info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Sebagian Milenial Masih Percaya HIV Bisa Menular Lewat Pelukan

04 Oktober 2021 Referensi

KOMPAS.com - HIV (Human Immunodeficiency Viruses) adalah salah satu penyakit yang telah dikenal luas di seluruh dunia. Sayangnya, orang-orang dengan infeksi tersebut masih mengalami stigma, terutama di A.S., terlepas dari upaya puluhan tahun untuk menyebarkan kesadaran tentang bagaimana penyakit itu menyebar dan memengaruhi tubuh. Sebuah survei baru yang didukung oleh Merck dan Kampanye Akses Pencegahan menunjukkan bahwa 23 persen dari milenial HIV-negatif dan 41 persen Gen Z HIV-negatif sama sekali tidak diberitahu atau "hanya sedikit" diberi informasi terkait infeksi HIV. Kurangnya kesadaran tersebut, menyebabkan banyak orang menghindari interaksi sosial dengan pasien HIV. Sekitar 28 persen generasi milenial mengatakan mereka selama ini menghindari berpelukan, berbicara, atau pun berteman dengan orang dengan HIV.

Hampir 50 persen dari semua responden, berusia 18 hingga 36, percaya bahwa seseorang yang viral loadnya abnormal dapat menularkan HIV. Namun menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat, orang dengan HIV hanya dapat menularkan virus melalui kontak langsung dengan cairan tubuh tertentu, seperti darah dan air mani.

Temuan ini berasal dari survei online terhadap 1.596 orang milenial dan generasi Z di AS. Setengah dari responden telah didiagnosis dengan HIV. Menurut Bruce Richman, direktur eksekutif Kampanye Akses Pencegahan, laporan tersebut harus mengingatkan publik dan pemerintah bahwa krisis AIDS masih berlangsung. “Meskipun ada kemajuan ilmiah dan adanya advokasi dan pendidikan HIV selama puluhan tahun, para dewasa muda tampaknya tak mendapat pengetahuan secara efektif tentang pengetahuan dasar HIV,” katanya dalam sebuah pernyataan.

"Sudah waktunya untuk meningkatkan percakapan nyata tentang HIV dan kesehatan seksual di kalangan anak muda, dan membuat sesuatu yang inovatif dan menarik untuk mendidik dan memerangi stigma HIV." Chris, seorang konsultan berusia 32 tahun, adalah salah satu orang yang mengalami dampak stigma HIV. Dia mengatakan, dirinya mengalami diskriminasi meskipun tinggal di kota-kota di mana orang memiliki lebih banyak akses ke informasi. "Saya pergi ke dokter gigi di Atlanta, dan setelah mengisi formulir riwayat medis saya mendengar salah satu perawat mengatakan, mereka tidak akan menyentuh saya - bahkan dengan sarung tangan," kata Chris kepada NBC News. "Tak perlu dikatakan, aku pergi setelah berbicara kasar dengan dokter gigi di sana," lanjutnya. Meskipun komunitas kesehatan dan pemerintah menyebarkan informasi tentang HIV, Chris mengatakan bahwa ketidaktahuan masih ada di tengah masyarakat AS. Dan hal itu menjadi pengalaman buruk pada orang yang terinfeksi 20 hingga 30 tahun yang lalu, yang masih hidup dan sehat.

Survei ini diharapkan dapat mendukung kampanye pendidikan baru terkait HIV. Ini bertujuan untuk membantu kaum muda Amerika mendapat informasi yang benar tentang infeksi tersebut.

 

Editor Bestari Kumala Dewi