Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 461 Diperbarui 12 Juni 2013
Enfuvirtide Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Enfuvirtide Itu?

Enfuvirtide adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Obat ini juga dikenal sebagai Fuzeon (nama merek) atau T-20. Enfuvirtide dibuat oleh Roche dan Trimeris. Enfuvirtide belum tersedia sebagai versi generik. Saat ini enfuvirtide belum tersedia secara umum di Indonesia.

Enfuvirtide adalah obat pertama dalam golongan antiretroviral (ARV) yang disebut sebagai ‘fusion inhibitor’. Saat menularkan sel, HIV mengikat pada permukaan sel. Setelah itu, HIV masuk pada sel melalui proses ‘peleburan (fusion)’. Enfuvirtide mencegah proses peleburan ini, dengan begitu menghambat penularan sel oleh HIV.

Siapa Sebaiknya Memakai Enfuvirtide?

Enfuvirtide disetujui di AS pada 2003 sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang dengan infeksi HIV. Enfuvirtide sudah ditelitikan pada orang dewasa dan anak berusia di atas enam bulan.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan obat HIV. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Enfuvirtide disuntikkan dua kali sehari. Obat ini umumnya dipakai oleh Odha yang kurang pilihan ARV lain.

Jika kita memakai enfuvirtide dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita sampai tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melupakan atau mengurangi dosis.

Penelitian baru menunjukkan bahwa enfuvirtide dapat tetap efektif walau HIV sudah mulai resistan terhadap obat tersebut.

Kadang kala, jika virus kita mengembangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain. Enfuvirtide tidak dapat mengembangkan resistansi silang terhadap ARV lain.

Bagaimana Enfuvirtide Dipakai?

Bila enfuvirtide ditelan, obat dihancurkan oleh asam dalam perut. Hal ini berarti enfuvirtide tidak dapat dipakai sebagai pil. Enfuvirtide disuntik di bawah kulit. Proses ini disebut suntikan subcutaneous.

Dosis normal untuk orang dewasa adalah 90mg per suntikan dipakai dua kali sehari. Takaran untuk anak berdasarkan berat badan. Suntikan enfuvirtide sekali sehari sedang diteliti.

Bila dokter kita meresepkan enfuvirtide, kita akan dilatih untuk menyiapkan suntikan, serta bagaimana dan di mana disuntik. Penyiapan suntikan enfuvirtide membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Kita dapat menyiapkan kedua dosis harian sekaligus. Hindari menyuntik dekat saraf besar (tanya dokter mengenai ini). Juga, jangan menyuntik pada tempat yang sebelumnya menimbulkan reaksi, atau pada tahi lalat, tato, jaringan bekas luka, memar, atau pada pusar.

Semacam penyuntik baru (disebut Biojector) yang tidak membutuhkan jarum dipertimbangkan untuk penggunaan dengan enfuvirtide. Namun perkembangan alat ini dihentikan pada Oktober 2007.

Enfuvirtide adalah golongan ARV baru. Hal ini berarti obat ini tetap manjur terhadap HIV yang sudah mengembangkan resistansi terhadap ARV lain. Namun enfuvirtide tidak boleh dipakai sebagai monoterapi (tanpa ARV lain). Enfuvirtide harus dipakai dalam kombinasi dengan ARV lain.

Apa Efek Samping Enfuvirtide?

Efek samping yang paling umum yang diakibatkan oleh enfuvirtide adalah reaksi kulit pada tempat suntikan. Hampir semua orang yang memakai enfuvirtide mengalami reaksi ini. Reaksi ini dapat sangat ringan, sekadar kulit jadi merah. Tetapi reaksi dapat lebih berat, termasuk gatal, pembengkakan, nyeri, kulit menjadi keras, atau gumpalan keras. Setiap reaksi dapat bertahan sampai satu minggu.

Dengan dua suntikan setiap hari, orang yang memakai enfuvirtide mungkin mengalami reaksi pada beberapa tempat di tubuhnya pada waktu yang sama. Namun hanya sedikit berhenti memakai enfuvirtide akibat reaksi kulit.

Efek samping lain yang paling umum yang diakibatkan oleh enfuvirtide adalah sakit kepala, nyeri dan mati rasa pada kaki, pusing, dan kesulitan tidur. Orang yang memakai enfuvirtide tampaknya mengalami tingkat pneumonia bakteri yang lebih tinggi. Pastikan dokter tahu bila kita mengalami masalah paru.

Bagaimana Enfuvirtide Berinteraksi dengan Obat Lain?

Enfuvirtide sudah diteliti untuk menentukan apakah ada interaksi dengan obat lain (lihat LI 407). Saat ini belum diketahui interaksi dengan ARV lain. Namun enfuvirtide belum diteliti dengan semua obat, obat tanpa resep, atau vitamin dan jamu. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Garis Dasar

Enfuvirtide adalah obat pertama dalam golongan baru. Obat ini menghambat peleburan HIV pada sel. Hal ini mencegah agar HIV tidak dapat menularkan sel. Enfuvirtide membantu mengendalikan HIV, walau yang sudah resistan terhadap obat lain.

Enfuvirtide harus disuntikkan di bawah kulit dua kali sehari. Hampir semua orang yang memakainya mengalami reaksi kulit di tempat suntikan. Kebanyakan reaksi ini tidak berat.

Ditinjau 12 Juni 2013 berdasarkan FS 461 The AIDS InfoNet 29 Mei 2013