| Lembaran Informasi 506 | Diperbarui 30 Mei 2012 |
| Hepatitis C (HCV) & HIV | Unduh versi PDF |
Apa Hepatitis C Itu?
Virus hepatitis C (HCV) dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Infeksi HCV terutama tersebar melalui hubungan langsung darah-ke-darah. Kebanyakan orang tertular HCV melalui penggunaan narkoba suntikan dengan memakai jarum suntik secara bergantian. Sampai 90% orang yang pernah menyuntik narkoba, walau hanya sekali, ternyata terinfeksi HCV. Beberapa orang juga terinfeksi HCV melalui hubungan seks tanpa kondom. Risiko ini terutama tinggi untuk laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, orang dengan infeksi menular seksual yang lain, orang dengan banyak pasangan seks, dan orang yang melalukan kegiatan seksual yang menyebabkan perdarahan, misalnya memasukkan tangan pada dubur (fisting). HCV juga dapat tertular melalui peralatan tato. Beberapa orang juga terinfeksi dalam sarana kesehatan, melalui tertusuk secara tidak sengaja dengan jarum suntik atau alat lain yang tidak steril. HCV juga dapat menular melalui transfusi darah, walau darah donor di Indonesia diskrining untuk HCV.
HCV lebih mudah menular dibanding HIV melalui darah yang tercemar. Di Indonesia, ada kurang lebih 40 kali lebih banyak orang HCV-positif dibanding HIV-positif. Kita bisa terinfeksi HCV dan tidak menyadarinya. Kurang lebih 15-30% orang memberantas HCV dari tubuhnya tanpa pengobatan. Sisanya mengembangkan infeksi kronis, dan virus ini bermukim dalam tubuh kecuali bila berhasil diobati. HCV mungkin tidak menyebabkan masalah selama kurang lebih 15-20 tahun, bahkan lebih lama, tetapi HCV dapat mengakibatkan kerusakan hati berat yang disebut sirosis. Orang dengan sirosis berisiko lebih tinggi terhadap kanker hati, gagal hati dan kematian. Sebuah penelitian besar pada 2011 menemukan bahwa infeksi HCV kronis meningkatkan risiko kematian dari penyebab apa pun dua kali lipat.
Bagaimana HCV Didiagnosis?
Beberapa orang terinfeksi HCV mempunyai tingkat enzim hati (ALT/SGPT) yang luar biasa tinggi. Lihat Lembaran Informasi (LI) 135 untuk informasi tentang tes ini. Bila kita pernah berisiko HCV, sebaiknya kita dites HCV, walau tingkat enzim hati tetap normal. Tes HCV diusulkan untuk semua Odha, karena koinfeksi (infeksi bersamaan) adalah umum.
Umumnya, tes darah pertama untuk HCV adalah tes antibodi. Hasil tes positif berarti kita pernah terinfeksi HCV. Namun HCV pada beberapa orang dapat sembuh tanpa pengobatan, jadi kita membutuhkan tes viral load HCV untuk mengetahui apakah kita terinfeksi kronis. Tes viral load HCV diusulkan bila kita pernah berisiko HCV, atau mengalami tanda atau gejala hepatitis.
Tes HCV serupa dengan tes antibodi dan viral load HIV. Viral load HCV umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan viral load HIV, sering kali jutaan. Berbeda juga dengan HIV, viral load HCV tidak meramalkan kelanjutan penyakit.
Viral load HCV atau hasil tingkat enzim hati tidak menunjukkan tingkat kerusakan pada hati. Biopsi hati (LI 672) adalah cara terbaik untuk memastikan keadaan hati. Bila hanya ada sedikit kerusakan pada hati, beberapa pakar mengusulkan hati dipantau; bila ada parutan, pengobatan HCV mungkin dibutuhkan.
Bagaimana HCV Diobati?
Hampir semua kasus HCV dapat disembuhkan jika pengobatan dengan interferon dimulai sangat dini sejak terinfeksi. Sayangnya, kebanyakan orang pada awal infeksi tidak sama sekali mengalami tanda hepatitis, atau menganggapnya sebagai gejala flu. Kebanyakan kasus baru didiagnosis setelah beberapa tahun.
Langkah pertama dalam mengobati HCV adalah untuk menentukan genotipe HCV (LI 674). Kebanyakan orang terinfeksi dengan genotipe 1. Genotipe 1 dan 4 lebih sulit diobati dibandingkan genotipe 2 atau 3.
Pengobatan umum untuk HCV adalah kombinasi dua obat: interferon pegilasi (pegIFN) dan ribavirin (RBV) – lihat LI 680. Obat ini mempunyai efek samping yang berat, termasuk gejala mirip flu, lekas marah, depresi, dan kekurangan sel darah merah (anemia) atau sel darah putih (neutropenia).
Beberapa obat baru untuk HCV sedang dikembangkan. Saat ini, obat baru ini ditambah ada pegIFN/RBV.
Pengobatan HCV tidak cocok untuk semua orang, dan beberapa orang tidak tahan efek sampingnya. Kita lebih mungkin berhasil jika kita:
Dapatkah HCV Dicegah?
Belum ada vaksin untuk HCV. Cara terbaik untuk mencegah infeksi HCV adalah menghindari penggunaan peralatan suntik narkoba bergantian dan kontak lain dengan darah terinfeksi HCV.
Koinfeksi HCV dan HIV
Karena HIV dan HCV ditularkan melalui hubungan dengan darah yang terinfeksi, banyak orang terinfeksi kedua virus ini, yang disebut koinfeksi.
Ditinjau 22 Oktober 2012 berdasarkan FS 507 The AIDS Infonet 10 Agustus 2012