Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 450 Diperbarui 1 Juni 2014

Darunavir

Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Darunavir Itu?

Darunavir adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Obat ini juga dikenal sebagai Prezista (nama merek), dan dahulu dikenal sebagai TMC114. Darunavir dibuat oleh Tibotec Pharmaceuticals. Darunavir belum tersedia sebagai versi generik. Saat ini darunavir belum tersedia secara umum di Indonesia.

Darunavir adalah protease inhibitor. Obat golongan ini mencegah pekerjaan enzim protease. Protease HIV bertindak seperti gunting kimia. Enzim ini memotong bahan baku HIV menjadi potongan khusus yang dibutuhkan untuk membangun virus baru. Protease inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Darunavir?

Darunavir disetujui di AS pada 2006 sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang dengan infeksi HIV. Darunavir tidak boleh dipakai oleh anak berusia di bawah tiga tahun, dan belum diteliti pada anak berusia antara tiga dan enam tahun.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Jika kita memakai darunavir dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita sampai tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengembangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

Darunavir dikembangkan secara khusus untuk mengendalikan HIV yang sudah resistan terhadap protease inhibitor lain. Oleh karena itu, kemungkinan darunavir akan menunjukkan resistansi silang dengan protease inhibitor lain adalah rendah.

Bagaimana Darunavir Dipakai?

Darunavir dipakai sebagai tablet. Dosis normal untuk orang dewasa adalah 600mg plus ritonavir 100mg dipakai dua kali sehari. Tablet tersedia sekarang mengandung 75mg, 150mg, 300mg, 400mg, 600mg dan 800mg. Pilihan ini dapat mengurangi jumlah pil yang harus dipakai.

Pada 2008, FDA AS menyetujui darunavir sebagai bagian dari rejimen lini pertama (untuk orang yang belum pernah memakai ART), dengan dosis 800mg plus ritonavir 100mg sekali sehari dengan makanan. Pada 2010, dosis sekali sehari itu disetujui untuk mengobati pasien yang berpengalaman dengan ART, asal tes resistansi genotip (lihat LI 126) tidak menunjukkan mutasi terhadap protease inhibitor yang terkait.

Pada 2011 Tibotec mengumumkan persetujuan dengan Gilead Sciences untuk mengembangkan pil kombinasi mengandung darunavir dan cobicistat (penguat pengganti ritonavir). Versi ini akan dipakai sebagai satu pil sekali sehari.

Darunavir juga sudah disetujui untuk dipakai oleh anak berusia tiga tahun ke atas yang berpengalaman dengan ART. Tersedia tablet yang mengandung 75mg dan 150mg darunavir untuk anak. Versi sirop disetujui oleh FDA-AS pada 2011 untuk dipakai oleh anak atau orang dewasa. Pada 2012, darunavir disetujui oleh FDA-AS untuk dipakai oleh anak berusia 6 tahun ke atas. Pada anak tetap dipakai dengan ritonavir, dan takaran tergantung pada berat badan.

Darunavir harus dipakai dengan makanan, agar tingkat darunavir dalam darah menjadi cukup tinggi. Jenis makanan tidak penting.

Darunavir sebaiknya disimpan pada suhu ruang.

Apa Efek Samping Darunavir?

Efek samping yang paling umum yang diakibatkan oleh darunavir termasuk diare, mual, sakit kepala, dan pilek. Beberapa orang dapat mengalami ruam kulit; masalah ini dapat menjadi gawat, walau jarang.

Darunavir belum ditelitikan secara ketat pada pasien dengan hepatitis B atau hepatitis C, atau orang dengan penyakit hati. Odha terinfeksi bersama dengan virus hepatitis atau dengan penyakit hati yang memakai darunavir sebaiknya dipantau secara ketat. Beberapa kasus kerusakan hati yang berat dilaporkan.

Darunavir yang dipakai bersamaan dengan ritonavir dapat meningkatkan tingkat kolesterol dan trigliserida (lemak dalam darah). Lihat LI 123 untuk informasi mengenai lemak darah. Tingkat lemak darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Pastikan tingkat lemak dalam darah diukur sebelum kita mulai pakai darunavir, dan kemudian secara berkala.

Darunavir adalah obat sulfa. Bila kita alergi terhadap obat sulfa, pastikan hal ini diketahui oleh dokter.

Bagaimana Darunavir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Darunavir dengan ritonavir dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat mengubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan mengakibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui.

Obat yang harus diperhatikan termasuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), obat untuk disfungsi ereksi (mis. Viagra), obat yang mengendalikan denyut jantung (antiaritmia), dan obat sakit kepala migran. Interaksi juga dapat terjadi dengan beberapa antihistamin (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, dan obat antijamur. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Beberapa pil KB mungkin tidak bekerja bila dipakai bersamaan dengan darunavir. Membahas cara KB yang terbaik untuk kita dengan dokter.

Darunavir menurunkan tingkat metadon dalam darah. Waspadai tanda sedasi berlebihan bila dipakai darunavir bersamaan dengan buprenorfin.

Jamu St. John’s Wort (lihat FS 729) menurunkan tingkat beberapa protease inhibitor dalam darah. Jangan memakai jamu ini bersamaan dengan darunavir.

Ditinjau 1 Juni 2014 berdasarkan FS 450 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014