Apa Tulang Itu?

Tulang adalah bahan yang hidup dan tumbuh. Tulang mempunyai kerangka protein. Kalsium memperkuat kerangka tersebut. Lapisan luar tulang mempunyai saraf dan jaringan pembuluh darah yang kecil.

Bahan tulang yang tua dihilangkan dan bahan tulang baru ditambah terus-menerus. Pada anak dan orang dewasa yang muda, lebih banyak bahan tulang ditambah dibandingkan yang dihilangkan. Tulang kita menjadi semakin besar, berat dan kuat. Setelah kita berusia 30 tahun, lebih banyak bahan tulang hilang dibandingkan yang dibuat baru. Tulang kita menjadi semakin ringan dan rapuh.

Odha mengalami angka kepadatan zat mineral tulang dan patah tulang yang luar biasa tinggi. Masalah ini mungkin disebabkan oleh infeksi HIV sendiri. Mungkin osteoporosis diburukkan oleh beberapa obat yang dipakai untuk mengobati HIV.

Apa Osteoporosis Itu?

Osteoporosis, atau tulang keropos, terjadi jika terlalu banyak zat mineral dihilangkan dari kerangka tulang. Tulang menjadi rapuh dan lebih mudah patah. Patah tulang yang paling umum adalah tulang pinggul, tulang belakang dan tulang pergelangan tangan. Osteopenia adalah kehilangan zat mineral tulang secara ringan atau sedang.

Kehilangan kepadatan zat mineral tulang dapat terjadi tanpa gejala atau rasa nyeri. Sering kali, tulang pinggul, belakang atau pergelangan tangan yang patah menjadi tanda pertama osteoporosis.

Apa Penyebab Osteoporosis?

Sebagaimana kita menua, tulang kita kehilangan kandungan zat mineralnya. Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko osteoporosis. Beberapa kita mampu mengendalikan; beberapa lain tidak.

Faktor yang kita tidak mampu kendali termasuk:

  • Usia lebih dari 50 tahun
  • Perempuan setelah mati haid
  • Keturunan Kaukasoid atau Asia
  • Punya orang tua yang pernah patah tulang pinggul
  • Badan langsing atau ringan

Faktor yang kita mampu kendali termasuk:

  • Kekurangan kalsium atau vitamin D dalam diet
  • Merokok
  • Konsumsi lebih dari tiga unit minuman beralkohol per hari
  • Konsumsi kafein berlebihan
  • Kurang berolahraga. Namun olahraga berlebihan juga meningkatkan risiko osteoporosis

Beberapa masalah kesehatan juga meningkatkan risiko osteoporosis:

  • Gizi buruk yang parah
  • Tingkat testosteron yang rendah
  • Infeksi hepatitis C
  • Artritis rematoid dan penyakit terkait
  • Penyakit ginjal lanjutan
  • Kelainan tiroid
  • Penggunaan kortikosteroid (obat antiradang) mis. prednison atau hidrokortison selama lebih dari tiga bulan

HIV dan Osteoporosis?

Infeksi HIV menyebabkan kehilangan kepadatan zat mineral tulang. Beberapa penelitian memberi kesan bahwa HIV sendiri, peradangan kronis, masalah kesehatan lain atau obat tertentu mungkin ada kaitan dengan penyakit tulang.

Penggunaan tenofovir (semacam obat antiretroviral; lihat LI 419) juga dikaitkan dengan kehilangan kepadatan zat mineral tulang.

Antiasam dan Kepadatan Zat Mineral Tulang

Penggunaan obat antiasam macam proton pump inhibitor (mis. lansoprazol, omeprazol atau esomeprazol) secara lama dapat mengurangi kepadatan zat mineral tulang.

Dari sisi lain, kita dapat meningkatkan tingkat kalsium dengan penggunaan obat antiasam kalsium karbonat.

Bagaimana Kita Tahu Kita Osteoporosis?

Sayangnya, mungkin tidak ada tanda osteoporosis sebelum kita patah tulang. Satu-satunya cara untuk mengetahui betapa cepat tulang kita menghilangkan kandungan zat mineral adalah melalui tes. Tes yang paling umum dipakai untuk mengukur kepadatan tulang adalah pengamatan DEXA (Dual Energy X-ray Absorptiometry). Pengamatan DEXA adalah cepat dan tanpa rasa sakit. Odha berusia 50 tahun ke atas diusulkan melakukan pengamatan DEXA.

Kepadatan zat mineral tulang dilaporkan sebagai gram per sentimeter kubik. Angka ini dibandingkan dengan kepadatan zat mineral maksimal untuk seorang berusia 30 tahun yang sehat dari jenis kelamin sama. Skor-T mengukur seberapa kandungan zat mineral tulang di bawah angka puncak. Osteoporosis didefinisikan sebagai mempunyai skor-T –2,5 atau lebih rendah. Skor-T antara –1,0 dan –2,5 menunjukkan osteopenia.

Kepadatan tulang juga dapat dilaporkan sebagai skor-Z. Ini membandingkan kandungan zat mineral tulang kita dengan orang berusia dan jenis kelamin yang sama.

Bagaimana Kita Menghadapi Osteoporosis?

Untuk mencegah osteoporosis, memakai banyak zat kalsium waktu masih membangun tulang (hingga usia 30 tahun). Semakin tinggi puncak kepadatan tulang, semakin baik.

Jika kita osteopenia atau osteoporosis, kita dapat mengurangi risiko patah tulang:

  • Pastikan kita dapat kalsium secukupnya. Tingkat yang diusulkan tergantung pada usia: 9-18 tahun: 1.300mg/hari; 19-50 tahun: 1.000mg/hari; 50 tahun ke atas: 1.200mg/hari.

Kita mungkin mendapatkan kalsium secukupnya dari makanan, terutama kita makan yoghurt atau keju, atau minum susu. Buah badam, buncis, buah ara, brokoli, dan banyak macam makanan lain mengandung banyak. Bila kita pakai suplemen kalsium ingat bahwa penyerapan kalsium dibantu oleh vitamin D.

  • Lakukan olahraga angkat beban tampaknya memberi isyarat pada tulang untuk menahan kandungan zat mineral.
  • Kurangi atau hentikan merokok dan mengurangi konsumsi kafein dan alkohol.
  • Kurangi risiko jatuh. Kosongkan tempat berjalan di rumah. Hati-hati jika naik/turun tangga dan lereng yang curam. Hal ini terutama penting bila kita mengalami neuropati perifer (lihat LI 555) pada kaki.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat alendronat meningkatkan kepadatan mineral tulang pada Odha. Obat ini dari golongan bifosfonat, dan beberapa obat dalam golongan ini dapat dipakai sebulan atau setahun sekali. FDA-AS mencatat masalah tulang pada rahang dan paha sebagai efek samping jangka panjang yang mungkin dari obat ini. Bahas dengan dokter berapa lama terapi bifosfonat dapat dilanjutkan.

Garis Dasar

Odha mengalami osteoporosis, semacam penyakit tulang dengan angka yang luar biasa tinggi. HIV sendiri atau ARV mungkin bertanggung jawab.

Kita dapat membantu mencegah osteoporosis dengan memakai zat kalsium atau suplemen vitamin D, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol dan kafein. Jika tidak ada rasa sakit pada sendi, olahraga angkat beban juga dapat membantu.

Obat alendronat dipakai untuk mengobati osteoporosis terkait HIV.

Diperlukan tes khusus untuk mengetahui apakah kita mengalami osteoporosis.

Ditinjau 9 Desember 2014 berdasarkan FS$#0160;557 The AIDS InfoNet 13 Juni 2014