Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 415 Diperbarui 7 April 2014
3TC (Lamivudin) Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa 3TC Itu?

3TC (Epivir) adalah obat yang dipakai untuk terapi antiretroviral (ART). Obat ini pertama kali dibuat oleh GlaxoSmithKline (GSK), tetapi sekarang tersedia dari beberapa produsen, termasuk di Indonesia. Versi Kimia Farma bernama Hiviral. 3TC juga dikenal sebagai lamivudin.

3TC termasuk golongan analog nukleosida atau nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI). Obat golongan ini menghambat enzim reverse transcriptase. Enzim ini mengubah bahan genetik (RNA) HIV menjadikannya bentuk DNA. Ini harus terjadi sebelum kode genetik HIV dapat dimasukkan ke kode genetik sel yang terinfeksi HIV.

Siapa Sebaiknya yang Memakai 3TC?

3TC disetujui pada 1995 sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang terinfeksi HIV. 3TC disetujui untuk dipakai oleh orang dewasa dan anak berusia di atas 3 bulan.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Jika kita memakai 3TC dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita pada tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bentuk 3TC yang berbeda disetujui untuk mengobati hepatitis B. Hepatitis B pada beberapa orang terinfeksi HIV menjadi lebih buruk setelah mereka berhenti penggunaan 3TC. Kita sebaiknya dites untuk hepatitis B sebelum kita mulai memakai 3TC untuk mengobati HIV. Bila kita hepatitis B dan berhenti memakai 3TC, fungsi hati kita (ALT – lihat LI 135) sebaiknya dipantau secara ketat oleh dokter.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja lagi. Hal ini disebut sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengembangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melewati atau mengurangi dosis.

3TC tampaknya mampu mengurangi resistansi terhadap AZT. Berarti, setelah kita mengembangkan resistansi terhadap AZT dan kemudian memakai 3TC, tampaknya AZT bekerja lebih baik.

Bagaimana 3TC Dipakai?

3TC disediakan berbentuk tablet dengan isi 150mg dan 300mg. 3TC juga tersedia dalam bentuk sirop. Dosis 3TC yang dianjurkan untuk dewasa adalah 300mg setiap hari: boleh satu tablet 300mg sehari, atau satu tablet 150mg dua kali sehari. Ada usulan agar takaran dikurangi untuk orang dengan berat badan di bawah 50kg, walau pengurangan ini jarang dilakukan.

3TC dapat dipakai dengan makanan atau antara makan.

Pastikan dokter mengetahui jika kita mengalami masalah ginjal; dosis 3TC mungkin harus dikurangi.

3TC juga tersedia sebagai gabungan 150mg dengan AZT (300mg) dalam satu pil. Nama pil ini tergantung pada produsen. Versi GSK bernama Combivir; dari Kimia Farma namanya Duviral (lihat LI 417). Beberapa produsen juga menyediakan versi gabungan 150mg 3TC dengan 30mg d4T dan 200mg nevirapine; kombinasi ini tersedia di Indonesia dari GPO Thailand dengan nama GPOVir, untuk diminum dua kali sehari. Kimia Farma dulu berencana membuat versi gabungan 150mg 3TC dengan 300mg AZT dan 200mg nevirapine dengan nama Triviral, tetapi status gabungan ini belum jelas.

GSK juga menyediakan versi gabungan 150mg 3TC dengan abacavir (300mg), dengan nama Epzicom, dan gabungan 150mg 3TC dengan AZT (300mg) dan abacavir (300mg), dengan nama Trizivir.

Apa Efek Samping 3TC?

Jika kita mulai memakai ART, kita mungkin mengalami efek samping sementara, misalnya sakit kepala, darah tinggi, atau seluruh badan terasa tidak enak. Efek samping ini biasanya lambat laun membaik atau hilang.

Efek samping 3TC yang paling umum adalah mual, muntah, kelelahan, dan sakit kepala. Beberapa orang mengalami masalah dengan tidur. Kadang-kadang orang mengalami kerontokan rambut, tetapi efek samping ini jarang terjadi.

Bagaimana 3TC Berinteraksi dengan Obat Lain?

3TC dapat berinteraksi dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat mengubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan mengakibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui.Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Oleh karena 3TC serupa dengan FTC (emtricitabine), tidak ada manfaat bila kedua obat ini dipakai bersamaan.

Tingkat 3TC dalam darah mungkin meningkat jika dipakai dengan kotrimoksazol. Lihat LI 535 mengenai obat ini.

Kombinasi 3TC + abacavir + tenofovir, atau 3TC + ddI + tenofovir dikaitkan dengan tingkat kegagalan terapi yang tinggi, dan sebaiknya tidak dipakai tanpa ARV lain.

Ditinjau 7 April 2014 berdasarkan FS 415 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014