Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 449 Diperbarui 4 Desember 2013
Tipranavir Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Tipranavir Itu?

Tipranavir adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Obat ini juga dikenal sebagai Aptivus. Tipranavir dibuat oleh Boehringer Ingelheim. Tipranavir belum tersedia dalam versi generik. Saat ini tipranavir belum tersedia secara umum di Indonesia.

Tipranavir adalah protease inhibitor. Obat golongan ini mencegah pekerjaan enzim protease. Protease HIV bertindak seperti gunting kimia. Enzim ini memotong bahan baku HIV menjadi potongan khusus yang dibutuhkan untuk membangun virus baru. Protease inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Tipranavir?

Tipranavir disetujui di AS pada 2005 sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang terinfeksi HIV yang pernah memakai ART sebelumnya. Tipranavir belum diteliti pada orang yang baru mulai ART. Tipranavir yang dikuatkan dengan ritonavir seharusnya tidak dipakai sebagai bagian dari rejimen ART pertama.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Jika kita memakai tipranavir dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita sampai tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengembangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

Tipranavir dikembangkan secara khusus untuk mengendalikan HIV yang sudah resistan terhadap protease inhibitor lain. Oleh karena itu, kemungkinan tipranavir akan menunjukkan resistansi silang dengan protease inhibitor lain adalah rendah.

Bagaimana Tipranavir Dipakai?

Tipranavir dipakai sebagai kapsul lunak. Takaran normal untuk orang dewasa adalah 500mg plus ritonavir 200mg dengan dosis dua kali sehari. Kapsul mengandung 250mg, jadi kita harus memakai dua tablet tipranavir plus dua kapsul ritonavir dua kali sehari. Pada 2008, tipranavir dalam bentuk sirop disetujui di AS untuk orang dewasa dan anak berusia di atas dua tahun.

Tipranavir harus dipakai dengan makanan. Dengan cara ini, tingkat tipranavir dalam darah menjadi cukup tinggi. Makanan yang kaya lemak dapat meningkatkan tingkat tipranavir dalam darah.

Sebelum dibuka, botol tipranavir harus disimpan dalam kulkas. Setelah botol dibuka, kapsul dapat disimpan pada suhu ruang selama sampai 60 hari.

Apa Efek Samping Tipranavir?

Efek samping yang paling umum yang diakibatkan oleh tipranavir termasuk diare, mual, muntah, sakit perut, kelelahan dan sakit kepala. Perempuan yang memakai pil KB dapat mengalami ruam kulit.

Tipranavir dapat memburukkan masalah hati. Pasien dengan hepatitis B atau hepatitis C yang memakai tipranavir sebaiknya dipantau dengan hati-hati. Beberapa orang yang memakai tipranavir mengembangkan hepatitis, yang dapat menyebabkan kegagalan hati, walau jarang.

Kurang lebih 10% pasien mengembangkan ruam kulit atau kulit yang peka terhadap cahaya matahari, kadang kala dengan sakit sendi atau pegal, gatal-gatal, dan sesak pada tenggorok.

Tipranavir dapat menyebabkan peningkatan besar pada tingkat kolesterol dan trigliserida (lemak dalam darah). Lihat LI 123 untuk informasi mengenai lemak darah. Hal ini sedikitnya didorong oleh ritonavir yang dipakai bersama dengan tipranavir. Tingkat lemak darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Pastikan tingkat lemak dalam darah diukur sebelum kita mulai pakai tipranavir, dan kemudian secara berkala.

Pada 2006 beberapa kasus perdarahan dalam dilaporkan pada pasien yang memakai tipranavir. Beberapa kasus mengakibatkan kematian. Kita harus memberi tahu dokter bila kita mempunyai kelainan perdarahan.

Tipranavir adalah obat sulfa. Bila kita alergi terhadap obat sulfa, pastikan hal ini diketahui oleh dokter.

Bagaimana Tipranavir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Tipranavir dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat mengubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan mengakibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui.

Tipranavir menurunkan tingkat lopinavir (dalam Kaletra/Aluvia – lihat LI 446) dalam darah. Tipranavir tidak boleh dipakai bersamaan dengan Kaletra/Aluvia.

Obat lain yang harus diperhatikan termasuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), obat untuk disfungsi ereksi (mis. Viagra), obat yang mengendalikan denyut jantung (antiaritmia), dan obat sakit kepala migran. Interaksi juga dapat terjadi dengan beberapa antihistamin (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, dan obat antijamur. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Tipranavir meningkatkan tingkat midazolam (sejenis obat sedatif) dalam darah. Obat ini tidak boleh dipakai bersamaan dengan tipranavir kecuali dipantau dengan seksama.

Beberapa pil KB mungkin tidak bekerja bila dipakai bersamaan dengan tipranavir. Membahas cara KB yang terbaik untuk kita dengan dokter.

Tipranavir menurunkan tingkat metadon dalam darah. Waspadai tanda sedasi (penenang)berlebihan bila dipakai tipranavir bersamaan dengan buprenorfin.

Jamu St. John’s Wort (lihat FS 729) menurunkan tingkat beberapa protease inhibitor dalam darah. Jangan memakai jamu ini bersamaan dengan tipranavir.

Ditinjau 4 Desember 2013 berdasarkan FS 449 The AIDS InfoNet 18 September 2013