Lembaran Informasi 442 Diperbarui 10 Oktober 2009
Ritonavir Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Ritonavir Itu?

Ritonavir adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Obat ini juga dikenal sebagai Norvir, dan dibuat oleh Abbott Labo­ratories. Ritona­vir adalah protease inhi­bitor. Obat golongan ini men­cegah pe­kerjaan enzim pro­tease. Protease HIV bertindak seperti gunting kimia. Enzim ini memo­tong bahan baku HIV menjadi po­tongan khusus yang dibutuhkan untuk mem­bangun virus baru. Protease inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Ritonavir?

Ritonavir disetujui di AS pada 1996 sebagai obat anti­retroviral (ARV) untuk orang terinfeksi HIV. Obat ini diteli­tikan pada orang dewasa dan anak usia satu bulan ke atas.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai mema­kai ART. Kita dan dokter harus memper­timbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 mem­beri infor­masi lebih lanjut tentang pedoman peng­gunaan ART.

Jika kita memakai ritona­vir dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita sampai tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Penggunaan ritonavir menyebabkan hati kita bekerja lebih lamban. Hal ini dapat meningkatkan tingkat obat lain dalam darah, termasuk protease inhibitor lain. Pening­katan ini dapat mengakibatkan interaksi yang berbahaya dengan obat lain.

Ritonavir sekarang jarang dipakai sebagai protease inhibitor. Obat ini sangat sulit ditahan oleh pasien. Namun ritona­vir sering dipakai untuk mening­katkan tingkat atau menguatkan (boost) protease inhibitor lain dalam darah. Takaran yang dipakai untuk peningkatan ini jauh lebih rendah diban­dingkan takaran anti-HIV yang penuh, dan menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, se­bagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutasi. Kebanyakan mutasi langsung mati, tetapi beberapa di antara­nya terus menggan­da­kan diri, walaupun kita tetap mema­kai ART – mutasi tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengem­bangkan resis­tansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk infor­masi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita me­ngem­bangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resis­tansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkem­bang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

Bagaimana Ritonavir Dipakai?

Ritonavir disediakan dengan bentuk kapsul atau sirop. Takaran penuh (bila ritonavir dipakai tanpa protease inhibitor lain) adalah 600mg dengan dosis dua kali sehari. Untuk anak di atas usia satu bulan, ritonavir disetujui dengan takaran 350-400mg per meter persegi luas per­mukaan badan. Namun, sekarang ritonavir sangat jarang dipakai dengan dosis penuh.

Sekarang ritonavir lebih sering dipakai untuk memperkuat protease inhibi­tor lain dalam darah. Biasanya satu atau dua kapsul 100mg dipakai dengan setiap dosis. Penting kita mengetahui takaran ritonavir yang diresep­kan oleh dokter, dan cara peng­gunaannya.

Setiap kapsul Kaletra/Aluvia meng­andung ritonavir untuk menguatkan lopinavir (jenis protease inhibitor lain) (lihat LI 446).

Pada 1998, bentuk sirop ritonavir dikembangkan. Banyak orang mengang­gap rasa sirop sangat tidak enak. Namun beberapa orang mengang­gap bentuk sirop lebih cocok, terutama untuk anak. Jangan menyimpan sirop ritonavir dalam kulkas. Botol harus dikocok sebelum obat di­pakai.

Di apotek, kapsul ritonavir harus disimpan dalam kulkas. Di rumah, ritona­vir kapsul sebaik­nya disimpan di kulkas. Bila tidak mungkin disimpan dalam kulkas, ritona­vir harus disimpan pada suhu di bawah 25° Celcius dan dipakai dalam 30 hari.

Bila ritonavir dipakai oleh orang dewasa atau anak dengan dosis penuh (bukan untuk menguatkan protease inhibitor lain), takaran pada awal lebih rendah dan ditingkatkan secara berangsur selama beberapa hari untuk mengurangi efek samping.

Apa Efek Samping Ritonavir?

Efek samping paling berat dari ritona­vir adalah mual, muntah, kembung, dan diare. Beberapa orang juga meng­alami kesemutan atau mati rasa di sekitar mulut, atau rasa makanan menjadi aneh. Dalam uji coba klinis, sekitar sepertiga orang yang mema­kai ritonavir dengan dosis penuh harus berhenti memakainya akibat efek sam­ping. Namun ada jauh lebih sedikit efek samping bila ritona­vir dipakai dengan takaran rendah sebagai penguat.

Untuk banyak orang, efek samping ritonavir hanya berlanjut selama 2-4 minggu. Bila berlanjut lebih dari empat minggu, efek samping umumnya tidak pernah hilang.

Bagaimana Ritonavir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Ritonavir dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat meng­ubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan meng­akibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus dike­tahui.

Obat yang harus diper­hatikan ter­masuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), obat untuk disfungsi ereksi (mis. Viagra), obat yang mengendalikan denyut jantung (anti­aritmia), dan obat sakit kepala migran. Interaksi juga dapat terjadi dengan beberapa anti­histamin (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, dan obat anti­jamur. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Ritonavir mengurangi tingkat meta­don dalam darah. Perhatikan gejala sedasi (penenang) berlebihan bila obat ini dipakai bersama dengan bupre­norfin.

Beberapa pil KB mungkin tidak be­kerja jika kita memakai ritona­vir. Bicara dengan dokter tentang bagai­mana men­cegah kehamilan yang tidak direncana­kan.

Jamu St. John’s Wort (lihat LI 729) menurunkan tingkat beberapa jenis protease inhibitor dalam darah. Jangan pakai bersamaan dengan ritonavir.

Diperbarui 10 Oktober 2009 berdasarkan FS 442 The AIDS Infonet 7 Agustus 2009