaktif) selama beberapa bulan setelah lahir jika ibunya terinfeksi HIV, walaupun anak mungkin tidak terinfeksi (lihat LI 613 untuk informasi lebih lanjut tentang tes HIV untuk bayi). Jadi, jika hasil tes anak adalah reaktif, ini bukti bahwa ibunya HIV, dan karena itu, penting ibu diberi konseling sebelum anaknya dites. Namun bayi dengan hasil tes HIV yang reaktif hanya dapat dianggap terinfeksi bila hasil tetap reaktif setelah dia berusia 18 bulan.
Penelitian terhadap Anak
Sebetulnya, hanya ada sedikit penelitian mengenai HIV pada anak. Jadi sebagian besar usulan dan pedoman tentang penatalaksanaan HIV pada anak berdasarkan penelitian pada orang dewasa.
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa anak dilahirkan oleh ibu terinfeksi HIV mempunyai angka gangguan psikiatri dan beberapa masalah kesehatan lain yang lebih tinggi, walau anak sendiri ternyata tidak terinfeksi HIV.
Perkembangan Penyakit HIV pada Anak
Anak yang terinfeksi selama kehamilan atau waktu dilahirkan lebih mungkin akan mengembangkan tanda dan gejala penyakit sebelum berusia 12 bulan; anak ini dianggap sebagai ‘pelanjut cepat’. Anak tersebut akan melaju ke masa AIDS secara sangat cepat, dan kemungkinan akan meninggal sebelum berusia satu tahun bila tidak segera diobati. Gejala dapat mencakup tidak mengalami pertumbuhan, ensefalopati, dan/atau infeksi oportunistik umum (lihat LI 500).
Sebagian anak yang terinfeksi HIV waktu dilahirkan dan yang terinfeksi melalui menyusui lebih mungkin akan berlanjut secara sedang. Anak tersebut cenderung mengembangkan bukti kerusakan berat pada sistem kekebalan tubuh pada usia 7-8 tahun. Kehilangan sel CD4 akan berlanjut berangsur-angsur. Gejala dapat mencakup limfadenopati (lihat LI 526) dan penyakit masa kanak-kanak yang kambuhan, dengan fungsi kekebalan tubuh tidak rusak berat. Kelompok ini, yang disebut ‘pelanjut lamban’, mempunyai harapan hidup yang lebih baik.
Sekelompok kecil anak dengan HIV akan tetap sehat dengan sedikit atau tanpa gejala penyakit HIV, dan jumlah CD4 yang normal atau sedikit ditekan sampai dengan usia sembilan tahun.
Pelanjut cepat terdiri dari kurang lebih 20% anak dengan HIV; pelanjut lamban 60%, dengan sisanya nonpelanjut. Semua angka ini dikumpulkan sebelum ada terapi antiretroviral (ART) dan pengobatan dini untuk bayi dengan HIV. Lagi pula, belum ada penelitian yang menunjukkan keadaan di Indonesia. Belum diketahui jika diagnosis dan pengobatan dini akan mengubah perkembangan ini, dan memengaruhi persentase ini.
Pengobatan untuk Anak
Akhir-akhir ini, pengalaman mengobati anak dengan HIV terus berkembang, baik untuk mencegah atau mengobati infeksi oportunistik, maupun ART. Dengan pengobatan tersebut, ada harapan bahwa anak tersebut dapat bertahan hidup lama, seperti orang dewasa yang diberi terapi itu. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengobatan untuk anak dengan HIV, lihat LI 618 dan LI 619.
Menurut pedoman ART untuk Bayi dan Anak 2010 dari WHO, ART sebaiknya dimulai pada semua bayi yang didiagnosis HIV di bawah usia 24 bulan, tidak memandang jumlah CD4 atau stadium klinis.
WHO menganjurkan agar semua anak yang lahir dari ibu terinfeksi HIV diberi profilaksis kotrimoksazol dari usia 4-6 minggu (lihat LI 950).
Imunisasi untuk Anak dengan HIV
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa manfaat dari imunisasi pada anak dengan HIV lebih besar dibandingkan kerugian akibat efek samping dari vaksin, walaupun ada gejala penyakit HIV. Namun masih ada keraguan mengenai penggunaan vaksin BCG untuk TB. Sebaiknya vaksinasi BCG diberi pada semua bayi segera setelah lahir untuk melindunginya terhadap meningitis TB. Masalahnya anak yang ternyata terinfeksi HIV lebih mungkin mengembangkan penyakit BCG akibat imunisasi, tetapi tidak mungkin diketahui apakah bayi terinfeksi HIV pada saat diimunisasi.
Garis Dasar
Bayi dan balita yang dilahirkan oleh ibu terinfeksi HIV dapat tertular HIV selama kehamilan, waktu dilahirkan dan melalui menyusui. Jika tertular selama kehamilan, kemungkinan anak akan melanjut cepat ke AIDS, dan akan meninggal dalam satu tahun pertama kehidupannya, bila tidak segera diberi ART. Namun pada banyak anak dengan HIV, perkembangan penyakit akan lebih lamban, dan ada harapan mereka dapat bertahan hidup tanpa ART selama 7-8 tahun atau lebih.
Diagnosis infeksi HIV atau hasil tes HIV yang reaktif pada anak hampir pasti menunjukkan bahwa ibunya dan sering kali ayahnya juga terinfeksi. Jadi masalah kerahasiaan dan dukungan untuk keluarga tetap sangat penting.
HIV pada anak dapat diobati seperti dengan orang dewasa.
Bayi yang dilahirkan oleh ibu terinfeksi HIV sebaiknya diimunisasi sama seperti anak lain, walau ada risiko mengembangkan penyakit BCG pada anak yang ternyata terinfeksi HIV.
Anak yang terinfeksi HIV sebaiknya diawasi oleh dokter spesialis anak yang berpengalaman menatalaksana HIV.
Diperbarui 1 Juli 2012 berdasarkan beberapa sumber