info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Situasi HIV/AIDS di Indonesia, Penambahan Kasus Baru Masih Meningkat

14 September 2021 Referensi

KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan bahwa kumulatif kasus HIV AIDS di Provinsi Jawa Barat sampai dengan tahun 2020 adalah 49.474 kasus dan untuk kumulatif AIDS sampai dengan tahun 2020 adalah 11.686 kasus. Kemudian capaian tes HIV menurut Kelompok risiko pada periode Januari hingga Juni 2021 di Jawa Barat ada 47.645 tes, dengan hasil positif HIV 1.253 kasus. Ada 27 layanan HIV di Jawa Barat yang selalu buka di masa pandemi, tapi jumlah kunjungan pelayanan ini dibatasi. Demikian juga dengan pemeriksaan tes yang terus dilakukan dan akses layanan obat ARV yang terus berjalan. "Selama pandemi ini di Jawa Barat memang terjadi penurunan (layanan HIV) karena adanya pembatasan (layanan). Ini untuk memastikan layanan tidak terganggu oleh potensi penularan Covid-19," kata Kang Emil dalam Webinar Kompas Talks Strategi Daerah Hadapi AIDS Selama Pandemi, Kamis (22/7/2021).

Untuk pemberian obat bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Ridwan Kamil berkata, selalu menegaskan kepada perangkat pemerintahannya untuk selalu memastikan ketersediaan obat dan bahan pangan lainnya untuk masyarakat tercukupi.

Dia mengatakan persediaan obat multi bulan ARV untuk ODHA hingga saat ini disediakan oleh pemerintahan pusat. "Saya berharap dari pusat tetap menjaga flow of supplye-nya, sehingga tugas provinsi mendistribusikan ke 27 kota/kabupaten (di Jawa Barat) bisa berlangsung dengan lancar," ungkap Ridwan Kamil. Ini baru di Jawa Barat, belum di daerah lain di Indonesia. Bagaimana situasi HIV/AIDS di Indonesia? Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menyebut bahwa orang dengan HIV secara global hingga 2020 tercatat 37,7 juta dengan rata-rata penambahan setiap tahun 1,5 juta kasus. Sementara itu, jumlah kematian tahunan karena HIV di seluruh dunia berkisar antara 480.000-1 juta, dengan rata-rata 680.000 orang tewas. "Kalau kita melihat dewasa paling banyak kasusnya, yakni mencapai 36 juta kasus, dan presentase laki-laki dan perempuan (yang terinfeksi HIV) setara," kata Nadia dalam acara yang sama.

Nadia mengingatkan, dunia menargetkan bahwa epidemi HIV/AIDS bisa berakhir pada 2030 dengan strategi triple 90 (90-90-90) pada 2020, yakni: 90 persen ODHA telah mengetahui status kondisi mereka 90 persen orang yang telah didiagnosa terinfeksi HIV mendapat terapi antiretroviral (ART). 90 persen dari penerima terapi ART telah mengalami penurunan jumlah virus hingga tidak terdeteksi lagi. Di Asia Tengagra, jumlah orang dengan HIV 1,6 juta dengan jumlah orang yang meninggal sebanyak 110.000 orang. Untuk di Indonesia, Nadia berkata, estimasi kasus HIV di Indonesia hingga 2020 adalah 543.100 orang. "Kita masih termasuk negara dengan kategori epidemi terkonsentrasi, kecuali untuk Papua dan Papua Barat," ungkap Nadia. "Kalau kita lihat, penambahan kasus baru HIV di Indonesia dari hasil modeling masih akan terus meningkat," imbuh dia.

Peningkatan kasus HIV ini terjadi pada perempuan dan laki-laki di populasi umum, pekerja seks, dan peningkatan besar pada kelompok populasi kunci lelaki seks lelaki (LSL). "Di tiga populasi ini yang kita melihat ada peningkatan infeksi baru secara signifikan sehingga bertambah kasusnya," ungkapnya.

Selain itu, Nadia juga mengatakan bahwa tren jumlah orang dengan HIV menurun. "Jadi memang ada tren peningkatan kasus baru, tetapi selama kita tetap berupaya meningkatkan aselerasi penemuan kasus dan pengobatan maka infeksi baru bisa kita tekan dan proyeksinya seperti ini (terjadi penurunan) meski tidkak signifikan." Tujuan global Nadia mengatakan, tujuan akhir dari strategi pengendalian HIV/AIDS secara global adalah 3 Zero yang bisa tercapai pada 2030. 3 Zero itu adalah: Zero new HIV infection atau tidak ada infeksi baru Zero Aids relate death atau tidak ada kematian yang berkaitan dengan AIDS Zero Discrimination atau tidak ada lagi diskriminasi bagi ODHA

"Di awal memang targetnya 90-90-90, dan sekarang kita akan mencoba mengadopsi menjadi 95-95-95. Dengan yang kita sebut sebagai STOP yaitu Suluh skrining, Temukan, Obati, dan Pertahankan," ungkap Nadia. Sementara untuk target utama Kemenkes dalam penanganan HIV/AIDS pada 2024 adalah: 90 persen ODHA mengetahui status kondisinya 60 persen on ARV yang sudah tersupresi 60 persen mendapatkan obat ARV Dengan target tersebut diharapkan Kemenkes dapat menurunkan angka insiden 0,18 per 1.000 penduduk. Sementara angka HIV, sifilis, dan hepatitis 50 per 100.000 penduduk.

Sekilas tentang HIV AIDS HIV dan AIDS adalah kondisi berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) sudah sangat parah. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi oportunistik yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Sederhananya, infeksi HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS. Jika infeksi virus ini dalam jangka panjang tidak diobati dengan tepat, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami AIDS.

Penulis Gloria Setyvani Putri | Editor Gloria Setyvani Putri