Lembaran Informasi 515 Diperbarui 2 Desember 2009
Tuberkulosis (TB) Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa TB Itu?

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya mempengaruhi paru, tetapi juga dapat mempengaruhi organ lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200.

TB adalah penyakit yang sangat berat di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia, dan sepertiga Odha terinfeksi TB, tetapi sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif. Namun TB adalah penyebab kematian sampai separuh Odha di seluruh dunia, menurut WHO.

Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru.

Ada dua jenis TB aktif. TB primer baru terjadi setelah kita pertama terinfeksi TB. TB keaktifan kembali terjadi pada orang yang sebelumnya terinfeksi TB. Jika sistem kekebalan tubuhnya melemah, TB dapat lolos dari tuberkel dan mengakibatkan penyakit aktif. Kebanyakan kasus TB pada orang dengan HIV diakibatkan keaktifan kembali infeksi TB sebelumnya.

TB aktif dapat menyebabkan gejala berikut: batuk tiga minggu atau lebih; kehilangan berat badan; kelelahan terus-menerus; keringat basah kuyup pada malam; dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP (lihat Lembaran Informasi (LI) 512), tetapi TB dapat terjadi waktu jumlah CD4 tetap tinggi.

TB menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif batuk atau bersin. Kita dapat mengembangkan TB secara mudah jika kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.

TB dan HIV: Pasangan yang Buruk

Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).

Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka untuk orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia meningkat karena HIV.

TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, dan memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting agar orang dengan HIV mencegah dan mengobati TB.

Bagaimana TB Didiagnosis?

Ada tes kulit yang sederhana untuk TB. Sebuah protein yang ditemukan pada bakteri TB disuntik pada kulit lengan. Jika kulit kita bereaksi dengan bengkak, itu berarti kita kemungkinan terinfeksi bakteri TB.

Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan kita, kita mungkin tidak menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun kita terinfeksi TB. Kondisi ini disebut ‘anergi’. Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah terinfeksi TB, jadi tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika kita anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat alinea berikut) adalah cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.

Bila kita mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter akan minta kita menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk satu yang diminta dikeluarkan dari paru pada pagi hari. Dokter juga mungkin melakukan rontgen dada, dan coba membiakkan bakteri TB dari contoh dahak kita. Tes ini dapat memerlukan jangka waktu empat minggu. Sulit mendiagnosis TB aktif, terutama pada Odha, karena tampaknya mirip dengan pneumonia, masalah paru lain, atau infeksi lain. Namun tes baru yang lebih cepat sedang dikembangkan.

Bagaimana TB Diobati?

Jika kita terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif, kemungkinan kita diobati dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam bulan, atau dengan INH plus satu atau dua obat lain untuk tiga bulan. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2001 menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif dibandingkan INH sendiri. INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan.

Jika kita mengalami TB aktif, kita diobati dengan antibiotik. Karena bakteri TB dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat tunggal, kita akan diberi kombinasi antibiotik. TB sulit disembuhkan, dan obat tersebut harus dipakai untuk sedikitnya enam bulan. Jika kita tidak memakai semua obat, TB dalam tubuh kita mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak efektif lagi.

Ada jenis TB yang resistan terhadap beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan terhadap beberapa obat atau MDR-TB, atau yang resistan terhadap semua obat lini pertama dan kedua (XDR-TB). Hingga saat ini, prevalensi MDR-TB dan XDR-TB (bila ada) di Indonesia belum jelas; surveilans akan segera dilakukan oleh Depkes. Kendati ada masalah ini, kebanyakan kasus TB dapat disembuhkan dengan antibiotik yang ada.

Masalah Obat

Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral (ARV) yang dipakai untuk memerangi HIV. Bisa jadi sulit untuk memakai obat untuk TB dan HIV sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perifer (LI 555), seperti juga beberapa ARV, jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersama. Pengobatan TB juga dapat menyebabkan sindrom pemulihan kekebalan (lihat LI 483).

Juga, banyak ARV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB – lihat LI 407 untuk informasi mengenai interaksi obat. Rifampisin atau rifabutin umumnya dipakai untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi tingkat ARV dalam darah kita di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV. ARV dapat meningkatkan tingkat obat TB ini sehingga mengakibatkan efek samping yang berat.

Rifampisin tidak boleh dipakai jika kita memakai kebanyakan protease inhibitor (PI). Rifabutin dapat dipakai dalam beberapa kasus, tetapi mungkin takarannya harus diubah. Ada pedoman khusus untuk dokter jika kita memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus. Juga, jika jumlah CD4 kita di bawah 100, kita sebaiknya memakai rifabutin sedikitnya tiga kali seminggu. Ini mengurangi risiko TB menjadi resistan terhadap rifabutin.

Untuk alasan ini, lebih baik TB diobati sebelum terapi ARV (ART) dimulai. Namun bila jumlah CD4 di bawah 200, ART sebaiknya dimulai setelah efek samping obat TB sudah hilang.

Garis Dasar

TB adalah penyakit berat dan membunuh lebih banyak Odha dibanding dengan semua penyakit lain. TB dan HIV saling memburukkan.

Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif. Jika kita pernah dekat dengan orang TB aktif, atau mempunyai gejala TB, sebaiknya kita segera dites dan diobati.

Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit dipakai sekaligus dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan TB. Beberapa obat TB dapat berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan harus direncanakan dengan hati-hati jika kita memiliki TB dan HIV sekaligus.

Diperbarui 2 Desember 2009 berdasarkan FS 518 The AIDS Infonet 9 Agustus 2009