info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Keluhan Kesehatan Tidak Otomatis Terkait dengan HIV/AIDS

13 September 2021 Referensi

Jakarta - “Kenali Gejala HIV/AIDS Sejak Dini” Ini judul berita di Tagar, 2 Desember 2020. Banyak berita di media massa dan media online, bahkan posting-an di media sosial yang menyebutkan ‘gejala awal’ atau ‘gejala-gejala HIV/AIDS’. Karena tidak dipaparkan berdasarkan faktor risiko penularan HIV/AIDS, maka penyebutan gejala-gejala HIV/AIDS itu bisa membuat masyarakat panik, padahal gejala-gejala itu tidak otomatis terkait dengan infeksi HIV/AIDS.

Ini beberapa judul berita pada Hari AIDS Sedunia (HAS) tanggal 1 Desember 2020: Gejala Awal, Pencegahan dan Ciri-ciri Pengidap HIV dan AIDS, Kenali Tanda-tanda HIV AIDS, Inilah gejala dan tahapan dari tahun ke tahun infeksi HIV menjadi AIDS, Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya, Waspada, Ini Gejala Awal HIV yang Harus Anda Kenali!, dan lain-lain.

Secara medis tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri khas HIV/AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan karena tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri tersebut juga bisa terjadi karena infeksi penyakit lain.

1. Warga Pengidap HIV/AIDS yang Tidak Terdeteksi

Karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS jadi salah satu faktor yang membuat banyak orang tidak menyadari kalau dia sudah tertular HIV/AIDS. Akibatnya, orang-orang yang tidak menyadari dia mengidap HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual di dalam nikah (seperti kawin-cerai, beristri lebih dari satu) dan di luar nikah (zina, selingkuh, melacur, dll.).

Laporan terakhir Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), Kemenkes RI, tanggal 9 November 2020, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sampai 30 September 2020 sebanyak 537.730 yang terdiri atas 409.857 HIV dan 127.873 AIDS.

Sedangkan estimasi jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia 640.000 (aidsdatahub.org). Itu artinya ada 102.270 warga yang mengidap HIV/AIDS (Odha-Orang dengan HIV/AIDS) tapi tidak terdeteksi. Mereka inilah yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini terjadi karena tidak ada tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik warga yang mengidap HIV/AIDS.

Warga yang berjumlah 102.270 adalah pengidap HIV/AIDS, tapi karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS mereka pun tidak menyadari kalau mereka mengidap HIV/AIDS.

Celakanya, pemerintah tidak mempunyai program yang realitis untuk menemukan 102.270 pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi. Itu artinya mereka jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat tanpa mereka sadari.

2. Perilaku-perlaku Berisiko Tinggi Tertular HIV/AIDS

Kalau tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS, maka tidak semerta menunjukkan orang tersebut tertular atau mengidap HIV/AIDS. Soalnya, tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri tersebut bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS jika orang tersebut pernah atau sering melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:

(1) Laki-laki dan perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS;

(2) Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan orang-orang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS;

Yang perlu diperhatikan adalah PSK ada dua tipe, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan, dan

(b), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

(3) Pernah atau sering memakai jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) secara bersama-sama dengan bergiliran;

(4) Pernah atau sering menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV.

Biarpun ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS ada pada diri seseorang tapi dia tidak pernah melakukan salah satu atau lebih perilaku berisiko di atas, maka tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS sama sekali tidak ada kaitannya dengan infeksi HIV/AIDS pada orang tersebut.

Sebaliknya, biar pun tidak tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS pada diri seseorang, tapi dia pernah atau sering melakukan salah satu atau beberapa perilaku berisiko di atas itu artinya orang tersebut berisiko tertular HIV/AIDS. Langkah terbaik adalah menjalani tes HIV secara sukarela di sarana kesehatan pemerintah. []