info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242/43, (021) 2123-0595
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

PROFILAKSIS PRAPAJANAN

28 Agustus 2014 Pencegahan Penularan HIV

Apa Profilaksis Prapajanan (PPrP) Itu?

Profilaksis berarti pencegahan infeksi dengan obat. Pajanan adalah peristiwa yang menimbulkan risiko penularan. Jadi profilaksis prapajanan (atau PPrP) berarti penggunaan obat untuk mencegah infeksi sebelum terjadi peristiwa yang berisiko. Dalam bahasa Inggris, PPrP dikenal sebagai Pre-exposure prophylaxis atau PrEP. PPrP adalah pencegahan pilihan HIV yang baru untuk orang HIV-negatif untuk mengurangi risiko terinfeksi HIV. PPrP untuk pencegahan HIV terdiri dari penggunaan obat antiretroviral (ARV) oleh orang HIV-negatif untuk mengu- rangi risiko. Penelitian besar menunjuk- kan bahwa PPrP dapat membantu men- cegah infeksi HIV yang baru bila dipakai oleh orang yang berisiko tinggi tertular HIV.

Penelitian terhadap PPrP hanya dilaku- kan dengan penggunaan kombinasi Truvada (kombinasi tenofovir dan emtricitabine). Penelitian ini menun- jukkan penularan HIV menurun 90% setelah PPrP dipakai empat kali se- minggu, dan 99% bila dipakai sekali sehari. Belum ada informasi yang cukup mengenai penggunaan obat lain. Belum diketahui apakah obat lain atau jadwal dosis (misalnya beberapa kali seminggu mengganti setiap hari) mungkin juga menjadi cara yang baik untuk mengurangi risiko HIV.

Truvada sebagai PPrP diteliti pada orang yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV. Penelitian tersebut melibat- kan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria dan orang heteroseksual berisiko tinggi yang HIV- negatif. Hasil penelitian ini bermacam- macam, Penelitian menunjukkan bahwa PPrP paling efektif bagi orang yang benar-benar memakai obat setiap hari. Bagaimana PPrP Dipakai?

Saat ini PPrP terdiri dari satu tablet Truvada setiap hari. Truvada dapat dipakai dengan makanan, atau dengan perut kosong. Ada penelitian berke- lanjutan yang menguji coba obat lain untuk PPrP.

Truvada berisi dua obat, tenofovir (lihat Lembaran Informasi (LI) 420) dan emtricitabine (FTC, LI 419). Di Indo- nesia, kombinasi ini kadang tersedia dengan versi generik. Truvada dan versi generik hanya tersedia dengan resep.

Siapa Sebaiknya Pakai PPrP?

PPrP lebih dari sekadar minum pil ARV. FDA-AS telah mengeluarkan beberapa pedoman untuk penggunaan PPrP, ter- masuk satu untuk LSL dan satu lain untuk orang heteroseksual. Pedoman meng- usulkan beberapa persyaratan:

  • PPrP harus dipakai oleh orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV melalui kegiatan seksual
  • PPrP harus menjadi bagian dari prog- ram pencegahan HIV secara keselu- ruhan termasuk kondom dan konseling
  • Sebelum memakai PPrP, yang bersang- kutan harus dites HIV untuk memasti- kan bahwa dia tidak terlanjur terinfeksi HIV
  • Setiap pengguna PPrP harus dites HIV secara berkala untuk memastikan dia tidak terinfeksi.
  • Para calon pengguna PPrP juga harus diperiksa untuk kerusakan ginjal, hepatitis B dan infeksi menular seksual apa pun

PPrP juga dapat dipakai secara semen- tara oleh pasangan diskordan (satu terinfeksi HIV, yang lain tidak) yang ingin mempunyai anak – lihat LI 617. Namun penggunaan PPrP untuk hal ini belum disetujui.

Bagaimana Pengguna PPrP Dipantau?

Pedoman FDA-AS mengusulkan agar pengguna PPrP dipantau setiap 2-3 bulan untuk:

  • Dites untuk infeksi HIV
  • Diperiksa untuk efek samping Truvada
  • Diketahui apakah ada masalah me- makai PPrP setiap hari
  • Menguatkan pesan penggunaan kon- dom dan pencegahan lain

Apa Efek Samping PPrP

Efek samping yang paling umum ditemukan dalam uji coba terhadap Truvada sebagai PPrP termasuk sakit kepala, mual, muntah, ruam dan kehi- langan nafsu makan. Pada beberapa orang, tenofovir dapat meningkatkan

kreatinin dan ALT, enzim yang berhu- bungan dengan ginjal dan hati. Tingkat tinggi dapat menunjuk adanya kerusakan pada organ tersebut. Penggunaan teno- fovir jangka panjang dapat merusak ginjal.

Tenofovir dapat mengurangi kepadatan mineral tulang (lihat LI 557). Suplemen kalsium atau vitamin D dapat mengurangi masalah ini. Masalah tulang ini terutama berlaku untuk orang dengan osteopenia atau osteoporosis.

Tingkat asam laktik dalam darah (asidosis laktik, lihat LI 556) meningkat pada beberapa orang yang memakai tenofovir dan emtricitabine. Masalah hati, termasuk “hati berlemak” (LI 528) mungkin juga terjadi.

Dalam kasus yang jarang, pengguna emtricitabine dapat mengalami peru- bahan sementara pada warna kulit.

Apakah PPrP Berisiko?

Odha telah memakai Truvada, tenofovir dan emtricitabine, selama beberapa tahun. Obat ini umumnya mudah ditahan. Efek samping jangka panjang yang mungkin termasuk hilangnya kepadatan mineral tulang dan kerusakan ginjal.

Beberapa orang khawatir bahwa peng- guna PPrP mungkin menganggap bahwa mereka benar-benar dilindungi. Mereka mungkin kurang hati-hati tentang peri- laku seksualnya. Sejauh ini, kekhawatiran ini belum menjadi kenyataan.

Garis Dasar

Profilaksis prapajanan (PPrP) berarti penggunaan obat antiretroviral Truvada sebelum terinfeksi HIV, untuk mengu- rangi risiko infeksi HIV. Bila Truvada dipakai sebagai PPrP secara benar dan konsisten, tindakan ini dapat mengurangi angka infeksi HIV melalui kegiatan seksual sebanyak 90%.

Manfaat PPrP berpotensi sangat tinggi untuk mengurangi infeksi HIV yang baru pada orang yang menyadari risiko infeksinya dan mampu memakai Truvada untuk melindungi dirinya sendiri. Bebe- rapa orang takut PPrP dapat mendorong perilaku tidak aman, tapi hal ini belum terlihat. Namun jelas PPrP ini tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual lain.

 

 

 

Diperbarui 1 Oktober 2014 berdasarkan FS 160

The AIDS InfoNet 28 Agustus 2014

 

 

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: info@spiritia.or.id Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org