info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Hari HIV/AIDS Sedunia, Mengenal Apa Itu Obat PrEP HIV dan Kegunaannya?

03 Juni 2021 Referensi

KOMPAS.com- Tepat hari ini, Senin (1/12/2020) diperingati sebagai hari HIV/AIDS sedunia, namun penularan penyakit ini masih dinilai sangat awam oleh banyak orang. Seringkali, penularan penyakit dari Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) masih dianggap kebanyakan orang sangat mudah, yakni dengan sentuhan. Padahal, penularan virus dari penyakit tersebut tidak demikian. Penularan HIV bisa terjadi melalui beragam cara, salah satunya melalui hubungan seksual. Namun, kini seiring dengan kemajuan teknologi medis, potensi penularan itu dapat dicegah, bahkan diminimalisir.

Salah satunya dengan penggunaan obat Pre-exposure prophylaxis (PrEP HIV), yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi HIV dengan minum pil setiap hari. Lantas apa itu obat PrEP HIV? Dikutip dari CDC, PrEP HIV adalah cara bagi orang yang tidak mengidap HIV (negatif HIV), namun berisiko sangat tinggi tertular virus ini, agar terhindar dari infeksi HIV dengan rutin meminum obat atau pil setiap hari. Jadi, apabila seseorang terpapar HIV saat melakukan hubungan seksual, maupun pengguna narkoba suntik, maka dengan rutin meminum pil, maka dia akan terlindungi dari risiko infeksi virus tersebut.

"Tapi syaratnya, orang yang minum pil ini, negatif HIV. Ada dua jenis obat yang dikonsumsi yakni tenofovir dan emtricitabine," kata dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi, Profesor Zubairi Djoerban saat dihubungi Kompas.com, Selasa (1/12/2020). Prof Zubairi menegaskan kedua obat tersebut harus diminum jangka panjang dan setiap hari. Sebab, perlindungan obat ini pada orang dengan negatif HIV baru akan muncul dalam beberapa minggu, sekitar 3-4 minggu. Sesuai dengan kegunaannya, PrEP HIV hanya digunakan pada orang tanpa HIV, yang berisiko tinggi terinfeksi HIV yang berpotensi terjadi saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, baik homoseksual, heteroseksual, maupun pengguna narkotika.

Diakui Prof Zubairi, di Indonesia, orang yang datang ke dokter atau rumah sakit untuk meminta obat tersebut tidaklah banyak. Kendati demikian, Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) ini mengatakan bahwa tidak sedikit orang yang kurang memahami penggunaan obat tersebut. "Banyak orang atau pasien yang datang meminta obat PrEP, dengan alasan telah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya dan ternyata pasangannya positif HIV. Kalau demikian, ini bukan pre-exposure, tetapi post-exposure," jelas Prof Zubairi.

Risiko penularan berkurang hingga 99 persen

Manfaat dari obat PrEP sangat besar dalam melindungi paparan infeksi HIV pada orang yang tidak memiliki virus tersebut, namun berisiko tinggi tertular.

"Untuk mengurangi penularan HIV, itu cukup banyak, bisa sampai 99 persen, kalau diminum setiap hari," kata Prof Zubairi.

Bagi pengguna narkoba, dengan rutin meminum obat PrEP HIV tersebut bisa mengurangi risiko penularan HIV hingga 74 persen. Akan tetapi, Prof Zubairi mengingatkan obat tersebut harus diminum setiap hari. Jika tidak teratur, maka daya perlindungan terhadap penularan HIV juga tidak akan terjadi. Kendati demikian, Prof Zubairi mengatakan daya perlindungan terhadap risiko penularan HIV yang terbentuk dari konsumsi obat PrEP pada setiap orang tidaklah sama.

"Baik pada orang homoseksual, heteroseksual maupun pengguna narkoba, daya perlindungan yang akan terbentuk berbeda-beda. Ada yang setelah 3 minggu, tetapi kalau sudah mencapai 4 minggu sudah pasti terlindung," jelas Prof Zubairi. Meskipun efektif mengurangi potensi penularan HIV, namun menurut CDC, PrEP tidak akan efektif jika tidak dikonsumsi secara konsisten. Sebab, PrEP HIV hanya melindungi terhadap HIV dan disarankan penggunaan kondom penting untuk perlindungan dari penyakit menular seksual lainnya. Kondom dinilai menjadi strategi pencegahan penularan HIV yang penting, jika obat PrEP HIV tidak dikonsumsi secara konsisten.