Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 515 Diperbarui 7 Februari 2014

Tuberkulosis (TB)

Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa TB Itu?

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya berpengaruh pada paru, tetapi juga dapat berdampak pada organ lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200.

TB adalah penyakit yang sangat berat di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia, dan sepertiga Odha terinfeksi TB. Sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif. TB adalah penyebab kematian yang besar untuk Odha di seluruh dunia, menurut WHO.

Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru. Infeksi ini disebut TB paru. Infeksi dapat menyebar dari paru ke ginjal, tulang belakang dan otak. Infeksi ini disebut TB luar paru. TB luar paru ditemukan pada orang yang sudah terinfeksi TB tetapi belum diobati. Odha yang tinggal di daerah rawan TB dapat mengembangkan TB luar paru.

TB aktif di paru dapat menyebabkan batuk selama tiga minggu atau lebih, kehilangan berat badan, kelelahan terus-menerus, keringat basah kuyup pada malam, dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP (lihat Lembaran Informasi (LI) 512). Gejala ini dapat berbeda bila TB juga terjadi di bagian tubuh lain. Bila Odha dengan TB mengalami gejala tanpa alasan jelas, sebaiknya kesampingkan penyakit TB aktif.

TB menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau bicara. Sinar ultraviolet dalam cahaya matahari dapat mematikan TB. Ventilasi yang baik mengurangi risiko infeksi TB. Namun orang yang tinggal dekat dengan orang dengan TB aktif mudah terinfeksi. Hal ini terutama mungkin bila kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.

TB dan HIV: Pasangan yang Buruk

Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).

Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka untuk orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia meningkat karena HIV.

TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, mengurangi jumlah CD4 dan memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting agar orang dengan HIV mencegah dan mengobati TB.

Bagaimana TB Didiagnosis?

Ada tes kulit yang sederhana untuk TB. Sebuah protein yang ditemukan pada bakteri TB disuntik pada kulit lengan. Jika kulit kita bereaksi dengan bengkak, itu berarti kita kemungkinan terinfeksi bakteri TB. Hasil tes kulit yang positif bukan berarti kita TB aktif.

Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan kita, kita mungkin tidak menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun kita terinfeksi TB. Kondisi ini disebut ‘anergi’. Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah terinfeksi TB, jadi tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika kita anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat alinea berikut) adalah cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.

Bila kita mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter akan minta kita menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk satu yang diminta dikeluarkan dari paru pada pagi hari. Dokter juga mungkin melakukan rontgen dada. Dokter juga akan coba membiakkan bakteri TB dari contoh dahak atau cairan yang diambil dari bagian tubuh lain yang dapat mengena TB. Tes ini dapat memerlukan jangka waktu dua sampai empat minggu, tergantung pada cara yang dilakukan. Sulit mendiagnosis TB aktif, terutama pada Odha, karena tampaknya mirip dengan pneumonia, masalah paru lain, atau infeksi lain, dan juga dapat terjadi di luar paru. Namun tes baru yang lebih cepat sedang dikembangkan.

Bagaimana TB Diobati?

Jika kita terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif, kemungkinan kita diobati dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam bulan, atau dengan INH plus satu atau dua obat lain untuk tiga bulan. INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan. Sebuah penelitian pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan INH bersamaan dengan rifapentin seminggu sekali selama tiga bulan sama efektif. CDC-AS sekarang mengusulkan terapi jangka lebih pendek ini. Sayangnya rifapentin berinteraksi dengan beberapa protease inhibitor. Penyesuaian takaran mungkin dibutuhkan, tetapi belum diteliti.

Jika kita mengalami TB aktif, kita diobati dengan antibiotik. Karena bakteri TB dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat tunggal, kita akan diberi kombinasi antibiotik. Obat TB harus dipakai untuk sedikitnya enam bulan, tetapi kebanyakan kasus TB dapat disembuhkan dengan antibiotik yang ada. Jika kita tidak memakai semua obat, TB dalam tubuh kita mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak efektif lagi.

Ada jenis TB yang resistan terhadap beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan terhadap beberapa obat atau MDR-TB, atau yang resistan terhadap semua obat lini pertama dan kedua (XDR-TB). Jenis TB ini jauh lebih sulit diobati. Lebih banyak jenis obat harus dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama. Angka kesembuhan lebih rendah dibandingkan TB yang lazim. Untuk pertama kali selama 40 tahun terakhir, FDA-AS baru saja menyetujui obat baru untuk TB. Obat tersebut, bedakwilin, adalah efektif terhadap TB yang resistan terhadap obat lain.

Masalah Obat

Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral (ARV). Bisa jadi sulit untuk memakai obat TB dan ARV sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perifer (LI 555), seperti juga beberapa ARV, jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersama. Pengobatan TB juga dapat menyebabkan sindrom pemulihan kekebalan (lihat LI 483).

Juga, banyak ARV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB – lihat LI 407 untuk informasi mengenai interaksi obat. Rifampisin umumnya dipakai untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi tingkat ARV dalam darah kita di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV. ARV dapat meningkatkan tingkat obat TB ini sehingga mengakibatkan efek samping yang berat.

Rifampisin tidak boleh dipakai jika kita memakai kebanyakan protease inhibitor (PI) atau NNRTI. Ada pedoman khusus untuk dokter jika kita memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus.

Untuk alasan ini, lebih baik TB diobati sebelum terapi ARV (ART) dimulai. Namun bila jumlah CD4 di bawah 350, ART sebaiknya dimulai segera setelah efek samping obat TB sudah hilang.

Garis Dasar

TB adalah penyakit berat dan membunuh lebih banyak Odha dibanding dengan semua penyakit lain. TB dan HIV saling memburukkan.

Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif. Jika kita pernah dekat dengan orang TB aktif, atau mempunyai gejala TB, sebaiknya kita segera dites dan diobati.

Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit dipakai sekaligus dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan TB. Beberapa obat TB dapat berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan harus direncanakan dengan hati-hati jika kita memiliki TB dan HIV sekaligus. Penting dipahami bahwa semua obat TB harus dipakai untuk jangka waktu sesuai perintah dokter.

Diperbarui 7 Februari 2014 berdasarkan FS 518 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014