Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 556 Diperbarui 18 Mei 2013
Toksisitas Mitokondria Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Mitokondria Itu?

Mitokondria (mitochondria) adalah ‘organ’ sangat kecil dalam sel kita. Mitokondria adalah pembangkit tenaga sel. Mitokondria memakai oksigen, lemak dan gula untuk membuat adenosin trifosfat (ATF). Proses ini dikenal sebagai ‘respirasi sel’. Jika membutuhkan tenaga, sel menguraikan molekul ATF untuk melepaskan tenaga yang disimpan.

Semakin banyak tenaga yang dibutuhkan sel tertentu, semakin banyak mitokondria dikandungnya. Satu sel dapat mempunyai hanya beberapa mitokondria, atau pun ribuan. Jumlah yang paling besar ditemukan di sel saraf, otot, dan hati.

Beberapa ilmuwan menganggap bahwa mitokondria adalah kunci terhadap penuaan. Semakin tua kita, mitokondria kita mengalami semakin banyak mutasi (perubahan tidak sengaja pada sel). Sel kita mempunyai cara untuk mengawasi kesalahan (mutasi) waktu digandakan, tetapi mitokondria tidak mempunyai pengawasan ini.

Akhirnya, mutasi itu atau kekurangan mitokondria dapat mengurangi tenaga yang tersedia pada sel. Jika tenaga menurun menjadi cukup rendah, sel tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jika tenaga semakin menurun, sel tersebut dapat berhenti bekerja.

Apa Toksisitas Mitokondria Itu?

Toksisitas mitokondria adalah kerusakan yang mengurangi jumlah mitokondria. Bila jumlah mitokondria dalam sel terlalu sedikit, sel tersebut dapat berhenti bekerja sebagaimana mestinya. Tidak jelas tingkat kehilangan mitokondria yang berpengaruh pada fungsi sel.

Apa Tanda Toksisitas Mitokondria?

Salah satu tanda paling umum toksisitas mitokondria adalah kelemahan otot (miopati). Jika sel otot tidak memperoleh cukup tenaga melalui respirasi sel, sel tersebut harus mendapat tenaga tanpa oksigen. Pembuatan tenaga tanpa oksigen (yang disebut sebagai ‘anaerobik’) ini membuat asam laktik sebagai sisa buangan.

Asam laktik dapat menyebabkan otot pegal. Misalnya, pegal yang orang alami setelah lari maraton disebabkan kelebihan asam laktik.

Beberapa orang dengan toksisitas mitokondria mempunyai tingkat asam laktik yang sangat tinggi dalam darahnya. Masalah yang jarang terjadi ini dikenal sebagai asidosis laktik. Ada tes darah untuk mengukur tingkat asam laktik, tetapi para ahli ragu bagaimana menafsirkan hasilnya. Pengerahan tenaga, misalnya naik tangga, sebelum tes dapat meningkatkan tingkat asam laktik, dengan akibat hasil tesnya salah.

Sangat sulit mengetahui bila kita mengalami toksisitas mitokondria. Namun, kita dapat mengamati tanda asidosis laktik yang berikut:

Asidosis laktik dapat mematikan. Segera hubungi dokter jika mengalami gejala ini.

Toksisitas mitokondria juga dapat mengakibatkan kerusakan saraf (neuropati perifer – lihat Lembaran Informasi (LI) 555). Toksisitas mitokondria dapat dikaitkan dengan kerusakan ginjal dan kehilangan pendengaran. Beberapa peneliti juga menganggap toksisitas mitokondria bertanggung jawab untuk pemindahan lemak tubuh (lipodistrofi, lihat LI 553) pada orang yang memakai obat antiretroviral (ARV).

Bagaimana ARV Menyebabkan Toksisitas Mitokondria?

Mitokondria mempunyai sebuah enzim yang membantunya menggandakan diri. Enzim ini dikenal sebagai polymerase gamma atau pol gamma. Enzim ini sangat mirip dengan enzim reverse transcriptase HIV. Sayangnya, hal ini berarti bahwa obat yang kita pakai untuk menghambat reverse transcriptase juga dapat menghambat pol gamma. Jika ini terjadi, lebih sedikit mitokondria baru yang dibuat.

Obat analog nukleosida (NRTI: AZT, 3TC, ddI, d4T, dan abacavir) semua menghambat pol gamma pada tingkat yang berbeda. Semakin lama obat ini dipakai, semakin mungkin toksisitas mitokondria akan terjadi.

Obat yang berbeda berpengaruh pada organ tubuh yang tertentu. Mungkin ini menjelaskan mengapa toksisitas mitokondria yang disebabkan oleh obat berbeda dapat merusak bagian tubuh yang berbeda.

Diketahui bahwa toksisitas mitokondria dapat menyebabkan kelemahan otot pada orang yang memakai AZT (LI 411). Kemungkinan ini penyebab ‘hati berlemak’ (steatosis hepatik, lihat LI 528) dan tingkat asam laktik yang tinggi terkait dengan penggunaan semua NRTI. Sayangnya, hanya ada sedikit penelitian mengenai tingkat kerusakan mitokondria yang disebabkan oleh masing-masing ARV pada bagian tubuh yang lain. Juga belum diketahui kombinasi obat mana yang menyebabkan paling banyak toksisitas mitokondria.

Para peneliti mengetahui bagaimana mengukur jumlah mitokondria di dalam sel yang berbeda, untuk dibandingkan dengan jumlah normal. Namun, mereka tidak mengetahui jumlah mitokondria yang dapat hilang sehingga menimbulkan masalah.

Apa Selanjutnya?

Sayangnya hanya ada sedikit penelitian terhadap toksisitas mitokondria yang disebabkan NRTI. Percobaan di laboratorium dan terhadap hewan menunjukkan bahwa toksisitas mitokondria dapat menyebabkan kerusakan saraf. Tetapi belum ada penelitian terhadap manusia.

Selama beberapa tahun berikut, para peneliti akan meneliti toksisitas mitokondria. Mereka akan mengembangkan tes untuk mengenalinya. Mereka akan meneliti hubungan antara toksisitas mitokondria dan berbagai efek sampingnya. Beberapa peneliti menganggap bahwa vitamin dan zat mineral tertentu dapat melawan dampak toksisitas mitokondria yang disebabkan oleh ARV.

Sementara itu, Odha harus mengetahui gejala asidosis laktik, sebuah efek samping yang jarang tetapi dapat mematikan.

Diperbarui 18 Mei 2013 berdasarkan FS 556 The AIDS InfoNet 3 Agustus 2011