Lembaran Informasi 404 Diperbarui 4 Juni 2008
Pedoman Nasional ART Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Pedoman ART Itu?

Pedoman nasional terapi antiretroviral (ART) diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI sebagai standar untuk para dokter mengenai cara menatalaksanakan ART di Indonesia. Pedoman dirancang berdasarkan usulan dari WHO dengan kesepakatan antara beberapa pakar di Indonesia.

Karena pengetahuan dan pengalaman mengenai ART berkembang terus-menerus, seharusnya pedoman sering diperbarui. Namun walau pedoman WHO diperbarui pada Agustus 2006, pedoman nasional belum diperbarui, dan masih berdasarkan pedoman WHO 2003. Oleh karena itu, beberapa hal baru tidak ditetapkan pada pedoman ART yang berlaku saat ini.

Tujuan ART

Menurut pedoman, tujuan ART adalah:

Apa Isi Pedoman ART?

Pedoman ART terutama mengatur:

Pedoman juga memberi pengarahan mengenai penggunaan ART oleh kelompok tertentu, termasuk perempuan hamil, pengguna narkoba, anak, dan orang koinfeksi HIV dan TB.

Stadium Klinis

WHO menetapkan empat stadium klinis HIV, sebagaimana berikut:

Lihat pedoman atau situs web Spiritia untuk definisi masing-masing stadium klinis. Ada definisi untuk orang dewasa/remaja, dan definisi khusus buat anak. Catatan: pada saat pedoman Indonesia ditebitkan, penyakit HIV pada anak hanya dibagi dengan tiga stadium; sejak itu WHO menetapkan empat stadium untuk anak, serupa dengan orang dewasa.

Kapan Mulai ART

Berdasarkan pedoman yang berlaku saat ini, Odha dewasa dan remaja memenuhi kriteria untuk mulai ART bila:

Harus ditekankan bahwa pedoman tidak mengharuskan tes CD4 sebelum mulai ART. Bila kita mengalami penyakit stadium 3 atau 4, kita boleh mulai ART walau tidak diketahui jumlah CD4. Lagi pula harus ditekankan bahwa tidak ada peraturan bahwa kita harus menunggu sampai jumlah CD4 di bawah 200. Bila kita mengalami penyakit stadium 3, kita boleh mulai dengan jumlah CD4 di bawah 350. Namun, Odha tanpa gejala hanya boleh mulai ART berdasarkan jumlah CD4 di bawah 200.

Berdasarkan pedoman terbaru dari WHO, anak di bawah usia lima tahun yang HIV-positif boleh mulai ART bila:

Ada satu persyaratan lagi: kita harus siap mulai. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu tetap patuh terhadap ART setelah kita mulai. Lihat Lembaran Informasi 405 mengenai kepatuhan terhadap ART. Untuk memastikan kesiapan untuk mulai, pedoman mengharuskan persiapan secara matang dengan konseling kepatuhan, sehingga kita faham benar akan manfaat, cara penggunaan, efek samping obat, tanda bahaya dan lain sebagainya yang terkait dengan ART.

Mulai dengan Rejimen Apa?

Kita mulai dengan rejimen lini pertama. Rejimen lini pertama terdiri dari tiga dari lima obat: (AZT atau d4T) + 3TC + (nevirapine atau efavirenz). Pilihan yang baku adalah AZT + 3TC + nevirapine. AZT + 3TC sering disediakan dalam satu pil yang mengandung kedua obat.

Ada tiga pilihan rejimen lain berdasarkan kelima obat ini. Mungkin dokter kita akan menganjurkan rejimen lain berdasarkan infeksi atau gejala lain yang kita alami. Rejimen lini pertama mungkin juga diubah akibat efek samping yang kita alami dengan rejimen awal.

Pemantauan ART

Menurut pedoman, ada beberapa tes laboratorium yang seharusnya dilakukan sebelum dan/atau setelah kita mulai ART. Tes utama yang dibutuhkan adalah tes Hb (untuk anemia, lihat LI 552) sebelum kita mulai dan secara bekala dalam beberapa bulan setelah kita mulai bila kita memakai AZT. Selain itu, perempuan seharus melakukan tes kehamilan sebelum mulai rejimen yang mengandung efavirenz. Hal ini diatur karena efavirenz dapat menyebabkan cacat janin, terutama bila dipakai pada triwulan pertama kehamilan.

Pedoman mengusulkan dilakukan tes CD4 sebelum mulai ART dan setiap 6-12 bulan setelah mulai untuk memantau keberhasilan. Namun tes ini tidak diharuskan.

Pedoman ART di Indonesia tidak menganjurkan dilakukan tes viral load atau tes resistansi sebagai persyaratan sebelum mulai atau sebagai tes pemantauan ART.

Alasan untuk Mengganti ART

Ada dua alasan untuk mengganti ART: efek samping yang tidak tertahan; dan kegagalan terapi. Kalau kita mengalami efek samping, mungkin kita harus mengganti satu obat dalam rejimen lini pertama dengan obat lain juga dari lini pertama. Dalam keadaan yang luar biasa, kita mungkin harus mengganti satu obat dari rejimen lini pertama dengan satu obat dari lini kedua.

Bila dokter menentukan bahwa terapi kita gagal, ditunjukkan oleh viral load menjadi terdeteksi, jumlah CD4 turun, atau kita mengalami infeksi oportunistik, kita harus berhenti memakai semua obat dalam rejimen lini pertama, dan akan dialihkan pada rejimen lini kedua dengan semua obat yang baru.

Pilihan Rejimen Lini Kedua

Saat ini, rejimen lini kedua terdiri dari tenofovir, ddI dan Kaletra/Aluvia. Tidak ada pilihan lain.

Diperbarui 4 Juni 2008 berdasarkan Pedoman Nasional ART 2004