info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Penjangkauan dan pendampingan mitra Yayasan Spiritia dalam masa pandemi

25 November 2021 Referensi

Dampak COVID-19 pada Penanggulangan HIV sangat jelas terlihat dari berkurang/menurunnya capaian cakupan penemuan kasus. Akses (kunjungan) ODHIV ke layanan kesehatan akibat pembatasan kegiatan masyarakat seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah berdampak pada seluruh rangkaian kegiatan penemuan kasus (rujukan testing HIV), perawatan dan dukungan HIV. Oleh karena itu, diperlukan respon – respon khusus dalam pelayanan HIV selama masa pandemi COVID-19. Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan/protokol pelaksanaan layanan HIV AIDS selama masa pandemi COVID-19 untuk menjamin keberlangsungan pelayanan bagi ODHIV. Hal yang sama PR Komunitas HIV Yayasan Spiritia juga mengeluarkan kebijakan/protokol pelaksanaan kegiatan penjangkauan dan pendampingan yang dapat digunakan oleh petugas penjangkau dan petugas pendamping  bagi ODHIV dalam melakukan aktifitas dilapangan.

Dari hasil kunjungan supervisi ke daerah bertemu dengan para mitra Yayasan Spiritia terpotret beberapa situasi lapangan selama berlangsungnya PPKM sesuai level zona yang beragam pada beberapa wilayah dengan masih adanya Peluang bahwa tidak semua daerah masuk zona merah karena masih ada zona hijau sehingga memungkinkan aktifitas penjangkauan masih dapat dilaksanakan. Masih ada PL yang menyukai dengan pilihan kegiatan outreach secara off line agar dapat bertemu secara langsung klien. Beberapa daerah juga mengembangkan aplikasi pengiriman ARV yang dapat diakses oleh PS dan dampingan. Dan Yayasan Spiritia mengeluarkan SOP penjangkauan dan  pendampingan dalam merespon situasi pandemi Covid19 dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan PS melalui beberapa strategi pendampingan salah satunya dengan strategi virtual.  Ketidakpastian di beberapa daerah dengan zona merah sehingga  berlaku penyekatan dan pembatasan ruang gerak telah menyulitkan kegiatan penjangkauan dan pendampingan bagi ODHIV sehingga hasil capaian sempat terkontraksi selama berlangsungnya PPKM ditambah dengan adanya kebijakan dari layanan yang mewajibkan tes antigen bagi PL dan PS pada beberapa wilayah tanpa diberikan fasilitasi oleh Dinkes atau Layanan setempat. Kompleksitas situasi dibeberapa layanan masih fokus pada layanan COVID-19 sehingga layanan VCT terganggu bahkan pada beberapa wilayah lain sempat terhenti untuk sementara sehingga menyulitkan PL untuk melakukan proses rujukan test HIV dan pendampingan ODHIV  dalam mengakses ARV. Ketersediaan reagen pemeriksaan HIV R1 dan R2, kondom, pelicin dan jarum steril sebagai alat pendukung penjangkauan terjadi stock out sehingga  menambah beban aktifitas penjangkauan. Ketidak pastian dan kompleksitas ini sudah barang tentu mempengaruhi indikator capaian rujukan test HIV, pra ART, menyebabkan LTFU dan capaian Notifikasi Pasangan. Meski demikian peluang terobosan dengan adanya semangat teman-teman penjangkau dan pendamping yang  tinggi untuk melakukan kegiatan penjangkauan dan pendampingan dalam satu semangat untuk melayani sesamanya. Beberapa kegiatan yang tertuda karena berlakunya PPKM tidak boleh adanya pengumpulan orang yang berskala banyak masih dapat dilakukan re-programing kegiatan dan berapa layanan didaerah sangat fleksible dengan memberi fasilitas pengambilan obat untuk durasi atau stock 2 bulan kedepan.

Meski begitu, PL dan PS dilapangan  masih mengharapkan adanya penambahan capacity buillding berupa pelatihan bagaimana cara melakukan kegiatan dengan pendekatan virtual dan bagaimana mekanisme pencatatan dan pelaporan terus ditingkatkan kualitasnya. Hal ini dipermudah para mitra lembaga tetap  diberi kesempatan untuk mengatur mekanisme tata cara kerja menyesuaikan dengan situasi yang ada dengan catatan semua kegiatan dapat divalidasi hasil outputnya. Upaya koordinasi dengan pihak layanan dan Dinkes perlu terus diupayakan agar dapat mengakses beberapa resources seperrti APD, Multi Vitamin, akses test swab antigen, vaksin dan kebutuhan logistik.

Melihat situasi diatas ODHIV seyogyanya diupayakan seminimal mungkin datang ke fasyankes untuk menghindari paparan COVID-19. Upaya ini salah satunya dengan mendorong diterapkannya kebijakan pemberian obat ARV untuk 2-3 bulan dengan mempertimbangkan bagi ODHIV  yang sudah stabil dan secara selektif jika persediaan ARV dilayanan juga mencukupi. Pemberian ARV multi-month (2-3 bulan) tersebut dapat diprioritaskan bagi ODHIV yang tinggal di wilayah episentrum COVID-19. Sedangkan bagi ODHIV dengan infeksi oportunistik (IO), infeksi lanjut, atau baru pertama kali mendapat ARV, tetap diperlukan kontrol setiap bulan sehingga diperlukan kerja sama dengan komunitas pendukung/pendamping ODHIV untuk memastikan kondisi dan keberlangsungan pengobatan ARV pada ODHIV. Pemberian informasi tambahan dapat dilakukan melalui media komunikasi langsung agar ODHIV dan populasi kunci menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara berkelanjutan dan Protokol Kesehatan untuk mencegah COVID-19 dengan tetap patuh pada prokes.

 

Jakarta, November 2021

 

Yakub Gunawan - Yayasan Spiritia