Lembaran Informasi 520 Diperbarui 2 Juni 2010
Penisiliosis Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Penisiliosis Itu?

Penisiliosis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, yang biasanya ditemukan di daerah tropis. Hingga saat ini, sebagian besar kasus penisiliosis ditemukan di Thailand utara, dan jarang didiagnosis sebelum AIDS. Seperempat pasien AIDS di Chiang Mai, Thailand didiagnosis penisiliosis, sementara lima kasus didiagnosis di Singapura sampai dengan 2001. Penisiliosis adalah infeksi oportunistik (IO) terkait HIV tertinggi ketiga di Thailand dan daerah lain di Asia Tenggara.

Seperti penyakit lain yang jarang ditemui dan dulu sangat tidak dikenal, infeksi ini mempunyai kesempatan untuk berkembang karena lemahnya sistem kekebalan orang yang terinfeksi HIV. Kebanyakan kasus penisiliosis ditemu pada orang dengan jumlah CD4 di bawah 100. Jika tidak diobati, penisiliosis dapat mematikan.

Sumber infeksi jamur ini masih belum ditentukan. Infeksi ini ditemukan pada empat jenis tikus bambu, dan juga dalam tanah. Tikus bambu ditemukan di Cina selatan sampai ke Indonesia. Di Thailand Utara, habitatnya adalah di belukar bambu di daerah pegunungan, tempat tikus itu hidup dalam tanah dan berkembang pada musim hujan. Kemungkinan penularan terjadi dari tanah dan tampaknya lebih sering terjadi pada musim hujan.

Penisiliosis adalah penyakit pernapasan yang disebarkan dari paru. P. marneffei dapat ditemukan di tempat yang sedang dibangun, ketika membongkar bangunan tua, dan pada kotoran burung serta kelelawar.

Tanda penisiliosis sebagian besar tidak khusus; gejalanya, seperti demam, kehilangan berat badan, anemia (kurang sel darah merah), batuk, ruam pada kulit, dan kelenjar getah bening, limpa dan hati yang bengkak. Hingga 70% kasus juga mengalami lesi (luka) seperti jerawat pada kulit di daerah muka, telinga, kaki dan tangan, dan kadang di kelamin. Penisiliosis juga dapat mempengaruhi organ tubuh lain, termasuk sumsum tulang, kelenjar getah bening, paru, hati dan usus. Gejala muncul secara mendadak dan hebat. Karena gejala ini sangat umum terkait AIDS, terutama mirip dengan gejala infeksi kriptokokosis atau histoplasmosis, mungkin kebanyakan kasus tidak didiagnosis sebagai penisiliosis.

Bagaimana Penisiliosis Didiagnosis?

Penyakit ini dapat didiagnosis dengan memeriksa contoh kulit, isi kelenjar atau sumsum tulang dengan mikroskop. Namun sebagian besar diagnosis dilaksanakan dengan pemeriksaan klinis, walaupun gejala klinis dapat disalahartikan dengan penyakit lain seperti histoplasmosis, kriptokokosis, atau moluskum.

Diagnosis dapat ditegakkan dengan membiakkan contoh darah atau sumsum tulang. DNA (bahan genetik) jamur ini dapat ditemukan dengan tes PCR, dan cara ini sedang dinilai sebagai tes yang dapat memberi hasil lebih cepat.

Dapatkah Penisiliosis Dicegah?

Karena penisiliosis hanya terjadi pada daerah tertentu, hingga saat ini belum ada usulan mengenai cara mencegahnya. Para peneliti sedang mengembangkan tes skrining untuk menentukan orang yang terinfeksi jamur ini. Dengan tes ini, mungkin pasien yang dapat mengambil manfaat dari profilaksis (obat yang dipakai untuk mencegah penyakit) dapat diketahui.

Bagaimana Penisiliosis Diobati?

Penisiliosis biasanya diobati dengan obat antijamur, terutama amfoterisin B. Amfoterisin B adalah obat yang sangat manjur. Obat ini diinfus secara perlahan, dan dapat mengakibatkan efek samping yang berat.

Pasien dengan penisiliosis yang telah menyebar ke seluruh tubuh biasanya menanggapi dengan baik pada amfoterisin B secara infus dengan dosis 0,6mg/kg berat badan per hari untuk dua minggu, diikuti itrakonazol (400mg sekali sehari) untuk sepuluh hari. Pasien dengan penyakit lebih ringan dapat diobati dari awal dengan itrakonazol.

Penelitian menyatakan, setelah pengobatan penisiliosis yang berhasil, separuh pasien Odha kambuh kembali dalam enam bulan. Oleh karena itu, Odha diusulkan memakai itrakonazol 200mg sehari terus-menerus sebagai profilaksis sekunder. Profilaksis ini dapat dihentikan setalh penggunaan terapi antiretroviral (ART) dan jumlah CD4 menjadi lebih dari 100 untuk enam bulan.

Garis Dasar

Penisiliosis adalah penyakit yang bisa menjadi gawat. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei. Jamur ini hanya ditemukan di daerah tropis dan tampaknya dibawa oleh tikus bambu. Infeksi ini tidak dapat menular dari orang ke orang.

Pada orang dengan sistem kekebalan yang rusak (jumlah CD4 di bawah 100), infeksi ini dapat mematikan jika tidak diobati.

Penisiliosis dapat diobati dengan obat antijamur. Setelah kita pulih kembali dari penisiliosis, kita harus terus-menerus memakai obat antijamur untuk mencegah infeksi kambuh kembali.

Diperbarui 2 Juni 2010 berdasarkan pedoman DHHS 10 April 2009