Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 503 Diperbarui 1 September 2013
Meningitis Kriptokokus Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Meningitis Kriptokokus Itu?

Kriptokokus adalah jamur. Kuman ini sangat lazim berada di tanah. Jamur ini masuk ke tubuh kita waktu kita menghirup debu atau kotoran burung yang kering. Tampaknya kuman ini tidak menyebar dari orang ke orang.

Meningitis adalah infeksi pada lapisan urat saraf tulang punggung dan otak. Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai jenis infeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan koma dan kematian. Meningitis adalah penyakit paling umum yang disebabkan oleh kriptokokus. Kriptokokus juga dapat menginfeksi kulit, paru, dan bagian tubuh lain. Risiko infeksi kriptokokus paling tinggi jika jumlah CD4 di bawah 50. Meningitis kriptokokus adalah salah satu infeksi oportunistik terkait HIV yang terpenting, terutama di negara berkembang. Sebuah penelitian baru memperkirakan ada satu juta kasus setiap tahun.

Tanda pertama meningitis termasuk demam, kelelahan, leher pegal, sakit kepala, mual dan muntah, kebingungan, penglihatan kabur, dan kepekaan pada cahaya terang. Gejala ini muncul secara perlahan. Sakit kepala sering dialami pada bagian depan kepala dan tidak mampu diredakan oleh parasetamol.

Penyakit HIV atau obat juga dapat menyebabkan gejala yang serupa. Jadi, tes laboratorium dipakai untuk menentukan diagnosis meningitis.

Tes laboratorium ini memakai darah atau cairan sumsum tulang punggung. Cairan sumsum tulang punggung diambil dengan proses yang disebut pungsi lumbal (lumbar puncture atau spinal tap). Sebuah jarum ditusukkan pada pertengahan tulang punggung kita, pas di atas pinggul. Jarum menyedot contoh cairan sumsum tulang punggung. Tekanan cairan sumsum tulang punggung juga dapat diukur. Bila tekanan terlalu tinggi, sebagian cairan tersebut dapat disedot. Tes ini aman dan biasanya tidak terlalu menyakitkan. Namun setelah pungsi lumbal beberapa orang mengalami sakit kepala, yang dapat berlangsung beberapa hari.

Darah atau cairan sumsum tulang punggung dapat dites untuk kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut ‘CRAG’ mencari antigen (sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus. Tes ‘biakan’ mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh cairan. Tes CRAG cepat dilakukan dan dapat memberi hasil pada hari yang sama. Tes biakan membutuhkan satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil positif. Cairan sumsum tulang punggung juga dapat dites secara cepat bila diwarnai dengan tinta India.

Bagaimana Meningitis Kriptokokus Diobati?

Meningitis kriptokokus diobati dengan obat antijamur. Beberapa dokter memakai flukonazol. Obat ini tersedia dengan bentuk pil atau infus. Flukonazol lumayan efektif, dan biasanya mudah ditahan (lihat Lembaran Informasi (LI) 534). Itrakonazol kadang kala dipakai untuk orang yang tidak tahan dengan flukonazol. Dokter lain memilih kombinasi amfoterisin B dan kapsul flusitosin.

Amfoterisin B adalah obat yang sangat manjur. Obat ini disuntikkan atau diinfus secara perlahan, dan dapat mengakibatkan efek samping yang berat. Efek samping ini dapat dikurangi dengan memakai obat semacam ibuprofen setengah jam sebelum amfoterisin B dipakai. Ada versi amfoterisin B yang baru, dengan obat dilapisi selaput lemak menjadi gelembung kecil yang disebut liposom. Versi ini mungkin menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Meningitis kriptokokus kambuh setelah kejadian pertama pada kurang lebih separuh orang. Kemungkinan kambuh dapat dikurangi dengan terus memakai obat antijamur. Namun sebuah penelitian baru menemukan bahwa meningitis tidak kambuh pada Odha dengan jumlah CD4 meningkat menjadi lebih dari 100 dan mempunyai viral load tidak terdeteksi selama tiga bulan.

Untuk beberapa orang, cairan sumsum tulang punggung harus disedot setiap hari untuk beberapa waktu agar mengurangi tekanan pada otak.

Odha yang mulai terapi antiretroviral (ART) setelah terinfeksi kriptokokus dapat mengalami gejala ini sebagai bagian dari sindrom pemulihan kekebalan (IRIS: lihat LI 483). Sebuah penelitian pada 2011 menunjukkan bahwa mulai ART sekaligus mengobati meningitis kriptokokus meningkatkan risiko IRIS. Hasil yang lebih baik dicapai dengan mengobati meningitis tersebut sebelum mulai ART.

Bagaimana Kita Dapat Memilih Pengobatan?

Jika kita mengalami meningitis kriptokokus, kita diobati dengan obat antijamur seperti amfoterisin B, flukonazol dan flusitosin. Amfoterisin B adalah yang paling manjur, tetapi obat ini dapat merusak ginjal. Obat lain mengakibatkan efek samping yang lebih ringan, tetapi kurang efektif memberantas kriptokokus.

Jika meningitis didiagnosis cukup dini, penyakit ini dapat diobati tanpa memakai amfoterisin B. Namun, pengobatan yang umum adalah amfoterisin B untuk dua minggu diikuti dengan flukonazol oral (pil). Tanpa ART, flukonazol harus dipakai terus untuk seumur hidup; kalau tidak, meningitis kemungkinan akan kambuh. Bila kita memakai ART, kita boleh berhenti penggunaan flukonazol jika jumlah CD4 kita tetap di atas 200 selama lebih dari enam bulan.

Dapatkah Meningitis Kriptokokus Dicegah?

Memakai flukonazol waktu jumlah CD4 di bawah 50 dapat membantu mencegah meningitis kriptokokus. Tetapi ada beberapa alasan sebagian besar dokter tidak meresepkannya:

Garis Dasar

Meningitis terjadi paling sering pada orang dengan jumlah CD4 di bawah 50. Walaupun obat antijamur dapat mencegah meningitis kriptokokus, obat ini biasanya tidak dipakai karena mahal dan risiko mengembangkan infeksi ragi yang resistan terhadap obat tersebut.

Jika kita mengalami meningitis kriptokokus, diagnosis dini mungkin membolehkan pengobatan dengan obat yang kurang beracun. Kita sebaiknya menghubungi dokter jika kita mengalami sakit kepala, leher pegal, masalah penglihatan, kebingungan, mual, atau muntah.

Jika kita pernah meningitis, kita harus memakai obat antijamur terus-menerus untuk mencegah kambuhnya. Namun profilaksis ini dapat dihentikan bila CD4 kita tetap di atas 200 selama enam bulan akibat penggunaan ART.

Ditinjau 1 September 2013 berdasarkan FS 503 The AIDS InfoNet 29 Mei 2013