Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 522 Diperbarui 23 Juni 2011
Histoplasmosis Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Histoplasmosis Itu?

Histoplasmosis adalah infeksi oportunistik (IO) yang umum pada orang HIV-positif. Infeksi ini disebabkan oleh jamur Histoplasma capsulatum. Jamur ini berkembang dalam tanah yang tercemar dengan kotoran burung, kelelawar dan unggas, sehingga ditemukan dalam di kandang burung/unggas dan gua. Infeksi menyebar melalui spora (debu kering) jamur yang dihirup saat bernapas, dan tidak dapat menular dari orang yang terinfeksi.

Jamur ini dapat tumbuh dalam aliran darah orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak, biasanya dengan jumlah CD4 di bawah 150. Setelah berkembang, infeksi dapat menyebar pada paru, kulit, dan kadang kala pada bagian tubuh yang lain. Histoplasmosis adalah penyakit yang didefinisi AIDS.

Gejala awal muncul serupa dengan penyakit flu yang ringan, dan berkembang dengan berbagai gejala, termasuk demam, kelelahan, kehilangan berat badan, hepatosplenomegali (pembengkakan pada hati dan/atau limpa) dan limfadenopati (pembengkakan pada kelenjar getah bening). Kurang lebih 50% pasien mengalami batuk kering, sakit dada dan sesak napas, sementara sejumlah yang lebih kecil mengalami masalah perut-usus dan kulit.

Histoplasmosis juga dapat mempengaruhi sumsum tulang, dengan akibat anemia (kurang darah merah, lihat Lembaran Informasi 552), leukopenia (kurang beberapa jenis darah putih) dan trombositopenia (kurang trombosit, dengan akibat darah sulit beku). Kurang lebih separuh penderita mengalami masalah paru; rontgen dada dapat menunjukkan tanda yang khas pada paru. Penyakit paru akibat histoplasmosis serupa dengan TB dan dapat semakin berat selama bertahun-tahun. Histoplasmosis juga dapat mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP), dengan sampai 20% pasien mengalami gejala kejiwaan.

Bagaimana Histoplasmosis Didiagnosis?

Ada tes antigen untuk infeksi dengan jamur H. capsulatum. Tes ini paling peka dengan contoh air seni, tetapi juga dapat dipakai dengan darah. Histoplasmosis juga dapat didiagnosis dengan membiakkan jamur dari contoh sumsum tulang, tetapi proses ini membutuhkan waktu beberapa minggu.

Dapatkah Histoplasmosis Dicegah?

Cara terbaik untuk mencegah histoplasmosis adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART).

Itrakonazol dapat dipakai untuk mencegah munculnya penyakit akibat infeksi jamur termasuk histoplasmosis, namun penggunaannya umumnya tidak diusulkan. Profilaksis terhadap histoplasmosis dapat dipertimbangkan untuk Odha dengan jumlah CD4 di bawah 150 dengan pekerjaan berisiko tinggi (mis. bertani, berkebun, buruh bangunan).

Bagaimana Histoplasmosis Diobati?

Histoplasmosis diobati dengan dua tahap: induksi (terapi awal untuk infeksi akut), dan rumatan atau profilaksis sekunder (terapi terus-menerus untuk mencegah kambuhnya).

Bila infeksinya ringan atau sedang, terapi induksi dilakukan dengan itrakonazol; versi sirop paling baik. Bila penyakit berat, amfoterisin B dapat dipakai pada awal. Amfoterisin B adalah obat yang sangat manjur. Obat ini diinfus secara perlahan, dan dapat mengakibatkan efek samping yang berat. Ada versi amfoterisin B yang baru, dengan obat dilapisi selaput lemak menjadi gelembung kecil yang disebut liposom. Versi ini mungkin menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Terapi amfoterisin B biasanya dilakukan selama dua minggu atau lebih, dan pasien umumnya dirawat di rumah sakit selama ini. Karena penguraian obat ini berbeda-beda tergantung pada individu, tingkat obat dalam darah harus dipantau. Setelah terapi awal ini selesai, terapi diteruskan dengan itrakonazol selama 12 bulan atau lebih. Flukonazol tidak efektif untuk mengobati histoplasmosis. Bila histoplasmosis sudah mempengaruhi SSP, biasanya terapi induksi dengan amfoterisin B diteruskan selama 4-6 minggu.

Setelah terapi ini, profilaksis sekunder, biasanya dengan itrakonazol, harus dilakukan seumur hidup. Ada kesepakatan bahwa profilaksis sekunder ini dapat dihentikan bila terapi sudah dilakukan lebih dari 12 bulan, jumlah CD4 di atas 150, ART dipakai selama lebih dari enam bulan, DAN tes pada air seni mendukung.

Garis Dasar

Histoplasmosis adalah penyakit jamur yang cukup umum pada Odha di Indonesia. Jamur tersebut tidak dapat diberantas.

Penyakit ini muncul saat sistem kekebalan tubuh sangat rusak, yaitu dengan jumlah CD4 di bawah 150.

Histoplasmosis biasanya harus diobati pada awal dengan obat yang cukup manjur, amfoterisin B, yang juga menimbulkan efek samping yang berat. Setelah pengobatan awal, terapi harus diteruskan dengan itrakonazol seumur hidup, atau sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi pulih akibat penggunaan ART.

Diperbarui 23 Juni 2011 berdasarkan pedoman DHHS 10 April 2009, dan hlm. AETC cm-515 edisi 2006