info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Peningkatan HIV AIDS di Indonesia Disebabkan Rendahnya Pengetahuan

09 November 2021 Referensi

Merdeka.com - Pada tahun 2017 lalu, berdasar laporan Kementrian kesehatan RI, jumlah kasus HIV AIDS meningkat. Berdasar data tersebut, secara kumulatif terdapat 102.667 kasus AIDS dan 280.623 kasus HIV positif.

Potensi HIV AIDS ini disebut paling rentan menyerang penduduk usia muda terutama remaja. Jumlah usia muda ini berdasar hasil sensus tahun 2010 sekitar 25 persen dari total penduduk Indonesia.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sigit Priohutomo mengatakan, penyebab HIV AIDS meningkat karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).

Sigit memaparkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi terkait bagaimana cara melindungi diri dari perilaku seksual berisiko (seks bebas, narkoba suntik), pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual (PMS), dan seputar HIV AIDS masih kurang. Indeks pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sebesar 57,1 persen.

Data itu diambil dari Survei Kinerja Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) BKKBN Tahun 2018. Walaupun tergolong rendah, prevalensi tersebut naik dibanding tahun 2017. Indeks tahun 2017 sebesar 52,4 persen.

Untuk meningkatkan pengetahuan reproduksi remaja, sejak tahun 2000 BKKBN telah melaksanakan Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Dalam lima tahun terakhir, program KRR telah dikemas ulang dan saat ini dikenal dengan program Ketahanan Remaja dengan tagline Generasi Berencana, yang disingkat GenRe.

“Melalui GenRe, remaja dibina dan diarahkan untuk mampu menjalani masa transisi kehidupan remaja. Masa transisi yang dimaksud ada lima. Ini dikenalnya Lima Transisi Kehidupan (Five Life Transitions),” jelas Sigit dalam Seminar Nasional dalam Rangka Hari AIDS Sedunia di Hotel Horison, Jayapura beberapa hari lalu.

Masa transisi meliputi, melanjutkan sekolah (continue learning), mencari pekerjaan (start working), memulai kehidupan berkeluarga (form families), menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship), dan mempraktikkan hidup sehat (practice healthy life).

Sigit berharap, adanya ”GenRe” dapat membuat para remaja Indonesia dapat berperilaku positif untuk mendewasakan usia perkawinan pertama. Selain itu mereka diharap juga bebas dari TRIAD KRR (Tiga Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja, yaitu Seksualitas, HIV/AIDS, dan Napza).

Jika langkan BKKBN untuk membuat remaja terbebas dari tiga permasalahan ini, maka mereka diharap dapat menjadi remaja Indonesia dapat bertanggung jawab, berprestasi, dan berperilaku positif.